Rabu, 24 Oktober 2018 | 08:52 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Filipina perintahkan penyelidikan vaksin demam berdarah pada 730 ribu anak-anak

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
Foto: Ilustrasi.
Foto: Ilustrasi.
<p>Filipina pada Senin (4/12) memerintahkan penyelidikan mengenai imunisasi vaksin demam berdarah pada lebih dari 730 ribu anak-anak, yang dihentikan menyusul pengumuman perusahaan obat Prancis Sanofi bahwa vaksin tersebut dapat memperburuk penyakit pada beberapa penderita.</p><p><br></p><p>Lembaga swadaya masyarakat di Filipina mengatakan menerima informasi bahwa tiga anak-anak, yang divaksinasi dengan vaksin Dengvaxia pada April 2016, meninggal, namun Sanofi mengatakan bahwa tidak ada kematian dilaporkan sebagai akibat dari program tersebut.</p><p><br></p><p>"Sejauh yang kami tahu, dan sejauh yang kami sadari, tidak ada kematian dilaporkan terkait vaksinasi demam berdarah," kata Ruby Dizon, direktur kesehatan Sanofi Pasteur Filipina dalam jumpa pers di Manila.</p><p><br></p><p>Pada pekan lalu, Departemen Kesehatan Filipina menghentikan penggunaan vaksin Dengvaxia setelah Sanofi mengatakan bahwa vaksin itu harus betul-betul dibatasi karena bukti bahwa vaksin tersebut dapat memperburuk penyakit pada yang sebelumnya tidak pernah terpapar infeksi.</p><p><br></p><p>Dalam pernyataan dikeluarkan di Filipina, Sanofi menjelaskan "beberapa temuan baru", namun mengatakan bahwa evaluasi keselamatan jangka panjang vaksin tersebut menunjukkan secara signifikan bahwa lebih sedikit rawat inap demam berdarah pada orang yang divaksinasi pada usia sembilan tahun keatas dibandingkan dengan mereka yang belum divaksinasi.</p><p><br></p><p>Hampir 734 ribu anak berusia sembilan tahun ke atas di Filipina telah menerima satu dosis vaksin sebagai bagian dari program yang menelan biaya 3,5 miliar peso (69,54 juta dolar Amerika Serikat).</p><p><br></p><p>Departemen Kehakiman Filipina pada Senin memerintahkan Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk melihat dugaan bahaya terhadap kesehatan masyarakat, dan jika terdapat bukti yang meyakinkannya, pihaknya akan mengajukan tuntutan yang sesuai.</p><p><br></p><p>Tidak ada tanda bahwa pejabat kesehatan Filipina mengetahui ancaman saat mereka menjalani vaksinasi.</p><p><br></p><p>Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada sebuah makalah pada Juli 2016 bahwa vaksinasi kemungkinan tidak efektif secara teoritis, bahkan dapat meningkatkan risiko rawat inap di rumah sakit atau penyakit demam berdarah parah pada mereka yang tidak berpenyakit pada saat vaksinasi pertama tanpa memandang usia.</p><p><br></p><p>Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura mengatakan pekan lalu bahwa pihaknya menandai adanya risiko saat vaksin tersebut disetujui di sana pada Oktober 2016, dan bekerja dengan Sanofi untuk memperkuat peringatan risiko pada kemasan obat tersebut.</p><p><br></p><p>Menurut Sanofi di Manila, dari 19 izin untuk vaksinasi Dengvaxia dan diluncurkan di 11 negara, hanya dua di antaranya -Filipina dan Brasil- memiliki program publik untuk mengelola vaksin tersebut.(Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 24 Oktober 2018 - 08:47 WIB

Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 08:26 WIB

Real Madrid pungkasi paceklik kemenangan, atasi Plzen 2-1

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 08:07 WIB

Moeldoko: 8,7 juta pengangguran terserap, kemiskinan tinggal 9,8 persen

Ekonomi | 24 Oktober 2018 - 07:58 WIB

Pengamat: Polemik data beras baiknya diselesaikan akarnya

<p>Filipina pada Senin (4/12) memerintahkan penyelidikan mengenai imunisasi vaksin demam berdarah pada lebih dari 730 ribu anak-anak, yang dihentikan menyusul pengumuman perusahaan obat Prancis Sanofi bahwa vaksin tersebut dapat memperburuk penyakit pada beberapa penderita.</p><p><br></p><p>Lembaga swadaya masyarakat di Filipina mengatakan menerima informasi bahwa tiga anak-anak, yang divaksinasi dengan vaksin Dengvaxia pada April 2016, meninggal, namun Sanofi mengatakan bahwa tidak ada kematian dilaporkan sebagai akibat dari program tersebut.</p><p><br></p><p>"Sejauh yang kami tahu, dan sejauh yang kami sadari, tidak ada kematian dilaporkan terkait vaksinasi demam berdarah," kata Ruby Dizon, direktur kesehatan Sanofi Pasteur Filipina dalam jumpa pers di Manila.</p><p><br></p><p>Pada pekan lalu, Departemen Kesehatan Filipina menghentikan penggunaan vaksin Dengvaxia setelah Sanofi mengatakan bahwa vaksin itu harus betul-betul dibatasi karena bukti bahwa vaksin tersebut dapat memperburuk penyakit pada yang sebelumnya tidak pernah terpapar infeksi.</p><p><br></p><p>Dalam pernyataan dikeluarkan di Filipina, Sanofi menjelaskan "beberapa temuan baru", namun mengatakan bahwa evaluasi keselamatan jangka panjang vaksin tersebut menunjukkan secara signifikan bahwa lebih sedikit rawat inap demam berdarah pada orang yang divaksinasi pada usia sembilan tahun keatas dibandingkan dengan mereka yang belum divaksinasi.</p><p><br></p><p>Hampir 734 ribu anak berusia sembilan tahun ke atas di Filipina telah menerima satu dosis vaksin sebagai bagian dari program yang menelan biaya 3,5 miliar peso (69,54 juta dolar Amerika Serikat).</p><p><br></p><p>Departemen Kehakiman Filipina pada Senin memerintahkan Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk melihat dugaan bahaya terhadap kesehatan masyarakat, dan jika terdapat bukti yang meyakinkannya, pihaknya akan mengajukan tuntutan yang sesuai.</p><p><br></p><p>Tidak ada tanda bahwa pejabat kesehatan Filipina mengetahui ancaman saat mereka menjalani vaksinasi.</p><p><br></p><p>Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada sebuah makalah pada Juli 2016 bahwa vaksinasi kemungkinan tidak efektif secara teoritis, bahkan dapat meningkatkan risiko rawat inap di rumah sakit atau penyakit demam berdarah parah pada mereka yang tidak berpenyakit pada saat vaksinasi pertama tanpa memandang usia.</p><p><br></p><p>Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura mengatakan pekan lalu bahwa pihaknya menandai adanya risiko saat vaksin tersebut disetujui di sana pada Oktober 2016, dan bekerja dengan Sanofi untuk memperkuat peringatan risiko pada kemasan obat tersebut.</p><p><br></p><p>Menurut Sanofi di Manila, dari 19 izin untuk vaksinasi Dengvaxia dan diluncurkan di 11 negara, hanya dua di antaranya -Filipina dan Brasil- memiliki program publik untuk mengelola vaksin tersebut.(Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com