Senin, 10 Desember 2018 | 10:32 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Cegah stanting, Fatayat NU gelar halaqoh

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
Foto : Istimewa.
Foto : Istimewa.
<p>Fatayat NU menggelar halaqoh Jihad Cegah Stanting di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (13/11).</p><p><br></p><p>Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Ermarini, M.KM mengatakan kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari partisipasi pada program Kampanye Gizi Nasional (KGN).</p><p><br></p><p>“Halaqah bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para Ulama dan Daiyah terutama di DKI Jakarta tentang pentingnya pencegahan stanting untuk mampu berkontribusi pada program KGN menurunkan angka stanting di Indonesia,” papar Anggia.</p><p><br></p><p>Berdasarkan hasil pemantauan status gizi (PSG) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan angka kasus stanting di Indonesia masih cukup tinggi.</p><p><br></p><p>“Pada tahun 2016 PSG menunjukkan bahwa 27,5% bayi di Indonesia berada dalam status stanting. Hal ini menujukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara dengan kasus stanting tertinggi di asia,” rinci Anggia dalam rilis yang diterima <i><strong>redaksi elshinta.com, </strong></i>Selasa (14/11).</p><p><br></p><p>Lebih lanjut, isi stanting dalam halaqah masuk menjadi program dan rekomendasi dalam Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas Konbes) NU pada 23-25 November 2017 di NTB.</p><p><br></p><p>Peran Fatayat NU peran daiyah, muballigh perempuan dan tokoh masyarakat perempuan sangat strategis untuk terus kampanye tentang gizi pada masyarakat. Karena 1000 hari pertama kehidupan itu adalah cikal bakal atau penentu kualitas kehidupan seorang manusia seumur hidupnya.</p><p><br></p><p>Peserta Halaqah ini adalah Dai dan Daiyah di lingkungan NU, Aisiyah dan Nasyiatul Aisiyah.</p><p><br></p><p>Rais Syuriah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin menyampaikan pentingnya jihad (bersungguh-sungguh) dalam upaya pencegahan stanting oleh para Dai dan Daiyah.</p><p><br></p><p>“Dalam Islam sudah jelas dipaparkan tentang perintah hidup sehat, mengkonsumsi makanan bergizi, termasuk peran suami yang harus bertanggungjawab untuk menyediakan kecukupan gizi keluarganya” tutur Kiai Ishom.</p><p><br></p><p>Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas mengatakan, tugas utama untuk memberantas kemiskinan, termasuk di dalamnya adalah stunting sebagai dampak langsung merupakan dibebankan kepada negara.</p><p><br></p><p>“Misalnya di pasal 34 fakir miskin dan anak terlantar,” kata Robikin saat membuka Halaqah Alim Ulama dan Da’iyah NU yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Fatayat NU.</p><p><br></p><p>Hal tersebut, katanya, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an. Pertama, memastikan warga negaranya terbebas dari kelaparan, gizi buruk, segala macam penyakit yang bisa ditimbulkan dari kemiskinan. Kedua, memberi jaminan serta perlindungan atas keamanan. Yakni memastikan bahwa setiap warga negara terbebas dari rasa takut. Misalnya rasa takut untuk menyampaikan pendapat.</p><p><br></p><p>“Sekarang kan banyak orang yang menyampaikan kebenaran merasa terancam karena digunakan mimbar untuk menebarkan hoaks, untuk memfitnah, untuk hate speech,” ujar Robikin.</p><p><br></p><p>Halaqah juga menghadirkan Guru Besar dan Ahli Gizi The University of Alma Ata Hamam Hadi, dan DR. Sri Kusumastuti Rahayu (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan /TNP2K).</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 10 Desember 2018 - 10:19 WIB

