Minggu, 22 Juli 2018 | 10:03 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

/

Tony Abbott Samakan Aksi Perubahan Iklim dengan Sesembahan Gunung Berapi

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
(Courtesy: AustraliaPlus) Opposition Leader Tony Abbott speaks during the Coalition's election campaign launch in Brisbane on August 25, 2013.
(Courtesy: AustraliaPlus) Opposition Leader Tony Abbott speaks during the Coalition's election campaign launch in Brisbane on August 25, 2013.
<p>Mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim sama dengan tindakan orang-orang primitif yang mempersembahkan kambing untuk menenangkan dewa-dewa gunung berapi.</p><p>Hal itu disampaikan Abbott saat berbicara di forum Global Warming Policy Foundation di Inggris tadi malam.</p><p>Abbott berpendapat bahwa "Setidaknya sejauh ini justru kebijakan perubahan iklimlah yang menimbulkan kerugian, perubahan iklim itu sendiri mungkin menimbulkan kebaikan - atau setidaknya lebih banyak kebaikan daripada kerugian".</p><p>"Di kebanyakan negara, lebih banyak orang meninggal akibat kedinginan daripada akibat gelombang panas. Jadi peningkatan suhu global secara bertahap, terutama jika disertai dengan kemakmuran dan kapasitas yang lebih besar untuk beradaptasi terhadap perubahan justru bisa bermanfaat," katanya dalam pidato yang dia beri judul <em>Daring to Doubt</em>.</p><p>Pemerintah Australia telah mengisyaratkan kemungkinan tidak mengadopsi saran kepala saintis Alan Finkel dalam target energi bersih (CET). Abbott dalam pidatonya itu bersikeras "tidak boleh ada" CET.</p><p>Abbott mengatakan bahwa environmentalisme menggabungkan "naluri post-sosialis mengenai pemerintahan besar dengan nostalgia pasca-Kristiani untuk berkorban demi tujuan yang baik".</p><blockquote class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-blockquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Orang primitif pernah membunuh kambing untuk menenangkan dewa-dewa gunung berapi. Sekarang kita lebih canggih namun masih mengorbankan industri dan standar hidup kita kepada dewa-dewa iklim yang efeknya sangat minim,&quot; katanya.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </blockquote><p>Abbott menolak argumen bahwa sebagian besar ilmuwan menyakini perubahan iklim telah dibuktikan secara sains. Menurut dia, "klaim bahwa 99 persen ilmuwan yakin" adalah "seolah-olah kebenaran ilmiah ditentukan oleh jumlah suara bukannya fakta".</p><p>Dia kembali menyuarakan penolakannya terhadap energi terbarukan dengan alasan bahwa mungkin saja untuk memiliki "terlalu banyak hal baik".</p><p>"Satu-satunya pilihan rasional adalah mendahulukan pekerjaan dan standar hidup Australia. Menurunkan emisi namun hanya sejauh yang kita bisa tanpa menaikkan harga," katanya. Hal lainnya, kata Abbott, justru menjadi kelalaian tugas serta harapan kematian secara politik.</p><p>Dia menggambarkan realitas perubahan iklim sebagai suatu yang sangat sederhana. Namun konsekuensi dari kebijakan untuk mengatasinya sebagai "semakin mengerikan".</p><h2>Menghentikan kebijakan Australia</h2><p>Jurnalis ABC News di Biro London tidak diizinkan masuk ke tempat acara untuk mendengarkan pidato tersebut atau memberitakannya.</p><p>Dikatakan bahwa pidato tersebut adalah "acara non-media".</p><div class="comp-embedded-float-right"> <div class="comp-embedded-float-full" > <a href="#skipcontent7" class="access-hidden access-skip-link" title="Skip Twitter Tweet" onclick="WCMS.helpers.skipToContentFocus('skipcontent7')">Skip Twitter Tweet</a> <p class="access-hidden access-skip-notice">FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame. </p> <div class="view-twitter-tweet" id="twitter-tweet-embed8"> <div class="embed-container"></div> <script> WCMS.pluginCache.add('#twitter-tweet-embed8', 'socialOembedHelper' , { "postUrl": "https://publish.twitter.com/oembed?url=https://twitter.com/TonyAbbottMHR/status/917479332636901376", "requestMethod": "jsonp", "data": { "maxwidth": "", "maxheight": "" } }); </script> </div> <div id="skipcontent7"></div> <a href="http://www.abc.net.au/news/2017-10-10/tony-abbott-tweet/9033294" title="Tony Abbott tweet" class="page-link" > TWITTER: Tony Abbott tweet </a> </div></div><p>Namun, Abbott telah memposting tautan pidato lengkapnya ke akun Twitternya.