Jumat, 24 November 2017

Penyakit padi yang disebabkan virus

Sabtu, 11 November 2017 10:54

Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2Aw6cpY Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2Aw6cpY
Ayo berbagi!

Virus kerdil akhir-akhir ini ramai diperbincangkan masyarakat petani umumnya baru sebatas akibat yang ditimbulkan saja.

Banyak istilah yang mereka gunakan untuk menyebut jenis virus ini. Sebagian petani di pantura menyebutnya penyakit klowor, dan ada juga yang menyebutnya dengan penyakit mejen.

Kedua istilah itu sebenarnya sama dan jika dilihat dari kondisi tanaman yang terserang tidak ada yang membedakan baik dari gejala dan akibat yang ditimbulkan.

Petani memberi nama biasanya spontanitas, sebatas nama sebutan sesuai istilah bahasa di daerahnya dan tolok ukurnya disesuaikan dengan kondisi fisik tanaman yang terserang.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan, Kementan) terus melakukan upaya untuk memberikan pemahaman kepada petani/pelaku usaha tani padi tentang aspek-aspek berkaitan dengan penyakit tersebut.

Minimnya pengetahuan tentang pengendalian penyakit tersebut mengakibatkan banyak tanaman padi terserang yang sengaja didiamkan tanpa ada tindakan pengendalian.

Masih banyak petani yang belum memahami tentang cara pengendalian penyakit virus yang ditularkan oleh wereng batang coklat tersebut. 

Yang perlu digarisbawahi terkait penyakit padi yang disebabkan oleh virus adalah penyakit kerdil ditularkan wereng batang coklat tersebut tidak dapat disembuhkan.

Penyakit virus bersifat sistemik sehingga tanaman padi yang sudah terinfeksi selain tidak akan menghasilkan.  Virus juga tidak akan hilang sampai tanaman tersebut dimusnahkan (mati).

Singgang yang tumbuh dari sisa tanaman yang telah dipotong akan menjadi sumber inokulum bagi pertanaman sehat disekitarnya. Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisiologi pada singgang tanaman sakit yang baru tumbuh, perkembangan virus akan kembali terjadi sehingga mempunyai tingkat efektivitas yang tinggi sebagai sumber inokulum setara dengan tanaman muda yang sakit.

Oleh karena itu, Kepala BB Padi Dr. Moh. Ismail Wahab, meminta kepada para peneliti hama penyakit terus memberikan pemahaman kepada petani bahwa tanaman sakit yang ditemukan di lapangan harus dimusnahkan secepat mungkin. Sebaiknya tanaman sakit dimusnahkan dengan cara dibebeskan ke dalam tanah sehingga benar-benar mati dan tidak muncul diatas permukaan tanah kembali.

Perlu disampaikan pula tentang peran penting dari monitoring keberadaan hama khususnya wereng coklat dan sumber inokulum virus.

Dr. Suprihanto selaku peneliti penyakit BB Padi menambahkan bahwa perlu kewaspadaan terhadap akan datangnya penyakit virus tersebut, dan harus dimulai sejak ditemukannya wereng migran (generasi 0 atau G0).

Munculnya Wereng G0 atau paling lambat pada generasi pertama (G1) harus segera dilakukan pengendalian apalagi jika diketahui atau ditemukan adanya sumber inokulum.

Informasi bahwa virus kerdil hampa dan kerdil rumput bersifat persisten, artinya bahwa wereng yang telah menghisap pada tanaman sakit akan selalu dapat menularkan kepada tanaman sehat selama hidupnya, apalagi untuk wereng coklat bersayap (makroptera) yang tentunya aktif bergerak dari satu tanaman ke tanaman lainnya.

Pertanaman yang tidak serempak dalam satu areal hamparan yang sama akan menyebabkan keberadaan wereng coklat maupun penyakit virus yang selalu ada.

Informasi lain yang perlu diketahui petani adalah bahwa beberapa jenis gulma juga dapat menjadi inang alternatif bagi wereng coklat maupun virus yang ditularkannya, terutama dari jenis Gramineae (rumput-rumputan) dan Cyperaceae (teki-tekian).

Berkaitan dengan hal tersebut, maka sanitasi lahan sebelum tanam perlu dilakukan selain terhadap sisa-sisa tanaman padi sebelumnya juga terhadap gulma-gulma.