Merapi diselimuti kabut, status masih waspada

Aktual Dalam Negeri | 10 Desember 2018 - 09:55 WIB

Warga keluhkan harga tiket penerbangan keluar Timika

Aktual Sepakbola | 10 Desember 2018 - 09:35 WIB

Polda Metro siap amankan perayaan Persija

<p>Fatayat NU menggelar halaqoh Jihad Cegah Stanting di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (13/11).</p><p><br></p><p>Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Ermarini, M.KM mengatakan kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari partisipasi pada program Kampanye Gizi Nasional (KGN).</p><p><br></p><p>“Halaqah bertujuan untuk meningkatkan pemahaman para Ulama dan Daiyah terutama di DKI Jakarta tentang pentingnya pencegahan stanting untuk mampu berkontribusi pada program KGN menurunkan angka stanting di Indonesia,” papar Anggia.</p><p><br></p><p>Berdasarkan hasil pemantauan status gizi (PSG) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan angka kasus stanting di Indonesia masih cukup tinggi.</p><p><br></p><p>“Pada tahun 2016 PSG menunjukkan bahwa 27,5% bayi di Indonesia berada dalam status stanting. Hal ini menujukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara dengan kasus stanting tertinggi di asia,” rinci Anggia dalam rilis yang diterima <i><strong>redaksi elshinta.com, </strong></i>Selasa (14/11).</p><p><br></p><p>Lebih lanjut, isi stanting dalam halaqah masuk menjadi program dan rekomendasi dalam Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar (Munas Konbes) NU pada 23-25 November 2017 di NTB.</p><p><br></p><p>Peran Fatayat NU peran daiyah, muballigh perempuan dan tokoh masyarakat perempuan sangat strategis untuk terus kampanye tentang gizi pada masyarakat. Karena 1000 hari pertama kehidupan itu adalah cikal bakal atau penentu kualitas kehidupan seorang manusia seumur hidupnya.</p><p><br></p><p>Peserta Halaqah ini adalah Dai dan Daiyah di lingkungan NU, Aisiyah dan Nasyiatul Aisiyah.</p><p><br></p><p>Rais Syuriah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin menyampaikan pentingnya jihad (bersungguh-sungguh) dalam upaya pencegahan stanting oleh para Dai dan Daiyah.</p><p><br></p><p>“Dalam Islam sudah jelas dipaparkan tentang perintah hidup sehat, mengkonsumsi makanan bergizi, termasuk peran suami yang harus bertanggungjawab untuk menyediakan kecukupan gizi keluarganya” tutur Kiai Ishom.</p><p><br></p><p>Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas mengatakan, tugas utama untuk memberantas kemiskinan, termasuk di dalamnya adalah stunting sebagai dampak langsung merupakan dibebankan kepada negara.</p><p><br></p><p>“Misalnya di pasal 34 fakir miskin dan anak terlantar,” kata Robikin saat membuka Halaqah Alim Ulama dan Da’iyah NU yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Fatayat NU.</p><p><br></p><p>Hal tersebut, katanya, sebagaimana disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an. Pertama, memastikan warga negaranya terbebas dari kelaparan, gizi buruk, segala macam penyakit yang bisa ditimbulkan dari kemiskinan. Kedua, memberi jaminan serta perlindungan atas keamanan. Yakni memastikan bahwa setiap warga negara terbebas dari rasa takut. Misalnya rasa takut untuk menyampaikan pendapat.</p><p><br></p><p>“Sekarang kan banyak orang yang menyampaikan kebenaran merasa terancam karena digunakan mimbar untuk menebarkan hoaks, untuk memfitnah, untuk hate speech,” ujar Robikin.</p><p><br></p><p>Halaqah juga menghadirkan Guru Besar dan Ahli Gizi The University of Alma Ata Hamam Hadi, dan DR. Sri Kusumastuti Rahayu (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan /TNP2K).</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...

Senin, 10 Desember 2018 - 10:28 WIB

Dibuka melemah, IHSG alami tekanan searah bursa Asia

Minggu, 09 Desember 2018 - 21:53 WIB

Kapolri: Separuh polisi belum punya rumah

Jumat, 07 Desember 2018 - 09:47 WIB

IHSG diprediksi masih bergerak melemah

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com