Sabtu, 25 November 2017

Dua perempuan Muslim Australia beda suara tentang perkawinan sejenis

Rabu, 15 November 2017 21:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Sekitar 61% warga Australia mendukung pengesahan perkawinan sesama jenis, seperti terungkap dalam jajak yang berlangsung selama delapan pekan.

Walau survei dengan tingkat partisipasi sebesar 79.5% itu tidak mengikat, Perdana Menteri Malcolm Turnbull sudah mengatakan pemerintahnya akan berupaya meloloskan undang-undang untuk perkawinan sesama jenis sebelum Natal.

Australia, homoseksual
Getty Images
PM Malcolm Turnbull mengatakan akan berupaya meloloskan undang-undang untuk perkawinan sesama jenis sebelum Natal.

Jajak itu sendiri mengajukan satu pertanyaan, "Seharusnyakah undang-undang perkawinan diubah untuk mengizinkan sesama jenis kelamin menihak?" dengan jawaban Ya atau Tidak.

Ikut dalam jajak tersebut adalah dua perempuan asal Indonesia, Nasya Bahfen dan Nadia Asikin, yang sama -sama tinggal di Melbourne. Keduanya merupakan perempuan Muslim yang mengenakan jilbab namun memberikan suara yang berbeda.

Ya - Nasya Bahfen, tinggal di Australia sekitar 30 tahun lebih

"Alasannya sebagai salah satu minoritas di Australia, yaitu minoritas Muslim, saya percaya bahwa semua hak asasi manusia harus diberi kepada semua minoritas. Jadi anggota kaum LBGT, mereka juga sebagai minoritas dan kita harus solidaritas dengan mereka," jelas Nasha kepada wartawan BBC Liston P Siregar.

Dosen di Universitas La Trobe ini menegaskan bahwa pilihannya itu terpisah dari pengajaran dan prinsip dalam agamanya sendiri.

"Tapi saya rasanya kurang setuju kalau saya, misalnya, tidak bergerak untuk hak yang kita nikmati sebagai minoritas, seperti makanan halal atau hak untuk salat atau sembahyang di kantor."

Nasya juga yakin bahwa ajaran agama Islan adalah menghormati semua peraturan di negeri tempat tinggal kecuali peraturan itu menghindari kita beribadah'"

"Dan peraturan ini, setelah pemungutan suara yang tidak binding (mengikat) kemungkinan besar sebelum natal sudah jadi undang-undang. Tapi peratauran seperti ini tidak ada akibatnya dengan ibadah kita, tidak menghindari ibadah kita.

"Jadi kalau dari sisi agama, saya merasa tidak ada kontradiksi," tegasnya.

Menurut Nasya banyak umat Muslim di Melbourne yang memberikan suara 'tidak' sehingga pendapatnya bukan bagian dari pandangan mayoritas di kalangan komunitasnya.

"Saya seperti banyak teman, pasang foto di media sosia bahwa saya pilih Yes dan langsung teman-teman saya di Facebook, misalnya langsung kurang 10 orang," tuturnya diikuti tawa kecil.

"Ya berbeda pendapat tentang masalah ini namun saya punya alasan yang kuat untuk memilih."

Tidak - Nadia Asikin, tinggal di Australia sejak tahun 2001

"Karena melihat lebih banyak sisi negatifnya dibanding keuntungan Yes dan dengan memberi suara Yes saya menyetujui gaya hidup sesama jenis kelamin itu sementara saya secara pribadi tidak menyetujuinya. Jadi saya tidak bisa memberi suara Yes."

Nadia menjelaskan bahwa alasannya memilih Tidak itu didasarkan pada pandangan pribadi dan juga keyakinan agama.

"Dua-duanya ya, berdasarkan agama dan pribadi,. Maksudnya, saya kan orang Indonesia tadinya yang tumbuh dalam keluarga Muslim dan memang sudah diajari bahwa homoseksualitas itu salah dan ada kisah Nabi segala macam, jadi dari situ sudah belajar."

Di samping keyakinan agama, Nadia juga yakin bahwa tidak ada manfaat dari perkawinan sesama jenis.

"Saya tidak sampai pada kesimpulan bahwa itu bermanfaat untuk keluarga dan juga masyarakat," kata Nadia, yang menambahkan perkawinan sesama jenis bisa berdampak 'buruk' pada masa depan.

"Tidak ada keuntungannya kecuali membuat orang senang atau untuk kesan Australia tidak terbelakang. Itu mungkin hanya bagus untuk kelompok tertentu namun jika berkiiri pada masa depan akan berdampak buruk bagi masyrakat."

Menurut Nadia undang-undang yang mengizinkan perkawinan sesama jenis bisa jadi meningkatkan kecenderungan pasangan sesama jenis di kalangan kaum muda.

"Terus nanti bagaimana dengan masa depan. Bagaimana mereka akan punya anak. Apakah anaknya diambil dari orang lain. Artinya anak masa depan adalah keturunan yang tidak jelas dan anak-anak itu menderita karena terpsiah dari ayah dan ibu biologisnya."

Nadia juga memberi contoh pada tingkat praktis terkait pendidikan anak-anaknya kelak karena nanti akan ada buku-buku yang sudah dua ibu atau transgender dalam satu lingkup.

"Itu akan mempengaruhi keluarga saya secara tidak langsung."

"Awalnya kan kita mikir, LGBT mau menikah atau tidak menikah tidak menjadi kekhawatiran kita. Kan kita bukan LGBT, kita punya keluarga sendiri dan ok. Cuma dipikir-pikir lagi, itu akhirnya akan mempengaruhi generasi masa depan, khususnya anak-anak kita, pendidikan dan lingkungan mereka."

***Silahkan memberi pendapat tentang artikel ini di Halaman Facebook BBC Indonesia namun mohon kiranya dengan tetap saling menghormati dan tidak menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar