Kamis, 19 Oktober 2017

Data jet tempur dan Angkatan Laut Australia diretas

Kamis, 12 Oktober 2017 16:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Informasi sensitif tentang program pertahanan Australia telah dicuri dalam suatu operasi peretasan yang 'ekstensif.'

Sekitar 30GB data di sebuah kontraktor pemerintah bocor diretas, antara lain meliputi rincian tentang pesawat tempur baru dan kapal angkatan laut.

Data itu sensitif secara komersial namun tidak tergolong rahasia, kata pemerintah. Sejauh ini tidak diketahui apakah ada negara asing yang terlibat.

Pejabat keamanan siber Australia menjuluki peretas misterius itu sebagai 'Alf,' -diambil dari nama seorang tokoh peretas di serial teve Home and Away.

Kebocoran tersebut bermula pada bulan Juli tahun lalu, namun Australian Signals Directorate (ASD) baru diberitahu pada November 2016. Identitas si peretas tidak diketahui.

"Bisa jadi pelakunya aktor negara, atau aktor non-negara. Bisa jadi seseorang yang bekerja untuk perusahaan lain," kata Menteri Industri Pertahanan, Christopher Pyne kepada Australian Broadcasting Corp.

Pyne mengatakan bahwa dia diyakinkan bahwa pencurian tersebut tidak membahayakan terhadap keamanan nasional.

Kelemahan piranti lunak

Peretasan itu berlangsung 'ekstensif dan ekstrem' kata Mitchell Clarke, oleh manajer respon insiden ASD.

Yang diretas antara lain informasi tentang program pesawat tempur Joint Strike Fighter Australia seharga A$17 miliar (Rp165 triliun), pesawat angkut C130 dan pesawat pengintai P-8 Poseidon Australia, dan juga sejumlah 'kapal angkatan laut,' katanya.

Dalam sebuah konferensi keamanan di Sydney, Clarke mengatakan bahwa peretas tersebut mengeksploitasi kelemahan dalam piranti lunak yang digunakan oleh kontraktor pemerintah. Piranti lunak ini belum diperbarui selama 12 bulan terakhir ini.

Kelemahan lain, adalah bahwa kata sandi atau password yang digunakan perusahaan rekayasa kedirgantaraan itu adalah password bawaan asal, dan tidak diubah, katanya.

"Untungnya, data yang diambil adalah data komersial, bukan data militer, tapi masih sangat serius dan kami akan menanganinya hingga tuntas, kata Menteri Industri Pertahanan, Christopher Pyne.

Anggaran militer akan meningkat sebesar A$29,9 miliar selama 10 tahun, meliputi antara lain pembelian 72 Joint Strike Fighters.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar