Kamis, 14 Desember 2017

Jika Nilai Tukar Rupiah Mengalami Penurunan Lagi, Ini Dia Dampaknya

Rabu, 11 Oktober 2017 12:00

courtesy https://www.cermati.com/artikel/jika-nilai-tukar-rupiah-mengalami-penurunan-lagi-ini-dia-dampaknya courtesy https://www.cermati.com/artikel/jika-nilai-tukar-rupiah-mengalami-penurunan-lagi-ini-dia-dampaknya
Ayo berbagi!

Kekuatan mata uang sebuah negara ditandai dengan nilai tukar terhadap mata uang asing. Biasanya kita sering mendengar informasi tersebut dari media cetak maupun elektronik atau jika kita sering ke bank mata di salah satu papan pengumuman biasanya tercantum nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, misalnya USD 1 setara dengan Rp13.500. Makin tinggi nilai tukar mata uang sebuah negara identik dengan makin kuat ekonomi negara tersebut. Hal ini terkait dengan inflasi dan juga biasanya terkait dengan kenaikan harga barang.

Kenaikan harga barang-barang dalam periode waktu tertentu, yang dikenal sebagai inflasi, selalu berkaitan erat dengan nilai tukar. Bisa saja Rupiah melemah, muncul inflasi atau inflasi dulu baru harga mulai naik. Untuk memudahkan pemahaman, beberapa penjelasan di bawah ini bisa Anda jadikan pengetahuan tambahan.

Ilustrasi Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Inflasi

Ilustrasi pertama:

Saat nilai tukar Rupiah melemah, beberapa harga-harga barang impor akan meningkat.

Contoh:

Sebuah jeruk katakanlah harganya USD 3, saat nilai tukar Rupiah 1 USD = Rp10.000, maka jika Rupiah turun, misalnya USD 1 = Rp15.000 maka harga jeruk tersebut menjadi Rp45.000 yang sebelumnya Rp30.000.

Ilustrasi kedua:

Walaupun bukan barang impor, harga barang seperti tempe ikut naik juga saat Rupiah melemah.

Penjelasan:

Perlu disadari bahwa setiap barang produksi dalam negeri yang bahan bakunya impor maka akan ikut ketentuan harga pasar yang ditentukan oleh nilai tukar mata Rupiah kita terhadap mata uang asing, sehingga untuk kasus produksi  misalnya kecap, saus atau yang lainnya dimana bahan baku kedelai kita masih impor maka harga juga ikut naik jika nilai Rupiah turun.

Baca Juga: Pajak Barang Mewah, Hal-Hal yang Mesti Anda Ketahui

Kenapa Saat Inflasi Naik, Nilai Tukar Rupiah Melemah? Ini Penjelasannya!

rupiah indonesia
Rupiah Indonesia

Salah satu dampak inflasi adalah membuat biaya produksi barang di Indonesia menjadi tinggi. Hal ini membuat produsen terpaksa meningkatkan harga barangnya. Jika ini terjadi maka:

  • Turunnya permintaan akan barang ekspor sehingga penjualan makin lesu dan produsen banyak kehilangan order.
  • Persaingan makin tidak kompetitif dimana bisa jadi negara lain punya produk yang lebih murah akibat nilai tukar mereka lebih kuat dibanding Rupiah. Hal ini akan makin merugikan produsen kita.
  • Konsumen luar negeri biasanya menurunkan order aiat tidak mampu dengan harga yang ditawarkan.

Contoh:

Misalnya saja kita impor salah satu produk jeruk dimana harga jeruk saat kita beli adalah Rp20.000 dan setelah nilai tukar Rupiah jatuh maka harga jeruk akan naik misalnya saja jadi Rp25.000. Karena sudah terlanjur kebutuhan harian maka kita akan tetap beli namun frekuensinya jadi tidak sesering yang dulu lagi.

Dampak Lain Inflasi: Defisit Neraca Perdagangan

Neraca perdagangan atau neraca ekspor-impor adalah perbedaan antara nilai ekspor dan impor suatu negara pada periode tertentu, diukur menggunakan mata uang yang berlaku. Neraca positif artinya terjadi surplus perdagangan jika nilai ekspor lebih tinggi dari impor, dan sebaliknya untuk neraca negatif.

Jika terjadi inflasi maka bisa mengakibatkan defisit neraca perdagangan yang diakibatkan beberapa hal berikut ini:

  • Tidak stabilnya neraca impor dan ekspor membuat devisa kita tidak bertambah sebagai hasil dari rendahnya ekspor.
  • Jika ekspor kita rendah maka yang dirugikan adalah posisi devisa negara yang akan semakin turun jumlahnya
  • Penurunan nilai ekspor dalam jangka panjang juga akan membuat perekonomian semakin lesu, dimana produsen makin susah melepas barang produksinya.
 

Dampak Lanjutan Turunnya Nilai Rupiah: Terjadi PHK!

PHK
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Satu hal yang merisaukan akibat turunnya nilai tukar Rupiah dan inflasi berkepanjangan adalah munculnya pemutusan hubungan kerja. PHK menjadi mata rantai yang makin memperberat perekonomian nasional dan bisa terjadi dengan penyebab sebagai berikut:

  • Depresiasi Rupiah (turunnya nilai tukar Rupiah) berdampak pada ekspor dan impor
  • Saat terjadi depresiasi harga barang-barang impor meningkat karena nilai mata uang kita dibanding Dolar AS dan berbagai mata uang asing lainnya melorot
  • Pengguna barang impor harus membayar uang lebih besar untuk barang yang dibelinya, sedangkan sebagian dari barang yang diimpor Indonesia adalah barang modal, termasuk bahan baku, mesin pertanian, dan mesin-mesin untuk produksi manufaktur.
  • Di sisi lain, perusahaan juga harus membayar biaya produksi lainnya, seperti bunga pinjaman dan upah karyawan
  • Satu-satunya yang bisa dipangkas adalah biaya tenaga kerja. Artinya, perusahaan bisa jadi akan berhenti menaikkan gaji atau mengurangi bonus, atau malah memecat karyawan jika beban biaya produksi dinilai sudah terlalu tinggi.

Peran Pemerintah dalam Menjaga Nilai Tukar Rupiah

Biasanya ada kebijakan tertentu yang diterapkan untuk kontrol mata uang Rupiah agar tidak terlalu jatuh nilainya sehingga harga barang dalam negeri juga tidak sampai jatuh dan merugikan produsen maupun petani di dalam negeri.

Masyarakat awam juga bisa berperan dalam menjaga nilai tukar Rupiah. Salah satunya dengan memprioritaskan konsumsi barang made in Indonesia daripada barang impor. Barang produksi dalam negeri tidak kalah kualitasnya jika dibandingkan dengan produk impor.

Baca Juga: Pengertian Inflasi dan Cara Untuk Menghadapinya

Nilai Tukar dan Inflasi Terjadi karena Adanya Impor dan Ekspor

Ada hubungan erat antara nilai tukar dan inflasi terutama terjadi karena adanya impor dan ekspor. Neraca perdagangan antar negara sering jadi acuan keterkaitan satu negara ke negara lain karena memang saat ini tak ada satu negara pun yang bisa bertahan tanpa melakukan hubungan perdagangan dengan negara lain, termasuk Indonesia.

Karena ekspor dan impor menjadi sebuah keharusan maka yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mengendalikan ekspor dan impor agar mencapai titik keseimbangan tertentu. Jika tidak maka akan muncul defisit atau surplus di satu sisi yang berdampak munculnya inflasi.

Baca Juga: Harga Beras Makin Mahal, Simak Tips Belanja Hematnya!

 

Artikel disalin secara otomatis, Baca artikel aslinya di Cermati.com

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar