Sabtu, 25 November 2017

Tabrakan visi Donald Trump dan Xi Jinping di KTT APEC

Senin, 13 November 2017 16:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Presiden AS Donald Trump dan sejawatnya, Presiden Cina Xi Jinping menyampaikan visi yang bertabrakan tentang masa depan perdagangan global dalam pidato mereka di KTT APEC di Vietnam.

Dalam pidato di LTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) itu Trump berusaha menunukkan sikap keras ASdengan mengatakan bahwa AS tidak lagi mentolerir 'penyelewengan tata perdagangan dunia yang akut.'

Namun di sisi lain, , Presiden Xi Jinping, sebaliknya menegaskan bahwa tak ada jalan mundur bagi globalisasi.

Apec adalah kelompok 21 negara dari kawasan Pasifik - yang mencakup sekitar 60% dari PDB dunia.

Sejak menjabat, Presiden Trump brusaha mewujudkan agenda 'Utamakan Amerika' dan menarik AS keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) - sebuah kesepakatan perdagangan skala besar di antara 12 negara Apec - dengan alasan TPP akan merugikan kepentingan ekonomi AS.

Apa yang dikatakan Trump?

Dalam sebuah pidato di Da Nang, kota pelabuhan Vietnam, pada hari Jumat, Presiden Trum

p mencerca Organisasi Perdagangan Dunia, WTO, yang menetapkan hukum perdagangan global. Ia mengatakan bahwa WTO "tidak dapat berfungsi dengan baik" jika semua anggota tidak menghormati aturan-aturan tersebut.

Dia mengeluhkan ketimpangan perdagangan,berdalih bahwa AS telah menurunkan hambatan pasar dan menghapuskan tarif, namun negara-negara lain tidak melakukan hal serupa. "Praktik semacam itu berakibat buruk bagi banyak orang di negara kami," katanya. Ia menambahkan bahwa perdagangan bebas telah mengorbankan jutaan lapangan kerja di Amerika.

Tapi dia tidak menyalahkan negara-negara Apec, dan malah menuduh pemerintah AS sebelumnya tidak bertindak lebih awal untuk membalikkan keadaan itu.

Dia mengatakan Amerika akan membuat kesepakatan bilateral dengan "setiap mitra Indo-Pasifik yang mematuhi perdagangan timbal balik yang adil," namun hanya "atas dasar prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan."

Trump berulang kali menyebut "Indo-Pasifik," sebuah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan pandangan geopolitik baru Amerika di Asia.

Sebelumnya, di Beijing, Trump juga membahas ketimpangan besar perdagangan Amerika dengan Cina. Di sana dia juga mengatakan tidak menyalahkan negara tersebut karena "mengambil manfaat" dari situasi itu.

Lalu apa kata Presiden Xi Jinping?

Berbicara beberapa menit setelah Trump, Presiden Cina Xi Jinping naik ke podium untuk mendukung kredensial negaranya sebagai juara baru perdagangan dunia.

Globalisasi, katanya, adalah "tren historis yang tidak dapat diubah lagi," namun filosofi di balik perdagangan bebas perlu dirumuskan ulang agar "lebih terbuka, lebih seimbang, lebih adil dan lebih bermanfaat bagi semua pihak."

Berbeda dengan Presiden Trump, pemimpin Cina ini mendukung kesepakatan perdagangan multilateral, yang menurutnya membantu negara-negara miskin untuk memperoleh keuntungan.

"Kita harus mendukung rezim perdagangan multilateral dan membuka regionalisme untuk memungkinkan negara anggota yang masih sedang berkembang untuk memperoleh keuntungan lebih dari perdagangan dan investasi internasional."


Utamakan Amerika, atau Impian Cina?

Oleh Karishma Vaswani, BBC News

Presiden Trump memapar secara jelas - dia menginginkan kesepakatan perdagangan bilateral dan pengaturan multilateral skala besar cocok untuknya. Pidato-pidato Trump menegaskan bahwa Amerika terbuka untuk bisnis, namun dengan persyaratan Amerika sendiri.

Kontras dengan Xi Jinping dari Cina, yang berbicara tentang ekonomi digital, sains kuantum, kecerdasan buatan - yang memapar visi masa depan yang terhubung dan komprehensif.

Semain lama, dalam berbagai panggung internasional, Presiden Xi Jinping memperlihatkan diri sebagai anak teladan untuk perdagangan bebas dan globalisasi. Ironis, mengingat Cina sendiri belum menjadi kekuatan ekonomi yang bebas sepenuhnya.

AS adalah arsitek dari banyak perjanjian perdagangan bebas dan multilateral untuk Asia. Di bawah panduan AS, banyak negara Asia membuka diri dan mereformasi - bermain sesuai ketentuan Amerika.

Tapi di bawah Donald Trump, peran itu jadi terbalik. Hal itu mengakibatkan terjadinya ruang kosong, dan Cina berkesempatan untuk mengisinya -sesuatu yang mereka ambil, dengan segala senang hati.


Bagaimana hubungan dagang AS-Cina?

Nilai total perdagangan antara AS dan Cina berjumlah $648 miliar tahun lalu, namun perdagangan sangat condong menguntungkan Cina: AS yang menderita defisit hampir $310 miliar.

Dalam kesempatan terdahulu, Trump menuduh Cina mencuri lapangan pekerjaan Amerika dan mengancam untuk melabelinya sebagai manipulator mata uang, meskipun kemudian ia mengendurkan retorikanya.

Selama kunjungan presiden AS pada pekan lalu, Cina mengumumkan akan mengurangi hambatan masuk di sektor perbankan, asuransi, dan keuangan, dan secara bertahap mengurangi tarif bea masuk kendaraan.

Mereka juga mengumumkan kesepakatan senilai $250 miliar, meskipun tidak jelas berapa banyak dari jumlah itu yang merupakan bagian dari kesepakatan masa lalu dan berapa yang merupakan kesepakatan potensial di masa depan.

Sebelum pembicaraan di Beijing, Trump mengunjungi Tokyo dan mengecam Jepang, yang dtuduhnya "selalu menang" dalam perdagangan dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut departemen keuangan AS, Jepang menikmai surplus perdagangan sebesar $69 miliar dengan AS pada 2016.

Pada Senin (13/11) ini, Trump berada di Filipina, mengikuti KTT ASEAN-APEC, sebagai akhir dari kunjungan 12 harinya di Asia.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar