Sabtu, 15 Desember 2018 | 10:29 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Pengacara protes berkas Setnov dikatakan lengkap

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Administrator
Sumber foto: http://bit.ly/2Azq8tG
Sumber foto: http://bit.ly/2Azq8tG
<p>Fredrich Yunadi yang merupakan pengacara Ketua DPR Setya Novanto selaku tersangka kasus dugaan tindak pindana korupsi KTP elektronik (KTP-el) memrotes KPK yang sudah menyatakan lengkap berkas perkara tersebut.</p><p>"Kita mau bicara pada penyidik kenapa bisa dinyatakan lengkap padahal ada saksi-saksi yang belum dinyatakan diperiksa. Itu adalah hak tersangka dari pasal 65 (KUHAP) dan penyidik harus sadar kan mereka terikat dalam UU No. 20 taun 2002 tengan KPK di mana pasal 28 kan segala sesuatu di KUHAP itu berlaku bagi mereka," kata Fredrich di gedung KPK Jakarta, Rabu (6/12).</p><p>Pada Selasa (5/12), KPK menyatakan berkas penyidikan kasus KTP-e dengan tersangka Setya Novanto sudah selesai dan dinyatakan lengkap atau P21. Selanjutnya jaksa KPK punya waktu 14 hari untuk menyusun surat dakwaan Setnov.</p><p>"Tapi kan mereka penyidik itulah yang kami mintai pertanggungjawabannya di mana?" tambah Fredrich.</p><p>Fredich mengaku keberatan dengan sejumlah saksi meringankan yang diajukan oleh Setnov, tapi tidak dimasukkan dalam berkas pemeriksaan oleh KPK karena para saksi itu tidak menghadiri panggilan pemeriksaan KPK.</p><p>"Sekarang saya tanya mereka yang dipanggil itu orang pengangguran? Mereka kan yang dipanggil itu kan rektor universitas. Kan harus disesuaikan dengan waktunya rektor bukan dengan waktunya mereka (penyidik) yang menentukan. Jadi disinilah kesemena-menaan yang dilakukan KPK karena tidak menghormati hak seseorang," ucap Fredrich.</p><p>Menurut Fredrich, KPK takut karena akan menghadapi praperadilan yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (7/12). Praperadilan otomatis gugur jika perkara sudah memasuki materi persidangan.</p><p>"Ya karena mereka takut aja. Mereka kebakaran jenggot. Kenapa mereka ketakutan seperti itu? Dari sini kan kita bisa lihat mereka lakukan segala cara segala upaya untuk menghindari praperadilan. Tapi saya yakin pengadilan akan tetap dijalankan sebagaimana mestinya," ujar Fredrich.</p><p>Adapun saksi-saksi yang diajukan antara lain pengacara sekaligus Ketua Bidang Hukum Partai Golkar Rudi Alfonso, Plt Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Plt Sekjen Partai Golkar Aziz Syamsuddin, dan politikus Partai Golkar sekaligus Ketua Pansus Hak Angket KPK Agun Gunandjar Sudarsa. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 10:26 WIB

Dishub kerahkan 300 personel kawal pawai Persija

Hukum | 15 Desember 2018 - 10:15 WIB

Puspa Sumut tuntut RUU PKS segera disahkan

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:49 WIB

Pemkab Langkat raih penghargaan `Gerakan Menuju 100 Smart City`

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:37 WIB

Dansatgas TNI Konga tutup pelatihan CTC di Kongo

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:25 WIB

Masalah kesejahteraan diduga jadi motif penembakan 31 pekerja di Papua

Pembangunan | 15 Desember 2018 - 09:13 WIB

Gubernur Jabar targetkan seluruh daerah terhubung jalan tol

<p>Fredrich Yunadi yang merupakan pengacara Ketua DPR Setya Novanto selaku tersangka kasus dugaan tindak pindana korupsi KTP elektronik (KTP-el) memrotes KPK yang sudah menyatakan lengkap berkas perkara tersebut.</p><p>"Kita mau bicara pada penyidik kenapa bisa dinyatakan lengkap padahal ada saksi-saksi yang belum dinyatakan diperiksa. Itu adalah hak tersangka dari pasal 65 (KUHAP) dan penyidik harus sadar kan mereka terikat dalam UU No. 20 taun 2002 tengan KPK di mana pasal 28 kan segala sesuatu di KUHAP itu berlaku bagi mereka," kata Fredrich di gedung KPK Jakarta, Rabu (6/12).</p><p>Pada Selasa (5/12), KPK menyatakan berkas penyidikan kasus KTP-e dengan tersangka Setya Novanto sudah selesai dan dinyatakan lengkap atau P21. Selanjutnya jaksa KPK punya waktu 14 hari untuk menyusun surat dakwaan Setnov.</p><p>"Tapi kan mereka penyidik itulah yang kami mintai pertanggungjawabannya di mana?" tambah Fredrich.</p><p>Fredich mengaku keberatan dengan sejumlah saksi meringankan yang diajukan oleh Setnov, tapi tidak dimasukkan dalam berkas pemeriksaan oleh KPK karena para saksi itu tidak menghadiri panggilan pemeriksaan KPK.</p><p>"Sekarang saya tanya mereka yang dipanggil itu orang pengangguran? Mereka kan yang dipanggil itu kan rektor universitas. Kan harus disesuaikan dengan waktunya rektor bukan dengan waktunya mereka (penyidik) yang menentukan. Jadi disinilah kesemena-menaan yang dilakukan KPK karena tidak menghormati hak seseorang," ucap Fredrich.</p><p>Menurut Fredrich, KPK takut karena akan menghadapi praperadilan yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (7/12). Praperadilan otomatis gugur jika perkara sudah memasuki materi persidangan.</p><p>"Ya karena mereka takut aja. Mereka kebakaran jenggot. Kenapa mereka ketakutan seperti itu? Dari sini kan kita bisa lihat mereka lakukan segala cara segala upaya untuk menghindari praperadilan. Tapi saya yakin pengadilan akan tetap dijalankan sebagaimana mestinya," ujar Fredrich.</p><p>Adapun saksi-saksi yang diajukan antara lain pengacara sekaligus Ketua Bidang Hukum Partai Golkar Rudi Alfonso, Plt Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Plt Sekjen Partai Golkar Aziz Syamsuddin, dan politikus Partai Golkar sekaligus Ketua Pansus Hak Angket KPK Agun Gunandjar Sudarsa. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com