Minggu, 24 Juni 2018 | 19:34 WIB

Daftar | Login

/

IPW ingatkan teroris makin berani perang terbuka dengan polisi

Pembakaran Polres Dharmasraya

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane. Foto: Dody Handoko/elshinta.com
Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane. Foto: Dody Handoko/elshinta.com
<p>Kasus penyerangan dan pembakaran terhadap Polres Dharmasraya di Sumatera Barat dinilai sebagai modus baru dalam dunia terorisme di Indonesia. Sebab, kedua pelaku yang diduga sebagai teroris itu berhasil membakar kantor polisi atau Polres tersebut.<br></p><p>Hal itu seperti dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (13/11).</p><p>Menurutnya, dari pantauan IPW selama ini, aksi penyerangan teroris terhadap institusi Polri lebih kepada anggota kepolisian. Ada yang ditembak atau dibacok atau terkena ledakan bom teroris. Kalaupun ada fasilitas Polri yang diserang, lebih kepada aksi penembakan dari jarak jauh.</p><p>“Namun dalam kasus Polres Dharmasraya, teroris nekat melakukan aksi pembakaran. Artinya para teroris Indonesia semakin berani melakukan perang terbuka dan perang jarak dekat dengan anggota kepolisian,” kata dia. </p><p>Dikatakannya, sikap nekat para teroris ini patut dicermati dan diwaspadai segenap jajaran Polri agar anggotanya maupun fasilitasnya tidak terus menerus menjadi bulan bulanan teroris. Perang terbuka dan perang jarak dekat yang dilakukan teroris kepada jajaran kepolisian belakangan ini kerap terjadi.</p><p>“Setelah serangan bom Kampung Melayu yang menewaskan sejumlah polisi, para teroris melakukan serangan ke Polda Sumut yang menyebabkan satu polisi tewas,” ucapnya.</p><p>Diungkapkannya, kasus di Polres Dharmasraya hampir sama dengan kasus penyerangan di Polda Sumut. Teroris melakukan serangan di tengah malam menjelang pagi. Di Polda Sumut teroris menikam polisi sampai mati tapi di Dharmasraya teroris membakar kantor polisi.</p><p>“Dari kasus ini ada dua yang harus menjadi perhatian Polri agar bisa mempersempit ruang gerak teroris. Pertama, kasus Dharmasraya dan Polda Sumut menunjukkan bahwa jajaran kepolisian tidak boleh lengah, terutama saat tengah malam dan dini hari. Dua serangan di Sumut dan Dharmasraya menunjukkan bahwa serangan terjadi saat jam jam rawan dimana orang orang terjebak ngantuk yang hebat," paparnya.</p><p>Selain itu, kasus Sumut dan Dharmasraya menunjukkan tanpa bom teroris tetap bisa beraksi. Dengan senjata apa adanya para teroris tetap bisa melakukan perlawanan dan menyerang polisi. </p><p>Ia menyebut, kasus Dharmasraya menunjukkan bahwa dalam melakukan serangan para teroris tidak hanya terfokus di kota besar. “Kini mereka juga mengincar wilayah pedalaman. Fenomena ini perlu diantisipasi Polri akan teror tidak kian menyebar,” tandasnya. (dody/Der)</p><p><br></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Lingkungan | 24 Juni 2018 - 19:13 WIB

Bunga bangkai langka siap mekar di Bengkulu

Aktual Pemilu | 24 Juni 2018 - 18:48 WIB

Bawaslu tengarai 99 persen TPS rawan kecurangan

Aktual Pemilu | 24 Juni 2018 - 18:36 WIB

Panwas tertibkan APK Pilgub Jabar di Tasikmalaya

Arestasi | 24 Juni 2018 - 18:11 WIB

Polisi tangkap pelaku pungli Pantai Tanjung Pakis

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 22 Juni 2018 - 17:27 WIB

Aceh, Sumsel, Jawa, siaga kebakaran

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com