Selasa, 17 Oktober 2017

Di balik perjuangan kelompok militan Muslim Rohingya, ARSA

Kamis, 12 Oktober 2017 00:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Satu hal yang akan disetujui oleh semua orang yang mengamati nasib Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, adalah bahwa cepat atau lambat akan menjadi benih bagi perlawanan militan atas negara.

Serangan subuh pada Jumat (25/08) atas sekitar 30 pos polisi dan militer memicu oprasi militer yang kejam dari aparat keamanan Myanmar, yang menyebabkan lebih dari setengah juta umat Islam Rohingya mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh.

Dipimpin oleh Tentara Pembebasan Rohingya Arakan, ARSA, serangan itu membuktikan bahwa militansi mulai mengakar.

Namun srategi kelompok itu tampaknya masih amat buruk dan tidak didukung oleh semua orang Rohingya, menurut para pengungsi dan juga militan yang mengungsi ke Bangladesh.

Bahkan keterangan dari aparat keamanan Myanmar tentang serangan 25 Agustus tersebut memperlihatkan gerakan yang sederhana dan hampir seperti tindakan bunuh diri oleh sekelompok pria, yang sebagian besar bersenjatakan parang dan bambu runcing.

Salah satu serangan terbesar saat itu adalah atas pos polisi di Alel Than Kyaw, kota di pantai selatan Maungdaw, di negara bagian Rakhine.

Rakhine, Rohingya, Alel Than Kyaw
BBC
Kampung Alel Than Kyaw dibumihanguskan setelah serangan ARSA ke beberapa pos polisi dan militer pada 25 Agutus lalu.

Letnan (pol) Aung Kyaw Moe menjelaskan kepada rombongan wartawan -yang belakangan diizinkan berkunjung ke Rakhine- bahwa mereka mendapat informasi tentang rencana serangan dan semua aparat diminta untuk berlindung di dalam barak pada malam sebelumnya.

Pada pukul 04:00 subuh, jelasnya, dua kelompok yang terdiri dari sekitar 500 pria datang menyerbu dari arah pantai.

Mereka membunuh seorang petugas imigrasi yang rumahnya di dekat pantai namun dengan mudah dilumpuhkan oleh aparat polisi yang menggunakan senapan otomatis: 17 jenazah penyerang tertinggal.

Mobilisasi warga

Kisah yang sejalan dengan keterangan seorang pengungsi Rohingya yang saya temui di tempat penampungan di Bangladesh.

Ketika menceritakan bagaimana mereka terusir dari negara bagian Rakhine setelah serangan 25 Agustus, dia mengeluh tentang militan yang berupaya melibatkan kampungnya dalam untuk serangan-serangan tersebut.

Para militan mengambil ternak-ternak warga kampung, kenangnya, dengan janji akan membayarnya kembali jika Rohingya yang merdeka sudah berdiri.

Kaum muda di kampung juga diberi parang yang baru dan diminta untuk menyerang kantor polisi yang terdekat.

ARSA memiliki banyak senjata dan akan datang kembali untuk mendukung, begitulah kata para militan kepada mereka. Sekitar 25 pria dari kampungnya mengikuti arahan dan beberapa orang mati.

Tidak ada bantuan dari militan bersenjata, seperti yang dijanjikan.

Myanmar, PMin Aung Hlaing
EPA
Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, mengatakan tidak akan membiarkan negara kehilangan wilayah kepada yang disebutnya 'teroris ekstremis Bengali'

Di Bangladesh, saya kemudian berhasil bertemu dengan seorang pria muda berusia sekitar 20-an tahun, yang bergabung dengan ASRA empat tahun sebelumnya.

Dia mengenang pemimpin ARSA -Ataullah abu Ammar Jununi yang dikenal dengan Ata Ullah- datang ke kampungnya pada tahun 2013 dan mengatakan kepada mereka bahwa saatnya untuk bertempur melawan perlakuan buruk atas Rohingya.

Ullah meminta lima hingga 10 pria dari setiap komunitas. Sekelompok pria dari kampungnya dibawa ke hutan perbukitan, tempat mereka dilatih membuat bom rakitan, dengan menggunakan piston mobil bekas.

Warga kampung menjadi terdorong dan mulai membawa makanan serta pasokan lain untuk mendukung mereka yang sedang latihan. Dia pun akhirnya bergabung.

Mereka mulai berpatroli di sekitar kampung dengan bambu runcing dan memastikan semua orang bersembahyang ke masjid, namun, tegasnya, tidak pernah melihat senjata api.

Tanpa dukungan

Tanggal 25 Agustus dia mendengar tembakan dan melihat kebakaran dari kejauhan. Komandan ARSA setempat -'amir'nya, begitulah dia menyebutnya- datang dan mengatakan kepada mereka bahwa militer sedang dalam perjalanan ke kampung dan akan menyerang.

Maka mereka diperintahkan untuk menyerang lebih dulu, kamu toh akan mati juga, katanya, jadi matilah sebagai martir.

Sumber kami itu menjelaskan bahwa semua pria dari berbagai usia menggunakan pisau maupun bambu runcing menyerang tentara yang mendekat dan -tambahnya- sejumlah orang mati.

Setelah itu mereka melarikan diri ke sawah bersama keluarga, berupaya untuk pergi ke Bangladesh. Dalam perjalanan mengungsi tersebut, kenangnya, mereka juga mendapat gangguan dari pria Buddha.

Rohingya, Bangladesh
Reuters
Sekitar setengah umat Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar, mengungsi ke Bangladesh.

"Apa tujuan dari serangan yang sia-sia itu," tanyaku kepada pria muda itu.

Kami ingin mendapat perhatian dunia, katanya. Kami sudah terlalu menderita dan kami pikir tidak jadi masalah jika kami mati.

Dia membantah berhubungan dengan kelompok jihadis internasional karena berjuang untuk hak-hak mereka dan berupaya mendapat senjata dan amunisi dan militer Myanmar. Cuma itu, tambahnya.

Keterangan dia dan beberapa sumber lainnya menggambarkan sebuah gerakan yang berintikan beberapa ratus militan -mungkin dengan beberapa warga asing di dalamnya- serta ribuan pengikut yang tidak terlatih dan tidak bersenjata, yang bergabung dalam serangan pada menit-menit terakhir.

Gerakan nasionalis-etnis

Tanggal 25 Agustus, Ata Ullah -warga Rohingya kelahiran Pakistan yang mendirikan ARSA setelah rangkaian serangan kekerasan di Rakhine tahun 2012 lalu- menyebarkan video didampingi pejuang bersenjata yang mengenakan penutup wajah.

Di video tersebut dia mengatakan serangan-serangan pada hari itu merupakan aksi membela diri melawan yang disebutnya sebagai pembunuhan massal atas Rohingya.

Menurutnya, para pejuang tidak punya pilihan selain menyerang tentara Myanmar, yang 'mengelilili dan mengepung' kami.

Ullah juga meminta dukungan internasional dengan menyebut Arakan -nama lain untuk negara bagian Rakhine- sebagai tanah Rohingya.

Namun dia menegaskan bahwa ARSA tidak bersengketa dengan kelompok-kelompok etnis lain di Rakhine.

Tidak ada seruan solidaritas dari umat Muslim lain dan juga tidak menempatkan perjuangannya dalam kerangka jihad atau bagian dari perjuangan Islam global.

Pria itu memang dikenal sebagai orang yang curiga dengan kelompok-kelompok Islam lain dan tampaknya pada tahap ini tidak meminta bantuan mereka.

"Ata Ullah dan para juru bicaranya menegaskan bahwa mereka melihat diri mereka sebagai gerakan nasionalis-etnis," kata Anthony Davis, seorang pengamat politik yang tinggal di Bangkok.

