Selasa, 24 Oktober 2017

21 anak ikuti Program Sehari Jadi Menteri

Rabu, 11 Oktober 2017 22:25

Foto: www.tempo.co. Foto: www.tempo.co.
Ayo berbagi!

Sebanyak 21 anak dari Aceh hingga Papua mengikuti program "Sehari Menjadi Menteri" yang diadakan di Gedung Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta Pusat, Rabu (11/10).

Seperti dilaporkan Reporter elshinta, Asep Rosidin, acara tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang diwakili Deputi Tumbuh Kembang Anak, Lenny Rosalin.

“Di indikator, Kabupaten Kota layak anak ada 24 indikator. Indikator nomor 7 adalah tentang perkawinan anak, Stop perkawinan anak adalah ciri dari sebuah kabupaten atau kota yang layak anak adalah tidak ada perkawinan anak. Ini kerja berat, karena semua provinsi masih punya PR ini,” kata Lenny.

Lenny menambahkan, parlemen muda (21 anak yang mengikuti program tersebut) yang sudah aktif dan masuk ke dalam proses partisipasi anak melalui parlemen, kalau di forum anak menurutnya ada partisipasi anak untuk pembangunan.

"Ini bisa terintegrasi karena anak-anak mulai kita libatkan dari musyawarah perencanaan pembangunan desa. Ini yang juga jadi PR dari 12 Provinsi," kata Lenny.

Pencegahan terhadap perkawinan anak harus dimulai saat ini menurut Lenny, namun ia mengatakan bahwa jangan sampai pencegahan perkawinan anak tersebut terjadi setelah anak sudah drop off dari sekolah.

“Saya informasikan, tempat pembelajaran keluarga oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dibentuk ditingkat provinsi dan kabupaten kota, dilengkapi dengan tenaga professional berupa psikolog,” terangnya.

Menurutnya, adanya tempat pembelajaran keluarga tersebut mungkin menjadi satu-satunya lembaga yang gratis untuk memberikan pelayanan bagi keluarga tentang bagaimana keluarga-keluarga tersebut bisa belajar how to mature. "Bagaimana tumbuh kembang anak dan perawatan anak dari berbagai dimensi agar semua anak Indonesia dapat dipenuhi hak-haknya dan mereka kita lindungi dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi,” tandasnya.

Penulis: Frans Yuno.

Editor: Sigit Kurniawan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-SiK

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar