Minggu, 17 Desember 2017

Tony Abbott Samakan Aksi Perubahan Iklim dengan Sesembahan Gunung Berapi

Selasa, 10 Oktober 2017 21:11

(Courtesy: AustraliaPlus) Opposition Leader Tony Abbott speaks during the Coalition's election campaign launch in Brisbane on August 25, 2013. (Courtesy: AustraliaPlus) Opposition Leader Tony Abbott speaks during the Coalition's election campaign launch in Brisbane on August 25, 2013.
Ayo berbagi!

Mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan kebijakan untuk mengatasi perubahan iklim sama dengan tindakan orang-orang primitif yang mempersembahkan kambing untuk menenangkan dewa-dewa gunung berapi.

Hal itu disampaikan Abbott saat berbicara di forum Global Warming Policy Foundation di Inggris tadi malam.

Abbott berpendapat bahwa "Setidaknya sejauh ini justru kebijakan perubahan iklimlah yang menimbulkan kerugian, perubahan iklim itu sendiri mungkin menimbulkan kebaikan - atau setidaknya lebih banyak kebaikan daripada kerugian".

"Di kebanyakan negara, lebih banyak orang meninggal akibat kedinginan daripada akibat gelombang panas. Jadi peningkatan suhu global secara bertahap, terutama jika disertai dengan kemakmuran dan kapasitas yang lebih besar untuk beradaptasi terhadap perubahan justru bisa bermanfaat," katanya dalam pidato yang dia beri judul Daring to Doubt.

Pemerintah Australia telah mengisyaratkan kemungkinan tidak mengadopsi saran kepala saintis Alan Finkel dalam target energi bersih (CET). Abbott dalam pidatonya itu bersikeras "tidak boleh ada" CET.

Abbott mengatakan bahwa environmentalisme menggabungkan "naluri post-sosialis mengenai pemerintahan besar dengan nostalgia pasca-Kristiani untuk berkorban demi tujuan yang baik".

"Orang primitif pernah membunuh kambing untuk menenangkan dewa-dewa gunung berapi. Sekarang kita lebih canggih namun masih mengorbankan industri dan standar hidup kita kepada dewa-dewa iklim yang efeknya sangat minim," katanya.

Abbott menolak argumen bahwa sebagian besar ilmuwan menyakini perubahan iklim telah dibuktikan secara sains. Menurut dia, "klaim bahwa 99 persen ilmuwan yakin" adalah "seolah-olah kebenaran ilmiah ditentukan oleh jumlah suara bukannya fakta".

Dia kembali menyuarakan penolakannya terhadap energi terbarukan dengan alasan bahwa mungkin saja untuk memiliki "terlalu banyak hal baik".

"Satu-satunya pilihan rasional adalah mendahulukan pekerjaan dan standar hidup Australia. Menurunkan emisi namun hanya sejauh yang kita bisa tanpa menaikkan harga," katanya. Hal lainnya, kata Abbott, justru menjadi kelalaian tugas serta harapan kematian secara politik.

Dia menggambarkan realitas perubahan iklim sebagai suatu yang sangat sederhana. Namun konsekuensi dari kebijakan untuk mengatasinya sebagai "semakin mengerikan".

Menghentikan kebijakan Australia

Jurnalis ABC News di Biro London tidak diizinkan masuk ke tempat acara untuk mendengarkan pidato tersebut atau memberitakannya.

Dikatakan bahwa pidato tersebut adalah "acara non-media".

Skip Twitter Tweet

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

TWITTER: Tony Abbott tweet

Namun, Abbott telah memposting tautan pidato lengkapnya ke akun Twitternya.

Senator Australia Peter Whish-Wilson dari Partai Hijau melalui Twitter menyebut Abbott "memalukan".

Jurubicara Partai Buruh urusan perbendaharaan negara Chris Bowen menilai pidato tersebut menjadi bukti nyata betapa Abbott berpikir "kita dapat menempatkan kepala kita di pasir" dan berpura-pura tidak terjadi perubahan iklim.

"Ini tahun 2017 dan mantan PM kita di luar negeri menolak sains tentang perubahan iklim dan ... dia menghendaki dihentikannya kebijakan Australia," katanya.

"Maksud saya, dia itu seperti rem tangan yang efektif bagi perdana menteri terpilih dalam menghentikan kebijakan yang masuk akal terkait perubahan iklim dan energi," katanya.

Dia mengatakan, "Malcolm Turnbull gagal besar dalam menghadapi para penyangkal perubahan iklim di partainya".

Pidato Abbott itu menyoroti perubahan posisinya dalam isu ini selama bertahun-tahun.

Pidatonya ini bertentangan dengan apa yang dia sampaikan pada tahun 2014 di KTT G20 di Brisbane.

Saat itu dia mengatakan bahwa "Australia selalu percaya bahwa perubahan iklim itu nyata, bahwa manusia berkontribusi dan tindakan kuat dan efektif untuk mengatasinya harus dilakukan".

Namun pidatonya di London mengingatkan kembali ucapannya pada pertemuan di Victoria tahun 2009 dimana dia mengatakan bahwa sains tentang perubahan iklim "omong kosong belaka".

Risiko tanpa CET

Tindakan Abbott semakin memperumit upaya Pemerintah pimpinan PM Turnbull untuk menyelesaikan kebijakan energi tahun ini.

Menteri Energi dan Lingkungan Australia Josh Frydenberg sekarang tiba-tiba berhenti berkomitmen CET.

Oliver Yates, mantan kepala Clean Energy Finance Corporation, memperingatkan Pemerintah Federal bahwa mereka membutuhkan sebuah CET.

Yates menilai tanpa kebijakan tersebut, listrik akan kurang dapat diandalkan karena pembangkit listrik tenaga batu bara yang lama akan terus digunakan lebih lama kemudian tidak lagi karena faktor usia mereka yang sudah lama.

"Pembangkit lama mungkin akan terus beroperasi dan ada kekurangan dalam pembangunan pembangkit energi terbarukan," kata Yates kepada Program Radio National Breakfast.

"Apa yang akan terjadi kemudian yaitu pembangkit listrik berumur 50 tahun yang akan tiba-tiba berhenti, mereka akan berhenti tanpa dapat diprediksi dan menyebabkan kekurangan pasokan listrik yang besar," ujarnya.

"Tanpa memiliki target untuk mendapatkan satu bentuk energi ke energi lain atau mengganti satu kapasitas dengan kapasitas baru, kita seperti mengemudikan mobil langsung menabrak tembok dan itulah yang akan terjadi jika kita tidak memiliki target."

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News di sini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar