Minggu, 21 Oktober 2018 | 09:47 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Bau tak sedap merebak di Danau Maninjau

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Administrator
Sumber foto: http://bit.ly/2zQmvOK
Sumber foto: http://bit.ly/2zQmvOK
<p>Bau tak sedap merebak di sekitar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, karena sekitar 100 ton ikan milik para pembudidaya ikan keramba jaring apung di danau vulkanik itu mati dan membusuk.</p><p>Pada Selasa (/, seorang warga Maninjau, Jondra Putra (36), menuturkan bau menyengat mulai tercium dari Muko-muko Nagari Kotomalintang sampai ke Bayur. "Kondisi ini terjad)i semenjak Minggu (3/12) sampai hari ini," katanya.</p><p>Bau tidak sedap itu, menurut dia, merebak karena pembudidaya di Danau Maninjau membuang bangkai ikan ke danau. Ia berharap selanjutnya pembudidaya ikan mengumpulkan bangkai ikan dan menguburnya di tempat yang jauh dari pemukiman warga.</p><p>"Dengan cara itu, kondisi udara tidak akan tercemar dan wisatawan akan betah berada di danau tersebut," katanya.</p><p>Pembudidaya ikan keramba jaring apung, Tami (63), mengatakan dia membuang ikan yang sudah mati ke danau karena tidak punya tempat dan tenaga untuk mengubur ikan.</p><p>"Ini kendala kami sehingga ikan di buang ke dalam danau, beberapa hari ke depan daging ikan sudah habis terurai," katanya. </p><p>Wali Nagari Kotomalintang Nazirudin mengimbau pembudidaya ikan mengubur bangkai ikan atau menjadikannya sebagai makanan lele supaya tidak mencemari lingkungan.</p><p>"Imbauan ini sering kita sampaikan kepada pembudidaya saat pertemuan," katanya.</p><p>Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agam Hamdi mengatakan pemerintah tidak bisa menggunakan Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan penggelolaan lingkungan hidup untuk menindak pembudidaya yang mencemari danau karena mereka tidak memiliki izin.</p><p>"Apabila mereka memiliki izin dari pemerintah, maka izin usaha mereka akan kita cabut karena telah mencemari lingkungan," katanya.</p><p>Hingga 100 ton ikan nila yang dibudidayakan di Danau Maninjau semenjak Senin (27/11) mati akibat angin kencang disertai curah hujan tinggi melanda daerah itu semenjak Minggu (26/11).  Kematian ikan-ikan itu mencemari danau.</p><p>"Kita telah melarang pembudidaya melakukan aktifitas di danau untuk beberapa tahun ke depan," kata Hamdi. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Kriminalitas | 21 Oktober 2018 - 09:41 WIB

Salah sasaran, seorang remaja tewas dibacok

Aktual Dalam Negeri | 21 Oktober 2018 - 09:28 WIB

66 hari diterapkan, 36.643 pengendara langgar ganjil genap

Pembangunan | 21 Oktober 2018 - 09:15 WIB

Presiden resmikan Tol Bocimi akhir Oktober

Amerika | 21 Oktober 2018 - 08:50 WIB

Trump: AS akan mundur dari perjanjian nuklir dengan Rusia

Liga Italia | 21 Oktober 2018 - 08:26 WIB

Bermain imbang, Genoa akhiri start sempurna Juventus

<p>Bau tak sedap merebak di sekitar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, karena sekitar 100 ton ikan milik para pembudidaya ikan keramba jaring apung di danau vulkanik itu mati dan membusuk.</p><p>Pada Selasa (/, seorang warga Maninjau, Jondra Putra (36), menuturkan bau menyengat mulai tercium dari Muko-muko Nagari Kotomalintang sampai ke Bayur. "Kondisi ini terjad)i semenjak Minggu (3/12) sampai hari ini," katanya.</p><p>Bau tidak sedap itu, menurut dia, merebak karena pembudidaya di Danau Maninjau membuang bangkai ikan ke danau. Ia berharap selanjutnya pembudidaya ikan mengumpulkan bangkai ikan dan menguburnya di tempat yang jauh dari pemukiman warga.</p><p>"Dengan cara itu, kondisi udara tidak akan tercemar dan wisatawan akan betah berada di danau tersebut," katanya.</p><p>Pembudidaya ikan keramba jaring apung, Tami (63), mengatakan dia membuang ikan yang sudah mati ke danau karena tidak punya tempat dan tenaga untuk mengubur ikan.</p><p>"Ini kendala kami sehingga ikan di buang ke dalam danau, beberapa hari ke depan daging ikan sudah habis terurai," katanya. </p><p>Wali Nagari Kotomalintang Nazirudin mengimbau pembudidaya ikan mengubur bangkai ikan atau menjadikannya sebagai makanan lele supaya tidak mencemari lingkungan.</p><p>"Imbauan ini sering kita sampaikan kepada pembudidaya saat pertemuan," katanya.</p><p>Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Agam Hamdi mengatakan pemerintah tidak bisa menggunakan Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan penggelolaan lingkungan hidup untuk menindak pembudidaya yang mencemari danau karena mereka tidak memiliki izin.</p><p>"Apabila mereka memiliki izin dari pemerintah, maka izin usaha mereka akan kita cabut karena telah mencemari lingkungan," katanya.</p><p>Hingga 100 ton ikan nila yang dibudidayakan di Danau Maninjau semenjak Senin (27/11) mati akibat angin kencang disertai curah hujan tinggi melanda daerah itu semenjak Minggu (26/11).  Kematian ikan-ikan itu mencemari danau.</p><p>"Kita telah melarang pembudidaya melakukan aktifitas di danau untuk beberapa tahun ke depan," kata Hamdi. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com