Sabtu, 25 November 2017

Dinkes Bali ingatkan masyarakat waspada demam berdarah

Minggu, 12 November 2017 15:56

Ilustrasi. Foto: Elshinta.com Ilustrasi. Foto: Elshinta.com
Ayo berbagi!

Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengingatkan masyarakat setempat untuk tetap mewaspadai dan berhati-hati dengan penyakit demam berdarah karena sampai saat ini belum ada obatnya.

"Sampai saat ini demam berdarah masih sangat berbahaya dan belum ada obatnya. Yang bisa dilakukan kepada penderita demam berdarah adalah menjaga daya tahan tubuhnya agar mampu bertahan dari serangan virus demam berdarah," kata Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bali Nyoman Sudiyasa, di Denpasar, Minggu (12/11).

Saat berorasi dalam Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) itu, tambah dia, untuk pencegahan masyarakat harus bisa terhindar dari gigitan nyamuk pembawa virus yaitu Aedes Aegypti.

"Maka dari itu, kita harus mampu memberantas perkembangbiakan dari nyamuk tersebut. Caranya dengan secara serentak dan berkala dilakukan pembasmian nyamuk baik dilakukan dengan fogging atau pemberantasan sarang nyamuk," ucap Sudiyasa.

Menurut dia, semua pihak harus bertindak jangan cuma pemerintah, tetapi seluruh masyarakat harus sadar bagaimana caranya mencegah berkembangbiaknya nyamuk penyebar tersebut.

Selain itu, Bapak Made Brata, salah satu warga Denpasar dalam PB3AS tersebut menyoroti masalah kemacetan jalur Denpasar-Gilimanuk yang mengusulkan adanya penambahan jalan alternatif sehingga kemacetan bisa diurai.

Ia juga menyoroti masalah banyaknya gedung-gedung pemerintah yang tidak dimanfaatkan secara maksimal seperti Gedung Lila Buana di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Gedungnya megah, tetapi tidak bermanfaat maksimal, gedung Gelanggang Olahraga Tembau, juga kurang mendapat perhatian.

PB3AS kali ini dimeriahkan pula dengan penampilan anak-anak siswa dari SMK PGRI 5 Denpasar yang membawakan paduan suara, tari modern dan Joged Bumbung.

Salah satu perwakilan siswa yang melakukan orasi yaitu Gede Ardana Setiawan menyoroti semakin merosotnya pemahaman masyarakat Indonesia terhadap konsensus berbangsa khususnya Bhinneka Tunggal Ika.

Terjadinya tindak kekerasan konflik antar suku, ras, dan agama lebih banyak diakibatkan oleh kurang pahamnya masyarakat terhadap apa makna dari Bhinneka Tunggal Ika. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar