Kamis, 14 Desember 2017

Mahasiswa Indonesia ditahan dan diusir dari Mesir: apa kaitan mereka dengan radikalisme?

Rabu, 06 Desember 2017 12:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!
mesir
AFP/Getty Images
Polisi antihuru-hara Mesir menahan seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar di Kairo saat unjuk rasa dukungan terhadap Ikhwanul Muslimin di dalam kampus, pada Desember 2013.

Duta Besar Indonesia di Kairo, Helmy Fauzi, mengaku kesulitan menemukan keterkaitan penahanan dan pendeportasian sejumlah mahasiswa Indonesia dengan radikalisme.

Helmy mengatakan aparat Mesir masih menahan seorang mahasiswa Indonesia dan mendeportasi empat lainnya dengan alasan 'keamanan nasional'. Akan tetapi, aparat Mesir tidak pernah menjelaskan secara rinci alasan tersebut.

"Mereka tidak pernah menginformasikan hasil pemeriksaan terhadap mahasiswa-mahasiswa kita. Kalau memang alasan keamanan, alasan terlibat dalam kelompok-kelompok atau kegiatan yang mengarah pada radikal atau ekstrem, kami tidak pernah diberitahu secara rinci. Apa, di mana, dengan siapa mereka berhubungan? Jadi kami sangat sulit sekali melihat keterkaitan antara penahanan ini dengan pertimbangan yang menyangkut soal keamanan nasional," papar Helmy.

Pada pertengahan November lalu, sebanyak lima mahasiswa Indonesia ditahan aparat Mesir. Dari kelimanya, empat orang telah dideportasi dan seorang lain masih ditahan, yaitu Muhammad Fitrah Nur Akbar.

Menurut Helmy Fauzi, Muhammad Fitrah Nur Akbar ditangkap saat razia warga negara asing yang dilakukan aparat keamanan. Fitrah, lanjut Helmy, memiliki paspor dan izin tinggal yang masih berlaku.

Dia merupakan mahasiswa Indonesia terkini yang ditahan sepanjang tahun ini. Hingga 4 Desember lalu, KBRI Kairo telah memfasilitasi deportasi sebanyak 18 mahasiswa.

Al Azhar
Getty Images
Salah satu gerbang Univrsitas Al Azhar, kairo, dalam sebuah foto dokumentasi ketika mahasiswa terlibat dalam sejumlah gerakan beberapa tahun lalu.

Apa motif tindakan aparat Mesir?

Walau pemerintah Mesir tidak pernah memberikan keterangan mengenai alasan penahanan dan pendeportasian mahasiswa Indonesia, Kedutaan di Kairo mencoba menelisik motif tindakan aparat Mesir.

Helmy Fauzi menerangkan bahwa rangkaian penangkapan warga negara asing dimulai sejak Mesir memberlakukan status darurat pada April 2017 yang diperpanjang mulai 13 Oktober 2017 hingga Desember 2017.

Alasan penangkapan tidak pernah dirilis secara umum. Namun, dari insiden sebelumnya, ada benang merah yang terpantau.

"Ada mahasiswa yang belajar dengan syekh yang tidak terafiliasi dengan Universitas Al Azhar langsung dianggap itu adalah kegiatan yang membahayakan kepentingan nasional Mesir, berhubungan dengan kelompok radikal atau ekstrem," kata Helmy.

Beberapa kasus penangkapan di Kota Samanoud, lanjutnya, jelas sekali indikasinya.

"Mereka (mahasiswa Indonesia) berguru kepada syekh-syekh atau ulama-ulama yang tidak sejalan dengan mazhab Al Azhar," ujarnya, merujuk pada ajaran Salafi.

Indikasi bahwa penahanan dan pendeportasian mahasiswa Indonesia terkait dengan politik dalam negeri Mesir dikuatkan Pangeran Arsyad, Ketua Perhimpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir.

"Mesir sekarang sedang dalam menjaga stabilitas nasional. Maka mereka sering melakukan razia untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penyusupan ke Mesir. Tahun ini banyak mahasiswa Indonesia yang dideportasi, bukan karena mereka terlibat organisasi teroris, tapi mereka berada dalam daerah yang tidak disenangi pemerintah atau daerah oposisi," kata Pangeran.

Dia kemudian menyebut Samanoud. Di kota itu terdapat enam mahasiswa Indonesia yang dideportasi karena, menurutnya, kota itu banyak dihuni kalangan Salafi "yang berseberangan dengan garis politik pemerintah Mesir".

Sikap aparat Mesir tersebut tidaklah asing bagi Taufik Damas, alumni Universitas Al Azhar yang kini menjabat wakil katib syuriah Nahdlatul Ulama di Jakarta.

Saat berkuliah di sana, dia mengenang ada salah satu rekannya yang terpengaruh gerakan radikal di Mesir.

"Pengaruhnya belum terlalu jauh, tapi sudah terdeteksi oleh intelijen era Presiden Hosni Mubarak. Pengawasan di sana sangat ketat, sehingga teman yang baru diindikasikan bergaul dengan orang Mesir yang radikal, sudah diciduk oleh pihak keamanan Mesir," kenangnya.

mesir
Reuters
Aparat keamanan Mesir secara kontinyu melakukan razia terhadap warga negara asing sejak pemberlakuan status darurat.

Pelabelan teroris

Dalam riset lembaga kajian Lowy Institute dan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) pada 2016, sebagian besar dari hampir 5.000 mahasiswa Indonesia di Mesir merupakan Muslim moderat yang berlawanan dengan ideologi kelompok ISIS.

Kalaupun ada mahasiswa yang teradikalisasi, jumlahnya sangat minim.

Nava Nuraniyah, peneliti IPAC, mencontohkan kasus Wildan Mukhollad yang merupakan mahasiswa Indonesia di Mesir yang berangkat ke Suriah untuk bertempur pada 2013.

Namun, Nava menegaskan, kasus itu tidak bisa digunakan untuk menggeneralisasikan ribuan mahasiswa Indonesia di Mesir.

"Secara garis besar, mahasiswa Indonesia di Mesir adalah moderat," ujarnya.

Menyoal penahanan dan pendeportasian 18 mahasiswa Indonesia sepanjang 2017, Nava mengingatkan untuk mencermati kasus mereka satu demi satu.

"Kalau misalnya ada yang teradikalisasi, dilihat dulu kelompoknya. Apakah Ikhwanul Muslimin, Salafi, atau ISIS?"

Menurut Nava, hal itu penting karena pemerintah Mesir punya kepentingan politik dengan pelabelan teroris.

"Konteks (teroris) beda di Mesir. Ada yang oposisi pakai jargon Islam tapi dianggap teroris karena dia oposisi. Jadi pelabelan teroris di Mesir agak bias," tutupnya.

Data KBRI di Kairo memperlihatkan jumlah WNI di Mesir per Oktober 2017 mencapai 7.594 orang. Dari jumlah tersebut, 4.975 di antara mereka adalah mahasiswa.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar