Sabtu, 25 November 2017

Presiden Trump 'tidak angkat' masalah hak asasi saat bertemu Presiden Duterte

Selasa, 14 November 2017 10:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Trump, Duterte, Manila
Reuters
Presiden Trump dan Presiden Duterte kerap memberi komentar yang kontroversial.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan memiliki 'hubungan baik' dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte setelah keduanya bertemu di Manila, di sela-sela pertemuan puncak ASEAN, Senin (13/11).

"Kami memiliki hubungan baik. (Pertemuan ini) amat berhasil. Kami melakukan banyak pertemuan dengan para pemimpin lain," kata Trump.

Pertemuan keduanya dibayang-bayangi kebijakan keras Duterte untuk memberantas peredaran narkoba, yang sudah menewaskan sekitar 4.000 terduga pengedar narkoba dan dikritik para pegiat hak asasi.

Namun Presiden Trump tidak menjawab pertanyaan para wartawan yang menanyakan apakah keduanya membahas masalah hak asasi.

Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, belakangan mengatakan topik itu disebut singkat saat pertemuan pribadi keduanya dalam konteks perang melawan narkoba namun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Namun juru bicara Presiden Duterte, Harry Roque, dalam peryataan kepada para wartawan menegaskan masalah hak asasi manusia tidak diangkat.

Manila, Filipina, Trump
EPA
Aksi unjuk rasa menentang kunjungan Presiden Trump di Manila.

"Presiden menjelkaskan panjang lebar tentang perang melawan narkoba, Presiden Trump tampak menghargai upayanya. Tidak ada komentar tentang perang melawan narkoba, yang ada seperti kralifikasi tentang pengedar narkoba yang telah ditangkap," jelas Roque.

Dia menggambarkan hubungan Trump dan Duterte sebagai 'hangat, bersahabat, dan terus terang' dengan menambahkan keduanya memilliki perasaan yang sama atas mantan Presiden Barack Obama.

Filipina, Manila
EPA
Polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan para pengunjuk rasa penentang Trump.

Presiden Duterte beberapa kali mengejek Presiden Obama, yang mengecam kebijakan yang memungkinkan aparat keamanan Filipina menembak mati para terduga pengedar narkoba.

Duterte antara lain pernah menjuluki Obama sebagai 'anak pelacur' pada September lalu dan sempat pula menyatakan berpisah' dari Washinton seteah dia bertemu dengan Presiden Cina, Xi Jinping, di Beijing, pada bulan Oktober.

Sementara Presiden Trump dilaporkan pernah memuji perang yang dilancarkan Duterte untuk menghadapi para pengedar narkoba.

"Saya hanya ingin mengucapkan selama kepada Anda karena saya mendengar tentang pekerjaan Anda yang tidak bisa dibayangkan dalam masalah narkoba. Banyak negara yang menghadapi masalah itu, kami punya masalah tersebut, namun yang Anda lakukan hebat."

Transkrip pembicaraan telepon kedua pemimpin pada 29 April itu kemudian bocor ke media di Amerika Serikat.

Trump dan para pemimpin yang menghadiri pertemuan puncak ASEAN sudah bertemu dalam acara makan malam di Manila dan di sana Presiden Duterte tampil menyanyikan sebuah lagu cinta Filipina yang populer.

Setelah membawakan lagu tersebut, Duterte mengatakan 'atas perintah komandan puncak Amerika Serikat'.

Kunjungan Presiden Trump ke Manila diwarnai aksi unjuk rasa, Minggu maupun Senin, yang antara lain memajang spanduk bertuliskan 'Trump Pulanglah' dan 'Larang Trump #1 teroris'.

Polisi sampai menggunakan meriam air dan juga bel sonik untuk membubarkan para pengunjuk rasa.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar