Sabtu, 25 November 2017

Pemimpin Hizbullah tuduh Arab Saudi 'mendeklarasikan perang' terhadap Lebanon

Sabtu, 11 November 2017 11:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Pemimpin Hizbullah Nasrallah
AFP
Pemimpin Hizbullah Nasrallah mengatakan PM Hariri dipaksa mundur oleh Arab Saudi.

Pemimpin Hizbullah Lebanon telah menuduh Arab Saudi mendeklarasikan perang terhadap negaranya, beberapa hari setelah Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri mengumumkan pengunduran dirinya di ibukota Saudi.

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga menuduh Arab Saudi telah menahan Hariri yang berlawanan dengan keinginannya.

Dalam sebuah siaran televisi pada Jumat (10/11), pemimpin Hizbullah, Nasrallah mengatakan Arab Saudi berupaya untuk memprovokasi peperangan diantara warga Lebanon.

"Singkatnya, sangat jelas bahwa Arab Saudi dan pejabat Saudi telah mendeklarasikan perang di Lebanon dan terhadap Hizbullah di Lebanon, tetapi saya harus mengatakan ini merupakan sebuah perang terhadap Lebanon," kata dia.

Nasrallah juga menuduh Arab Saudi bersiap untuk membayar "milliaran" kepada Israel untuk melakukan serangan militer terhadap Lebanon, dengan menggambarkan tindakan itu sebagai "sesuatu yang sangat berbahaya".

Pada akhir pekan, pemimpin Hizbullah mengatakan bahwa PM Hariri dipaksa untuk mengundurkan diri oleh Saudi, tetapi dia mengulangi tuduhan pada Jumat lalu, dengan mengatakan sekarang "tidak dapat diragukan lagi".

Menurut dia, Arab Saudi berupaya untuk menyingkirkan Hariri sebagai perdana menteri dan mendorong kepemimpinan baru dalam gerakan politiknya.

Editor BBC untuk urusan Timur Tengah Sebastian Usher mengatakan bahwa kata-kata Nasrallah disampaikan dengan tenang seperti biasanya- tetapi mereka dipastikan akan meningkatkan ketegangan di kawasan yang negara-negaranya tengah berupaya untuk meredakan krisis.

Dia juga menuduh orang Saudi menghasut Israel untuk menentang Lebanon.

Gerakan Syiah Hizbullah yang memiliki kekuatan besar ini merupakan sekutu Iran, yang selama menganggap Saudi memicu ketengangan di Lebanon dan wilayah Timur Tengah.

Hariri mundur

Dalam siaran TV dari Riyadh pada Sabtu (04/11), Hariri mengatakan dia mundur dari jabatannya karena mendapatkan ancamanan yang tidak spesifik terhadap nyawanya. Dalam pernyataan itu Hariri juga menyerang Hizbullah dan Iran.

Bagaimanapun, Presiden Lebanon Michel Aoun dan politisi senior lainnya meminta Hariri kembali ke negaranya, ditengah kecurigaan bahwa dia telah dikenakan tahanan rumah oleh Saudi dan dipaksa untuk melalukan tawaran mereka.

Presiden Aoun tidak menerima pengunduran diri Hariri.

Setelah pengumuman pengunduran dirinya, Hariri masih belum menyampaikan pernyataan kepada publik.

Hariri
EPA
Hariri (kiri) tampak bertemu dengan Raja Arab Saudi pada Senin (06/11).

Bagaimana reaksi komunitas internasional?

Ada kekhawatiran Lebanon akan terlibat lebih jauh dalam konfrontasi antara Arab Saudi dan Iran.

Ketegangan antara tiga negara itu telah meningkat sejak PM Hariri mengumumkan pengunduran dirinya.

Tetapi Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson menyatakan menentang penggunaan Lebanon untuk sebuah konflik proxy dan menambahkan bahwa AS sangat mendukung kemerdekaan Lebanon.

Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa konflik baru di wilayah itu akan menimbulkan "konsekuensi yang menghancurkan".

Pada Kamis, Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan kunjungan tak terduga ke Arab Saudi, untuk menekankan pentingnya stabilitas di Lebanon kepada pemimpin Arab Saudi.

Prancis memiliki ikatan historis dengan Lebanon, sebagai bekas wilayah kolonialnya sebelum meraih kemerdekaan selama Perang Dunia Kedua.

Sebelumnya pada Kamis (09/11), Arab Saudi dan sekutunya di Teluk mengatakan pada warga negara mereka di Lebanon untuk segera meninggalkan negera tersebut.

Langkah itu dilakukan setelah Riyadh menuduh Iran telah melakukan "agresi militer langsung", dengan mengatakan negara itu memasok rudal yang ditembakkan oleh Hizbullah ke arah Riyadh dari Yaman pada Sabtu lalu.

Iran menbantah tuduhan Saudi sebagai " tidak benar dan berbahaya".

Bagaimana sikap AS?

Oleh Barbara Plett, Koresponden BBC di Departemen Luar Negeri AS

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan bahwa menteri luar negeri Arab Saudi telah meyakinkan dia bahwa Riyadh tidak memaksa Saad al-Hariri untuk mundur, dan bahwa tidak ada indikasi Hariri telah ditahan diluar keinginannya.

Tetapi dia mendorong perdana menteri untuk kembali ke Lebanon dan mengklarifikasi situasi jadi pemerintahan dapat berjalan. Selain itu Menlu AS juga menyampaikan kekhawatirannya krisis ini akan mempengaruhi stabilitas dalam koalisi yang rapuh.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar