Rabu, 24 Oktober 2018 | 08:53 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Harga properti tempat tinggal naik 3,32 persen

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2yYUUhQ
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2yYUUhQ
<p>Bank Indonesia melalui surveinya mencatat bahwa harga properti residendial (tempat tinggal) naik 3,32 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan III 2017, karena kenaikan upah pekerja dan juga meningkatnya harga bahan bangunan.</p><p>Kenaikan harga properti hingga kuartal III 2017 ini lebih pesat dibandingkan periode sama tahun lalu yang pertumbuhannya hanya sebesar 3,17 persen (yoy), menurut Survei Harga Properti Residensial kuartal III diumumkan di Jakarta, Senin (13/11).</p><p>Dengan begitu, indeks harga porperti residensial di paruh ketiga ini sebesar 200,26 poin atau jika dibandingkan kuartal II 2017 naik 0,50 persen. </p><p>Survei properti ini dilakukan terhadap para pengembang proyek perumahan di 14 kota di Indonesia, yakni Jabodebek dan Banten, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Manado , Makasar, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Bandar Lampung, Palembang, Padang dan Medan.</p><p>Bank Sentral mencatat kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil yang jika dilihat secara tahunan, naik 5,73 persen (yoy). Sementara harga rumah tipe menengah naik 2,97 persen (yoy) dan tipe besar naik 1,51 persen (yoy).</p><p>Secara spasial, kenaikan harga rumah paling tinggi terjadi di Surabaya sebesar 6,86 persen (qtq).</p><p>"Karena adanya pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat dari utara ke selatan Surayabaya dan menghubungkan banyak fasilitas startegis di Surabaya," ungkap BI dalam publikasi survei tersebut.</p><p>Sementara, volume penjualan properti residensial juga naik 2,58 persen (qtq) walaupun masih melambat jika dibandingkan kuartal II 2017 yang sebesar 3,61 persen (qtq). Hal itu karena terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian dan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah yang masih tinggi. (Ant)&nbsp;</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 24 Oktober 2018 - 08:47 WIB

Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 08:26 WIB

Real Madrid pungkasi paceklik kemenangan, atasi Plzen 2-1

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 08:07 WIB

Moeldoko: 8,7 juta pengangguran terserap, kemiskinan tinggal 9,8 persen

Ekonomi | 24 Oktober 2018 - 07:58 WIB

Pengamat: Polemik data beras baiknya diselesaikan akarnya

<p>Bank Indonesia melalui surveinya mencatat bahwa harga properti residendial (tempat tinggal) naik 3,32 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan III 2017, karena kenaikan upah pekerja dan juga meningkatnya harga bahan bangunan.</p><p>Kenaikan harga properti hingga kuartal III 2017 ini lebih pesat dibandingkan periode sama tahun lalu yang pertumbuhannya hanya sebesar 3,17 persen (yoy), menurut Survei Harga Properti Residensial kuartal III diumumkan di Jakarta, Senin (13/11).</p><p>Dengan begitu, indeks harga porperti residensial di paruh ketiga ini sebesar 200,26 poin atau jika dibandingkan kuartal II 2017 naik 0,50 persen. </p><p>Survei properti ini dilakukan terhadap para pengembang proyek perumahan di 14 kota di Indonesia, yakni Jabodebek dan Banten, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Manado , Makasar, Denpasar, Pontianak, Banjarmasin, Bandar Lampung, Palembang, Padang dan Medan.</p><p>Bank Sentral mencatat kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah, terutama rumah tipe kecil yang jika dilihat secara tahunan, naik 5,73 persen (yoy). Sementara harga rumah tipe menengah naik 2,97 persen (yoy) dan tipe besar naik 1,51 persen (yoy).</p><p>Secara spasial, kenaikan harga rumah paling tinggi terjadi di Surabaya sebesar 6,86 persen (qtq).</p><p>"Karena adanya pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat dari utara ke selatan Surayabaya dan menghubungkan banyak fasilitas startegis di Surabaya," ungkap BI dalam publikasi survei tersebut.</p><p>Sementara, volume penjualan properti residensial juga naik 2,58 persen (qtq) walaupun masih melambat jika dibandingkan kuartal II 2017 yang sebesar 3,61 persen (qtq). Hal itu karena terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian dan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah yang masih tinggi. (Ant)&nbsp;</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com