Beberapa kesalahan yang selama ini sering terjadi menyebabkan serangan wereng dan virus menjadi semakin sulit dikendalikan. Penanaman padi yang tidak serempak dalam hamparan yang sama adalah suatu kesalahan yang paling banyak terjadi. Hal ini terjadi terutama  di daerah-daerah dengan irigasi yang selalu tersedia. Keberadaan air yang selalu tersedia memicu penanaman padi yang tidak serempak, bahkan penanaman padi dilakukan terus-menerus tanpa jeda dan tanpa rotasi dengan tanaman lain, sehingga keberadaan hama terutama wereng coklat dan penyakit virus yang ditularkannya selalu ada dan berkembang.

Kesalahan lain yang banyak dilakukan adalah dengan membuat pembibitan di tempat sumber inokulum berada. Kebanyakan petani membuat pembibitan dengan cara menyulik, yaitu ketika pertanaman masih stadia pemasakan, petani sudah mengambil sebagian lahannya untuk pembibitan. Hal ini dilakukan tanpa melihat kondisi pertanaman sebelumnya.

Pada kondisi pertanaman sebelumnya yang terserang wereng coklat bahkan dengan populasi tinggi dan adanya sumber inokulum virus yang juga tinggi, petani tetap melakukan pembibitan dengan cara tersebut. Bahkan dari cara pembibitan yang seperti itu, beberapa petani memperjual-belikan bibit yang dihasilkannya sehingga penyebaran wereng coklat dan penyakit virus semakin meluas dengan cepat.

Beberapa daerah mempunyai preferensi yang sangat tinggi terhadap satu varietas padi meskipun tidak mempunyai latar belakang ketahanan terhadap hama utama khususnya wereng coklat dan penyakit virus.

Lebih lanjut Suprihanto mengatakan, sebagai contoh  di daerah Binong-Subang, preferensi yang tinggi petani untuk selalu menanam padi Ketan Grendel secara terus menerus pada lahan yang sama. Kondisi inilah yang memicu populasi wereng maupun intensitas penyakit virus yang semakin tinggi, ucap Suprihanto.

Pada daerah yang sudah endemis wereng coklat dan virus kerdil yang ditularkannya akan dapat ditekan jika menggunakan  varietas tahan baik tahan terhadap wereng coklatnya ataupun tahan terhadap virusnya.

Kesalahan lain yang banyak dilakukan petani adalah membiarkan pertanaman sakit dan enggan melakukan eradikasi meskipun kondisi serangan sudah sangat parah. Beberapa petani enggan melakukan eradikasi tanaman sakitnya dengan alasan wereng coklatnya sudah tidak ada (sudah dikendalikan), padahal jika dilihat penyakit virusnya sudah sangat tinggi intensitasnya. Bahkan  tak jarang pertanaman yang sudah jelas-jelas terserang virus dilakukan pemupukan dengan harapan akan menghijau kembali.

Alasan lain mengapa petani enggan mengeradikasi pertanaman yang terinfeksi adalah karena memerlukan biaya dan tenaga yang menurutnya sis-sia, padahal dengan membiarkan pertanamannya yang sudah sakit parah tersebut sama artinya menyediakan sumber inokulum bagi pertanaman padi sekitarnya termasuk pertanamannya sendiri pada musim tanam berikutnya.

Hal sama juga terjadi pada pembiaran sisa tanaman sebelumnya yang berupa singgang-singgang tanaman sakit ketika lahan tetangganya sudah mulai tanam, sehingga sama artinya memindahkan wereng coklat dan virus kepada pertanaman berikutnya.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah ketika pengendalian menggunakan insektisida.

Seringkali petani menggunakan insektisida yang tidak tepat. Tidak semua insektisida cocok untuk pengendalian wereng coklat, bahkan beberapa bahan aktif insektisida dapat menyebabkan terjadinya resistensi ataupun resurjensi.

Banyak petani yang melakukan kesalahan dengan mencampur beberapa pestisida sekaligus. Anggapan petani adalah bahwa campuran beberapa pestisida akan lebih manjur membunuh hama.

Pada saat aplikasi insektisida, kesalahan yang sering dilakukan petani adalah tidak tepat sasaran. Petani mengaplikasikan insektisida untuk wereng batang coklat pada bagian atas tajuk pertanaman, sedangkan wereng coklat posisinya berada pada batang tanaman padi, apalagi jenis racun yang diaplikasikan adalah racun kontak. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar