Sabtu, 15 Desember 2018 | 10:32 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Penyakit difteri masih ancam Indonesia, mengapa?

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2AS0KBR
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2AS0KBR
<p>Difteri hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular yang mengancam masyarakat Indonesia. Terbukti dengan belum hilangnya status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa provinsi.&nbsp;</p><p>Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri periode Oktober dan November 2017 yakni Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.&nbsp;</p><p>Sementara itu, sampai bulan November 2017, kejadian difteri terjadi di 95 kabupaten/kota yang terletak di 20 provinsi di Indonesia.&nbsp;</p><p>Menanggapi hal ini, Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan kondisi ini salah satunya merupakan akibat keengganan masyarakat diimunisasi.</p><p>"KLB difteri memang ada dan melulu. 66 persen kasus difteri tidak diimunisasi. Jadi ada yang menolak vaksin, ada yang karena kesadaran kurang," kata dia kepada ANTARA News di Jakarta, Senin (4/12).&nbsp;</p><p>Padahal, keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95 persen.</p><p>Bila memakai tolok ukur Universal Child Immunization (UCI), suatu wilayah dikatakan merata imunisasinya jika mencapai angka lebih dari 80 persen.</p><p>Lebih lanjut, munculnya KLB difteri bisa juga karena kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.&nbsp;</p><p>"Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya," tutur Jane.&nbsp;</p><p>WHO menganjurkan agar dilakukan imunisasi ulang dengan vaksin Td setiap 10 tahun untuk mencegah difteri.&nbsp;</p><p>Difteri disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae yang menyerang faring, laring atau tonsil. Penderita biasanya mengalami gejala seperti demam + 38º C, munculnya pseudomembran di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan tak mudah lepas serta mudah berdarah.</p><p>Gejala lainnya, sakit waktu menelan, serta leher membengkak seperti leher sapi (bullneck,) akibat pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Selain itu terjadi pula sesak nafas disertai suara mendengkur (stridor). (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 10:26 WIB

Dishub kerahkan 300 personel kawal pawai Persija

Hukum | 15 Desember 2018 - 10:15 WIB

Puspa Sumut tuntut RUU PKS segera disahkan

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:49 WIB

Pemkab Langkat raih penghargaan `Gerakan Menuju 100 Smart City`

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:37 WIB

Dansatgas TNI Konga tutup pelatihan CTC di Kongo

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:25 WIB

Masalah kesejahteraan diduga jadi motif penembakan 31 pekerja di Papua

Pembangunan | 15 Desember 2018 - 09:13 WIB

Gubernur Jabar targetkan seluruh daerah terhubung jalan tol

<p>Difteri hingga kini masih menjadi salah satu penyakit menular yang mengancam masyarakat Indonesia. Terbukti dengan belum hilangnya status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa provinsi.&nbsp;</p><p>Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, ada 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri periode Oktober dan November 2017 yakni Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.&nbsp;</p><p>Sementara itu, sampai bulan November 2017, kejadian difteri terjadi di 95 kabupaten/kota yang terletak di 20 provinsi di Indonesia.&nbsp;</p><p>Menanggapi hal ini, Direktur Surveilans dan Karantina Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi mengatakan kondisi ini salah satunya merupakan akibat keengganan masyarakat diimunisasi.</p><p>"KLB difteri memang ada dan melulu. 66 persen kasus difteri tidak diimunisasi. Jadi ada yang menolak vaksin, ada yang karena kesadaran kurang," kata dia kepada ANTARA News di Jakarta, Senin (4/12).&nbsp;</p><p>Padahal, keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yaitu minimal 95 persen.</p><p>Bila memakai tolok ukur Universal Child Immunization (UCI), suatu wilayah dikatakan merata imunisasinya jika mencapai angka lebih dari 80 persen.</p><p>Lebih lanjut, munculnya KLB difteri bisa juga karena kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.&nbsp;</p><p>"Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya," tutur Jane.&nbsp;</p><p>WHO menganjurkan agar dilakukan imunisasi ulang dengan vaksin Td setiap 10 tahun untuk mencegah difteri.&nbsp;</p><p>Difteri disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae yang menyerang faring, laring atau tonsil. Penderita biasanya mengalami gejala seperti demam + 38º C, munculnya pseudomembran di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan tak mudah lepas serta mudah berdarah.</p><p>Gejala lainnya, sakit waktu menelan, serta leher membengkak seperti leher sapi (bullneck,) akibat pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Selain itu terjadi pula sesak nafas disertai suara mendengkur (stridor). (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com