Sabtu, 23 Juni 2018 | 20:55 WIB

Daftar | Login

/

RI terus upayakan hilangkan diskriminasi kelapa sawit

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis :    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2mRxFk0
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2mRxFk0
<p>Presiden RI, <a href="http://http://m.elshinta.com/news/128036/2017/11/23/indonesia-malaysia-siap-tangkal-diskriminasi-kelapa-sawit" rel="nofollow">Joko Widodo kembali membahas isu kelapa sawit dengan Malaysia</a>.&nbsp;Ini merupakan kali kedua Jokowi `berteriak` terkait masalah kelapa sawit setelah sebelumnya juga dibahas dalam KTT Peringatan 40 tahun kerja sama ASEAN-Uni Eropa di Manila. Seberapa pentingkah kelapa sawit untuk Indonesia?</p><p dir="ltr">Menurut Menteri Luar Negeri RI,&nbsp;Retno Marsudi,&nbsp;saat dihubungi Elshinta, Kamis (23/11) pembicaraan soal kelapa sawit sangatlah penting karena isu kelapa sawit menyangkut 17 juta orang di Indonesia.</p><p dir="ltr">"17 juta orang yang terlibat dalam kegiatan kelapa sawit, baik secara langsung maupun tidak langsung," ujarnya.</p><p dir="ltr">Kalau dilihat dari sisi lahannya, lanjut Retno mengatakan, lebih dari 40 persen lahan yang digunakan untuk kelapa sawit, merupakan lahan yang dimiliki oleh&nbsp;small holder.</p><p dir="ltr">"Oleh karena itu kita terus berjuang karena kelapa sawit selalu mengalami diskriminasi terutama dari negara-negara Uni Eropa," terangnya.</p><p dir="ltr">Menurut Retno, negara-negara Uni Eropa kerap mempermasalahkan kelapa sawit lebih kepada masalah&nbsp;sustainability. Namun, Retno mengatakan bahwa pihaknya kerap berbicara menggunakan data-data mengenai&nbsp;sustainability&nbsp;dan juga apa yang sudah dan terus lakukan menanggapi masalah&nbsp;sustainability&nbsp;tersebut.</p><p dir="ltr">Namun walaupun mereka mendengarkan, Retno menambahkan, upaya 'mereka' untuk terus mendiskriminasi terus pula dilakukan.</p><p dir="ltr">"Oleh karena itu kita memfokuskan diri, meningkatkan kerjasama dengan Malaysia. Karena kalau kita&nbsp;combine,&nbsp;maka kita mewakili lebih dari 80 persen produk kelapa sawit dunia," terangnya.</p><p dir="ltr">Retno mengatakan, mau tidak mau kita harus mengembangkan kerjasama dengan Malaysia terlebih saat ini Indonesia telah memiliki Council of Palm Oil Producers Country (CPOPC).</p><p><br></p><p><br></p><p><br></p><p dir="ltr"><br> </p><p>Penulis: Yuno.</p><p>Editor: Sigit Kurniawan.</p><p><br></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 23 Juni 2018 - 19:25 WIB

Bus AKAP dominasi arus balik ke sejumlah kota besar

Ekonomi | 23 Juni 2018 - 19:14 WIB

Penurunan PPh UMKM akan perkuat pertumbuhan usaha

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 22 Juni 2018 - 17:27 WIB

Aceh, Sumsel, Jawa, siaga kebakaran

Kamis, 21 Juni 2018 - 09:50 WIB

Projo apresiasi penanganan mudik 2018

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com