Kamis, 26 April 2018

Uji diam-diam penembakan rudal Korea Utara 'bahayakan penerbangan komersial'

Senin, 04 Desember 2017 23:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
Peluncuran rudal Korut
AFP/KCNA
Roket Korea Utara diperkirakan meledak saat masuk kembali ke atmosfer.

Maskapai penerbangan Cathay Pacific mengatakan awak pesawat mereka melaporkan sebuah penampakan yang mencurigakan di atas langit Jepang ketika Korea Utara melakukan uji coba rudal pada pekan lalu.

Maskapai tersebut membenarkan kepada BBC bahwa awak kapal menyaksikan "sesuatu yang diduga rudal melesat kembali ke atmosfer Bumi".

Mereka pun menambahkan bahwa saat uji coba rudal dilakukan, rute-rute penerbangan tidak berubah.

Pada tanggal 29 November Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik jenis baru antarbenua yang dilaporkan bisa menjangkau wilayah mana pun di AS.

Uji coba peluncuran rudal tersebut semakin meningkatkan ketegangan antara Korut dengan Korea Selatan dan AS, apalagi pada hari Senin (04/12) kedua negara tersebut memulai latihan udara bersama terbesar mereka dan Korea Utara mencapnya sebagai "provokasi habis-habisan".

Meledak dan hancur

Uji coba pada tanggal 29 November ini digambarkan oleh Pyongyang sebagai peluncuran rudal "paling kuat", berakhir di perairan Jepang namun melesat lebih tinggi dibanding uji coba sebelumnya.

Menurut harian South China Morning Post, Mark Hoey, pimpinan Cathay Pacific. mengatakan kepada stafnya dalam sebuah pesan bahwa "hari ini awak kapal CX893 melaporkan, 'Kami menyaksikan ledakan rudal Korea Utara yang kemudian hancur di dekat lokasi kami saat ini'".

Peluncuran misil tersebut kabarnya juga disaksikan oleh dua pesawat Korea Selatan dalam perjalanan dari AS ke Seoul.

Pesawat Cathay Pacific
AFP
Meskipun pesawat-pesawat ini dianggap aman dari uji coba rudal, namun resiko tetap mengintai.

Tidak seperti negara-negara lainnya, Korea Utara biasanya tidak mengumumkan uji coba rudalnya, yang berarti tak ada pemberitahuan tak pula diketahui jalurnya, dan ini menimbulkan risiko pada pesawat-pesawat terbang.

Pyongyang memiliki akses ke data penerbangan sipil internasional sehingga bisa mempelajari wilayah udara sebelum peluncuran.

Walaupun risiko insidennya sangat rendah, beberapa maskapai penerbangan mengambil berbagai pertimbangan.

Pada awal Agustus, Air France memperluas zona larangan terbang mereka di sekitar Korea Utara setelah salah satu pesawatnya terbang mendekati jalur rudal Korea Utara.

Latihan militer yang disebut dengan Vigilant Ace ini diadakan pada hari Senin antara AS dan Korea Selatan dan akan berlangsung selama lima hari.

Rudal Korut
AFP
Pesawat milter AS F-22 Raptor terbang di atas pangkalan udara di Gwangju saat latihan militer gabungan berlangsung.

Latihan tersebut akan melibatkan sekitar 230 pesawat, termasuk diantaranya dua lusin jet stealth, dan puluhan ribu personil militer.

Korea Utara sendiri mengecam latihan tersebut, dengan menyebut bahwa AS 'memohon-mohon untuk terjadinya perang nuklir" dan mereka akan "mempertimbangkan dengan serius" tindakan balasan terhadap latihan tersebut.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar