Minggu, 24 Juni 2018 | 21:44 WIB

Daftar | Login

/

Pemerintah bentuk tim gabungan bebaskan 1.300 sandera di Papua

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis :    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2hpphmB
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2hpphmB
<p>Pemerintah membentuk tim gabungan guna membebaskan 1.300 sandera di Papua, yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut tanpa menggunakan kekerasan dalam pembebasan 1.300 sandera tersebut.&nbsp;</p><p>Selain itu,<a href="https://elshinta.com/news/126893" rel="nofollow"> negosiasi terus dilakukan pemerintah</a> kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) untuk segera menyerahkan diri.<br></p><p>Menurut Staf Ahli Kementerian Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam), Sri Yunanto saat dihubungi Elshinta, Senin (13/11), persoalan yang terjadi di Papua bisa dikatakan kasus yang berulang dan bukanlah satu fenomena baru. Menurutnya, persoalan di Papua merupakan persoalan yang pelik dan masih menyisakan beberapa kelompok yang ingin melakukan satu kekerasan bersenjata.<br></p><p>“Persoalannya lebih banyak terkait dengan faktor-faktor ekonomi seperti penambangan emas dan juga kalau kita lihat di Papua itu soal kesepakatan antara masing-masing suku dan kelompok ini tidaklah semudah yang kita bayangkan,” kata dia.&nbsp;<br></p><p>Oleh karenanya, lanjut dia, terjadilah penyanderaan yang menahan 1.300 anggota masyarakat yang tidak tidak bersenjata. Ini adalah<a href="https://elshinta.com/news/126897" rel="nofollow"> suatu permasalahan yang harus diselesaikan </a>tanpa menggunakan kekerasan.<br></p><p>“Karena memang kalau di Papua ini kan, isu-isu masalah kekerasan dan HAM itu sangat tinggi, jadi pemerintah, saat ini Pemerintah Jokowi dan segenap seluruh aparat keamanan dan aparat politik yang menangani politik terkait dengan Papua sangat peka terhadap ini sehingga untuk secepat mungkin atau sedapat mungkin melakukan satu penanganan pengamanan tanpa menggunakan kekerasan dan sedikit mungkin meminimlisir korban dari kedua belah pihak,” terangnya.<br></p><p>Karena bagaimana pun, imbuh Sri Yunanto, baik penyandera maupun yang disandera itu adalah sama-sama Warga Negara Indonesia (WNI).&nbsp;<br></p><p><br></p><p><br></p><p>Penulis: Yuno.</p><p>Editor: Dewi Rusiana</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Luar Negeri | 24 Juni 2018 - 20:23 WIB

Transaksi kopi Indonesia capai Rp80 miliar pada WoC

Aktual Dalam Negeri | 24 Juni 2018 - 20:11 WIB

18.273 pemudik tiba di Gambir hingga H+8 Lebaran

Aktual Dalam Negeri | 24 Juni 2018 - 19:49 WIB

Pemkab Banyuwangi normalkan saluran irigasi pasca banjir

Pembangunan | 24 Juni 2018 - 19:37 WIB

Pembangunan jembatan Bengawan Solo hampir selesai

Lingkungan | 24 Juni 2018 - 19:13 WIB

Bunga bangkai langka siap mekar di Bengkulu

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 22 Juni 2018 - 17:27 WIB

Aceh, Sumsel, Jawa, siaga kebakaran

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com