Rabu, 26 September 2018 | 18:39 WIB

Daftar | Login

kuping kiri paragames kuping kanan paragames
emajels

/

Australia Didorong Tangani Ketahanan Pangan di Asia Pasifik

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Mitra Elshinta Feeder    |    Editor : Administrator
<p>Upaya memberantas kelaparan di kawasan Asia Pasifik telah terhenti, padahal dilaporkan hampir 500 juta orang di kawasan ini kekurangan akses pangan yang cukup.</p><p>Kondisi ini memicu seruan agar Australia meningkatkan upayanya dalam menangani ketahanan pangan di kawasan tersebut.</p><p>Kundhavi Kadiresan, asisten direktur Organisasi Pangan dan Pertanian PBB untuk Asia Pasifik, mengatakan upaya menghapuskan kelaparan mengalami penurunan setahun terakhir.</p><p>Dia menyebutkan adanya tren kelaparan "yang mengganggu" di negara-negara tetangga Australia yaitu di Asia Tenggara.</p><p>"Di beberapa bagian kawasan ini melambat dan di bagian lainnya terhenti," katanya.</p><p>"Artinya, kita melihat pembalikan tren," kata Kadiresan.</p><blockquote class="comp-rich-text-blockquote comp-embedded-float-full source-blockquote" > <i class="fa fa-quote-left quote-marks" aria-hidden="true"></i> <div class="quote"> <p>&quot;Itu berarti di sejumlah negara, kita melihat meningkatnya kelaparan dan masalah terkait kekurangan gizi,&quot; katanya.</p> </div> <i class="fa fa-quote-right quote-marks" aria-hidden="true"></i> </blockquote><p>Menurut dia, saat ini sekitar 490 juta orang di kawasan tersebut kelaparan dan tidur dengan perut lapar setiap hari.</p><h2>Dari terobosan ke penurunan</h2><p>Dr Kadiresan pekan ini berada di Australia menemui Pemerintah Federal dan lembaga-lembaga bantuan pertanian.</p><p>Dia mengatakan Asia Tenggara, dulunya merupakan wilayah yang sukses dalam memberantas kelaparan, telah menyaksikan penurunan terbesar baru-baru ini.</p><p>"Asia Tenggara pada umumnya berjalan baik. Asia Selatan yang bermasalah dengan kelaparan dan gizi buruk, khususnya Pakistan, Bangladesh, India," kata Dr Kadiresan.</p><p>"Tapi laporan terbaru menunjukkan bagian wilayah tersebut cukup bagus dalam menurunkan kelaparan," katanya.</p><p>"Namun, dalam satu atau dua tahun terakhir, negara-negara di Asia Tenggara, khususnya di wilayah Mekong seperti Myanmar dan Thailand serta negara seperti Mongolia memiliki masalah cuaca serius," katanya.</p><p>"Produksi makanan sangat menurun. Itu berdampak pada keseluruhan jumlah orang dengan ketahanan pangan yang tidak aman," kata Dr Kadiresan.</p><div class="view-image-embed-full" > <div class="view-richTallCaptionByline linked" > <figure> <div class="component comp-image"> <img src="http://www.abc.net.au/cm/rimage/8886392-3x2-thumbnail.jpg?v=4" data-sizes="auto" data-src="http://www.abc.net.au/cm/rimage/8886392-3x2-thumbnail.jpg?v=4" data-srcset="http://www.abc.net.au/cm/rimage/8886392-3x2-thumbnail.jpg?v=4 160w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/8886392-3x2-small.jpg?v=4 220w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/8886392-3x2-medium.jpg?v=4 460w, http://www.abc.net.au/cm/rimage/8886392-3x2-large.jpg?v=4 700w " title="Nepal flooding" alt="A large groups of villagers gather on a mound of land surrounded by water" class="lazyload" data-expand="0" /> </div> <figcaption> <div class="caption">Menurut Dr Kadiresan, kejadian cuaca ekstrim mendorong penduduk di sejumlah negara kembali menjadi miskin dan kelaparan.</div> <div class="comp-rich-text credit clearfix" id="comp-rich-text7" > <p>Supplied: UNICEF/Lilu KC</p> </div> </figcaption> </figure> </div> </div><h2>Perubahan iklim</h2><p>Lebih dari 40 juta orang terkena dampak banjir di Asia Selatan di India, Bangladesh dan Nepal tahun ini. Diperkirakan 1.200 orang meninggal dunia.</p><p>Dr Kadiresan mengatakan cuaca ekstrem membuat orang kelaparan, terutama di daerah pedesaan.</p><p>"Insiden terkait cuaca ini menjadi sangat sulit, karena bagi mereka yang rentan dan baru keluar dari kemiskinan, kejutan cuaca semacam ini bisa sangat serius," katanya.</p><p>"Hal ini mendorong mereka kembali ke situasi kemiskinan dan kelaparan," ujarnya.</p><h2>Penelitian yang didanai Australia</h2><p>Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) merupakan lembaga di bawah Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT).</p><p>Lembaga ini membangun kemitraan untuk memecahkan masalah ketahanan pangan dan mengurangi kemiskinan di seluruh kawasan.</p><p>"Kami ingin bekerja sana dengan negara-negara tersebut, mengidentifikasi hambatan bagi petani agar lebih sukses," kata manajer kemitraan global ACIAR, Melissa Wood.</p><p>ACIAR mendanai riset pertanian yang bekerja sama dengan petani dalam menanam tanaman dengan sedikit air, cara menyimpan hasil panen dan memperbaiki akses ke pasar.</p><p>Wood menjelaskan bahwa Australia pada akhirnya akan diuntungkan dari riset mereka di kawasan ini.</p><p>"Kami bekerja sama soal mangga di Pakistan dan hal itu sangat berhasil karena akan mangga akan tersedia di Australia meski bukan musimnya," katanya.</p><p>"Mempromosikan konsumsi mangga sepanjang tahun, yang tentunya bagus buat industri di Australia dan negara pengimpor," jelasnya.</p><p>"Alasan lainnya mengapa bagus untuk bekerja sama pada tanaman yang juga ada di Australia, karena kita belajar banyak tentang hama dan penyakit serta ancaman terhadap tanaman ini yang mungkin tidak kita alami di Australia saat ini, tapi sepertinya akan kita alami nanti," ujarnya.</p><p>"Jika kita punya pengalaman dalam menghadapi hal itu, kita lebih mampu mengatasinya begitu ada serangan di Australia."</p><p><em>Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris <a class="external" href="http://www.abc.net.au/news/rural/2017-12-06/efforts-to-eradicate-asia-pacific-hunger-stalling/9222786" target="_blank" title="">di sini.</a></em></p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 26 September 2018 - 18:38 WIB

Ma`ruf Amin berterima kasih kepada keluarga Gus Dur

Ekonomi | 26 September 2018 - 18:17 WIB

Rupiah Rabu sore menguat tipis menjadi Rp14.891

Bencana Alam | 26 September 2018 - 18:06 WIB

Kabupaten Tambrauw diguncang gempa Magnitudo 5,4

Badminton | 26 September 2018 - 17:57 WIB

Tiga tunggal putra menangi laga Korea Terbuka

Ekonomi | 26 September 2018 - 17:48 WIB

Indef: Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2018, 5,1 persen

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com