</p><p>Senator Australia Peter Whish-Wilson dari Partai Hijau melalui Twitter menyebut Abbott "memalukan".</p><p>Jurubicara Partai Buruh urusan perbendaharaan negara Chris Bowen menilai pidato tersebut menjadi bukti nyata betapa Abbott berpikir "kita dapat menempatkan kepala kita di pasir" dan berpura-pura tidak terjadi perubahan iklim.</p><p>"Ini tahun 2017 dan mantan PM kita di luar negeri menolak sains tentang perubahan iklim dan ... dia menghendaki dihentikannya kebijakan Australia," katanya.</p><p>"Maksud saya, dia itu seperti rem tangan yang efektif bagi perdana menteri terpilih dalam menghentikan kebijakan yang masuk akal terkait perubahan iklim dan energi," katanya.</p><p>Dia mengatakan, "Malcolm Turnbull gagal besar dalam menghadapi para penyangkal perubahan iklim di partainya".</p><p>Pidato Abbott itu menyoroti perubahan posisinya dalam isu ini selama bertahun-tahun.</p><p>Pidatonya ini bertentangan dengan apa yang dia sampaikan pada tahun 2014 di KTT G20 di Brisbane.</p><p>Saat itu dia mengatakan bahwa "Australia selalu percaya bahwa perubahan iklim itu nyata, bahwa manusia berkontribusi dan tindakan kuat dan efektif untuk mengatasinya harus dilakukan".</p><p>Namun pidatonya di London mengingatkan kembali ucapannya pada pertemuan di Victoria tahun 2009 dimana dia mengatakan bahwa sains tentang perubahan iklim "omong kosong belaka".</p><h2>Risiko tanpa CET</h2><p>Tindakan Abbott semakin memperumit upaya Pemerintah pimpinan PM Turnbull untuk menyelesaikan kebijakan energi tahun ini.</p><p>Menteri Energi dan Lingkungan Australia Josh Frydenberg sekarang tiba-tiba berhenti berkomitmen CET.</p><p>Oliver Yates, mantan kepala Clean Energy Finance Corporation, memperingatkan Pemerintah Federal bahwa mereka membutuhkan sebuah CET.</p><p>Yates menilai tanpa kebijakan tersebut, listrik akan kurang dapat diandalkan karena pembangkit listrik tenaga batu bara yang lama akan terus digunakan lebih lama kemudian tidak lagi karena faktor usia mereka yang sudah lama.</p><p>"Pembangkit lama mungkin akan terus beroperasi dan ada kekurangan dalam pembangunan pembangkit energi terbarukan," kata Yates kepada Program Radio National Breakfast.</p><p>"Apa yang akan terjadi kemudian yaitu pembangkit listrik berumur 50 tahun yang akan tiba-tiba berhenti, mereka akan berhenti tanpa dapat diprediksi dan menyebabkan kekurangan pasokan listrik yang besar," ujarnya.</p><p>"Tanpa memiliki target untuk mendapatkan satu bentuk energi ke energi lain atau mengganti satu kapasitas dengan kapasitas baru, kita seperti mengemudikan mobil langsung menabrak tembok dan itulah yang akan terjadi jika kita tidak memiliki target."</p><p>Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News <a class="external" href="http://www.abc.net.au/news/2017-10-10/tony-abbott-says-action-on-climate-change-is-like-killing-goats/9033090" target="_blank" title="">di sini.</a></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kecelakaan | 22 Juli 2018 - 09:58 WIB

Petugas butuh 12 jam untuk evakuasi truk solar

Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 09:45 WIB

JCH lansia jadi prioritas utama haji di Tanah Suci

Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 09:33 WIB

Dirjen PAS: Kejadian di Sukamiskin masalah serius

Ekonomi | 22 Juli 2018 - 09:16 WIB

Harga telur di Sidoarjo kembali normal

Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 08:52 WIB

Tiga calhaj embarkasi Jakarta tertunda keberangkatannya

Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 08:34 WIB

Puskes Haji: Tangani jamaah pingsan dengan tenang

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com