"Mereka tidak punya kaitan dengan jihadisme internasional, ISIS atau al-Qaida. Mereka melihat perjuangannya sebagai merebut kembali hak-hak Rohingya di negara bagian Rakhie. Mereka bukan separatis dan bukan jihadis."

Bagaimanapun militer Myanmar berhasil menghadirkan mereka sebagai konspirasi yang didukung kekuatan luar negeri melawan penduduk Myanmar, sementara media tidak banyak melaporkan tentang eksodus besar-besaran umat Muslim Rohingya ke Bangladesh.

Sementara klaim Ata Ullah bahwa Rakhine adalah milik Rohingya ditanggapi oleh Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, awal bulan lalu, ketika dia memperingatkan bahwa militer tidak akan membiarkan negara kehilangan wilayah kepada yang disebutnya sebagai 'teroris ekstrmis Bengali'.

Jenderal Min menambahkan operasi militer di Rakhine untuk menangani 'urusan yang belum selesai sejak tahun 1942' -merujuk pada masa perang antara pasukan Inggris dan Jepang.

Menyeimbangkan penduduk?

Umat Muslim Rohingya dan pemeluk Buddha di Rakhine umumnya mendukung masing-masing kubu dalam konflik ini dan sebenarnya berlangsung pembunuhan oleh milisi dari kedua belah pihak sementara terjadi pergerakan penduduk besar-besaran.

Banyak warga Myanmar dan kaum nasionalis di Rakhine yang yakin bahwa jumlah orang di Rohingya meningkat karena kedatangan pendatang Bengali.

Dengan mengusir sekitar setengah penduduk Rohingya dari Rakhine dalam waktu empat pekan, 'operasi pembersihan' militer tampaknya akan menyeimbangkan penduduk kembali 'berpihak' kepada non-Muslim.

Rohingya, Bangladesh
EPA
Sebagian besar orang Rohingya di kamp penampungan di Bangladesh menyadari kehadiran ARSA.

Yang menimbulkan pertanyaan bagaimana ARSA akan berfungsi, karena hanya memiliki sedikit basis atau sama sekali tidak ada lagi di negara bagian Rakhine.

Melancarkan serangan dari perbatasan akan lebih sulit dan mungkin tidak akan ditolerir pemerintah Bangladesh -walau mereka marah dengan krisis pengungsi yang tumpah dari negara tetangganya.

Bangladesh selalu berhati-hati untuk menghindari konflik di perbatasannya yang panjang dan terbuka.

Informan kami mengatakan dia masih menjalin kontak teratur dengan 'amir' dan para pemimpin ARSA di Bangladesh walau tidak pernah berhubungan dengan Ata Ullah.

Dia tidak tahu yang akan dilakukan berikutnya. Sebagian besar orang di kamp penampungan di Bangladesh menyadari kehadiran ARSA dan beberapa tampak tegang atau berbicara pelan jika menyangkut kelompok itu.

Laporang-laporan yang bisa dipercaya menyebutkan sejumlah informan dibunuh oleh ARSA beberapa bulan menjelang serangan Agustus.

Bagaimanapun menyebar juga pujian atas satu-satunya kelompok Rohingya yang berjuang menghadapi militer Myanmar sejak masa 1950-an.

"Kini amat tergantung pada sikap Bangladesh," kata Anthony Davis.

"Mereka mungkin memlih untuk menutup perbatasan. Atau mungkin ingin punya kendali tertentu atas ARSA dengan memberi bantuan-bantuan mendasar, daripada membiarkan kelompok-kelompok Islamis, dari Bangladesh atau luar negei, masuk dan mengisi kekosongan."

"Ada beberapa contoh di tempat lain tentang dinas intelijen militer yang menggunakan gerakan pemberontakan untuk memberi takanan lintas batas kepada negara tetangganya."

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar