Jumat, 24 November 2017

Pembakaran Polres Dharmasraya

IPW ingatkan teroris makin berani perang terbuka dengan polisi

Senin, 13 November 2017 13:44

Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane. Foto: Dody Handoko/elshinta.com Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane. Foto: Dody Handoko/elshinta.com
Ayo berbagi!

Kasus penyerangan dan pembakaran terhadap Polres Dharmasraya di Sumatera Barat dinilai sebagai modus baru dalam dunia terorisme di Indonesia. Sebab, kedua pelaku yang diduga sebagai teroris itu berhasil membakar kantor polisi atau Polres tersebut.

Hal itu seperti dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane dalam siaran persnya, di Jakarta, Senin (13/11).

Menurutnya, dari pantauan IPW selama ini, aksi penyerangan teroris terhadap institusi Polri lebih kepada anggota kepolisian. Ada yang ditembak atau dibacok atau terkena ledakan bom teroris. Kalaupun ada fasilitas Polri yang diserang, lebih kepada aksi penembakan dari jarak jauh.

“Namun dalam kasus Polres Dharmasraya, teroris nekat melakukan aksi pembakaran. Artinya para teroris Indonesia semakin berani melakukan perang terbuka dan perang jarak dekat dengan anggota kepolisian,” kata dia.

Dikatakannya, sikap nekat para teroris ini patut dicermati dan diwaspadai segenap jajaran Polri agar anggotanya maupun fasilitasnya tidak terus menerus menjadi bulan bulanan teroris. Perang terbuka dan perang jarak dekat yang dilakukan teroris kepada jajaran kepolisian belakangan ini kerap terjadi.

“Setelah serangan bom Kampung Melayu yang menewaskan sejumlah polisi, para teroris melakukan serangan ke Polda Sumut yang menyebabkan satu polisi tewas,” ucapnya.

Diungkapkannya, kasus di Polres Dharmasraya hampir sama dengan kasus penyerangan di Polda Sumut. Teroris melakukan serangan di tengah malam menjelang pagi. Di Polda Sumut teroris menikam polisi sampai mati tapi di Dharmasraya teroris membakar kantor polisi.

“Dari kasus ini ada dua yang harus menjadi perhatian Polri agar bisa mempersempit ruang gerak teroris. Pertama, kasus Dharmasraya dan Polda Sumut menunjukkan bahwa jajaran kepolisian tidak boleh lengah, terutama saat tengah malam dan dini hari. Dua serangan di Sumut dan Dharmasraya menunjukkan bahwa serangan terjadi saat jam jam rawan dimana orang orang terjebak ngantuk yang hebat," paparnya.

Selain itu, kasus Sumut dan Dharmasraya menunjukkan tanpa bom teroris tetap bisa beraksi. Dengan senjata apa adanya para teroris tetap bisa melakukan perlawanan dan menyerang polisi.

Ia menyebut, kasus Dharmasraya menunjukkan bahwa dalam melakukan serangan para teroris tidak hanya terfokus di kota besar. “Kini mereka juga mengincar wilayah pedalaman. Fenomena ini perlu diantisipasi Polri akan teror tidak kian menyebar,” tandasnya. (dody/Der)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-der

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar