Sabtu, 25 November 2017

Perajin batok kelapa Kediri kekurangan bahan baku

Senin, 13 November 2017 14:53

Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2yXdJ4S Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2yXdJ4S
Ayo berbagi!

Perajin batok kelapa "SAE" (Sinau Andadani Ekonomi) asal Desa Brumbung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, kekurangan bahan baku, sehingga terpaksa mendatangkan dari luar kota.

"Untuk bahan baku saya mendatangkan dari luar kota, Cirebon dan Semarang. Untuk gundi dari Yogyakarta, ini karena keterbatasan bahan baku," kata perajin batok kelapa "SAE" Aprilia Winarti di Kediri, Senin (13/11).

Perajin asal Desa Brumbung, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini mengatakan, bahan baku batok kelapa di daerah ini sebenarnya ada.

Namun, kualitasnya tidak terlalu bagus, seperti dari luar kota yaitu Cirebon dan Semarang. Bahkan, beberapa batok kelapa masih ada sisa kelapa, sehingga tidak bagus jika dibuat kerajinan.

Aprilia mengatakan, usaha ini sudah digelutinya sejak tiga tahun lalu. Ia tertarik menggeluti usaha ini, karena menarik. Batok kelapa bisa dimanfaatkan menjadi aneka ragam kerajinan yang bagus dengan beragam model, seperti tas, taplak meja, dan beragam kerajinan lainnya.

Selain itu, ia juga bisa memberdayakan para ibu rumah tangga di daerahnya. Beberapa dari ibu rumah tangga itu harus menjadi tulang punggung keluarga, sehingga dengan memberikan mereka pekerjaan, mereka dapat pemasukan.

"Saya dulu pendatang, tapi saya melihat ada anak-anak kurang beruntung, ibu sebagai orangtua tunggal, jadi bagaimana tetangga saya ini ada pemasukan untuk kehidupan sehari-hari. Jadi, saya rangkul anak putus sekolah, ibu-ibu yang tidak pekerjaan," katanya.

Dalam membuat usaha ini, awalnya ia dulu bersekolah. Batok kelapa awalnya melalui tahap pemecahan, pembubutan, penghalusan, merangkai, serta menjahit tangan. Untuk menjahit adalah furing yang biasa dimanfaatkan untuk alas.

Proses merangkai produk juga tidak bisa sembarangan. Awalnya, dipilih beragam corak untuk hiasan lalu dirangkai menjadi beragam produk, misalnya tas ukuran besar, kecil, taplak meja, atau beragam produk lainnya.

Ia juga mengaku, untuk proses pemasaran awalnya memang agak kesulitan, namun saat ini sedikit demi sedikit sudah mulai terbuka. Awalnya, produk hanya bisa diproduksi sedikit saja, namun saat ini terus bertambah. Dalam satu bulan setidaknya terdapat 500 kerajinan yang bisa diproduksi.

Permintaan, kata dia, juga terus bertambah. Mayoritas adalah pelanggan lama misalnya pemilik toko oleh-oleh. Kerajinan tersebut selain memenuhi pasar lokal Kediri, juga dikirim ke luar daerah, misalnya Bali, Yogyakarta, Surabaya, Kalimantan, Pekanbaru, Riau, dan sejumlah kota lainnya.

"Dalam satu bulan rata-rata permintaan hingga 500 unit kerajinan tersebut. Modelnya juga beragam, untuk wisata misalnya yang disukai model tas selempang, tapi untuk guru lebih besar lagi, tergantung keperluan orangnya," ujarnya.

Membuat kerajinan tersebut, Aprilia dibantu sekitar 40 orang. Mereka bertugas di berbagai unit, baik untuk proses pemolesan batok kelapa atau di bagian konveksinya.

Ia juga mengizinkan mereka membawa pulang pekerjaan dan setelah jadi baru dibawa lagi untuk proses penyelesaian akhir.

Ia mengakui, persaingan usaha saat ini juga relatif ketat. Untuk itu, beragam cara ia lakukan agar produknya terus bertahan dan berkembang.

Selain membuat inovasi model produk, juga strategi penjualan, dengan mengikuti beragam bazar, atau memanfaatkan jejaring sosial "Daring".

Aprilia berharap, pemerintah turut serta membantu para pengusaha kecil seperti dirinya agar tetap bertahan.

Ia juga berharap, usahanya semakin besar, sehingga ke depan pekerja yang dilibatkan juga bertambah banyak. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar