Kamis, 23 November 2017

Pengungsi Pulau Manus membeberkan ketakutannya sebelum dikeluarkan paksa dari tahanan imigrasi

Selasa, 14 November 2017 23:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Pencari suaka dan pengungsi yang tinggal di tahanan imigrasi Pulau Manus, Papua Nugini membeberkan kecemasan, karena sewaktu-waktu bisa dipaksa keluar dari kamp tahanan tersebut.

Ini merupakan dampak dari putusan Pengadilan Papua Nugini yang menetapkan untuk tidak melanjutkan memberikan layanan dasar kepada para penghuni kamp pengungsi Pulau Manus. Kamp itu dulu dibangun dan dikelola oleh Australia, namun sekarang ditutup.

Sejumlah pengungsi telah dipindahkan ke tiga pusat transit, sementara 400 orang tetap berada di sana, kendati sudah tak ada listrik, air bersih, dan pasokan makanan.

BBC berbicara dengan dua pengungsi yang masih berada di lokasi pusat penahanan Manus untuk memahami bagaimana perasaan mereka menjelang batas waktu pengusiran.

'Kita tidak tahu apa yang akan terjadi'

Walid Zazai sudah tinggal di Pulau Manus sejak empat tahun lalu.

"Banyak orang yang ketakutan," ujarnya kepada BBC. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok."

"Saya sangat takut. Saya tidak tahu kapan mereka akan datang, mungkin subuh nanti, kami tidak tahu.

"Kami tak bisa tidur normal pada malam hari -kami giliran tidur untuk berjaga-jaga ketika yang lain tidur selama satu jam atau dua jam.

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."

Australia menahan para pencari suaka yang tiba dengan perahu di kamp tahanan di Pulau Manus dan Nauru, sebuah negara kecil di Pasifik.

Pemerintah Australia berkesikukuh untuk tidak membiarkan para pengungsi dan pencari suaka ini untuk masuk ke Australia. Mereka beralasan, hal itu akan mendorong semakin banyak perdagangan manusia yang brujung pada banyaknya orang tewas di laut.

Pada 1 November lalu, badan pengungsi PBB, UNHCR, mengatakan bahwa lokasi-lokasi baru belum siap untuk ditinggali, sementara Human Rights Watch telah memperingatkan bahwa pengungsi menghadapi "kekerasan yang tidak terkendali" dari masyarakat setempat.

"Kami mengalami sendiri di masa lalu saat kami datang ke kota dan banyak dari kami yang dipukuli," kata Zazai.

"Banyak dari kami yang dirampok."

"Dalam beberapa bulan terakhir dua teman kami digantung. Polisi tidak akan menyelidikinya, mereka mengatakan bahwa mereka menggantung diri.

"Tapi mengapa mereka menggantung diri? Tidak masuk akal."

'Kami menginginkan kebebasan'

Abdul Aziz Adam adalah pengungsi dari Sudan. Dia mengatakan kepada BBC bahwa dia "50%" yakin bahwa pihak berwenang Papua Nugini akan "menyerang kompleks" mereka pada hari Senin.

"Mereka mengatakan dalam pernyataan mereka bahwa mereka tidak akan menggunakan kekerasan," kata petenis berusia 24 tahun itu.

"Tapi dua jam kemudian mereka masuk ke kompleks kami dan mereka berkata di mikrofon bahwa mereka akan menggunakan kekerasan."

"Kami berusaha melakukan yang terbaik untuk melindungi diri kita sendiri. Semua orang merasa ketakutan, dan benar-benar khawatir akan apa yang akan terjadi besok.

"Keamanan kami dalam bahaya."

Abdul mengatakan bahwa ia berharap "masyarakat internasional mengetahui apa yang terjadi di dalam pusat tahanan ini".

"Sudah 12 hari, kami hidup di neraka," katanya. "Tidak ada air untuk diminum, tidak ada pamgan untuk dimakan dan tidak ada listrik. Kami menginginkan kebebasan.

"Sudah empat setengah tahun kami ditahan di sini oleh otoritas Australia sebagai sandera, disiksa ... dan dianiaya.

"Besok mereka akan menggunakan kekuatan untuk menyeret kami keluar dari sini.

"Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi besok."

Sebelumnya, UNHCR menyebut Australia mempertaruhkan "kondisi darurat kemanusiaan" dengan menutup pusat detensi Pulau Manus pada 31 Oktober lalu.

Delapan hari setelah ditutup resmi, sekitar 600 orang masih berada di pusat tahanan itu. Dan persediaan makanan, listrik dan air diputuskan. Mereka tidak mau keluar, dengan alasan takut akan keselamatan mereka di fasilitas baru.

Para pengungsi terpaksa menggali sumur untuk mendapatkan air dan banyak di antara mereka yang menderita masalah kesehatan dan membutuhkan perawatan mendesak.

Pulau Manus terletak di Laut Bismarck, 800 kilometer utara Port Moresby, ibukota PNG. Pulau terpencil ini bisa dicapai dengan 10 jam penerbangan dari Sydney, Australia.

Pulau ini berpenduduk 65 ribu jiwa, sebagian kecil dari mereka mendapat bantuan dana yang dikucurkan Pemerintah Australia yang mengubah pangkalan angkatan laut mereka menjadi tempat penampungan pencari suaka.

Pusat tahanan ini dibangun tahun 2001 oleh Pemerintah Australia di bawah Perdana Menteri John Howard, sebagai bagian dari 'Solusi Pasifik' untuk menahan para pencari suaka di luar Australia hingga status mereka diputuskan.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar