Rabu, 24 Oktober 2018 | 08:56 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Pengamat: Kebijakan Trump atas Yerusalem hancurkan perdamaian

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Administrator
Sumber foto: http://bit.ly/2nCaM4q
Sumber foto: http://bit.ly/2nCaM4q
<p>Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi PhD mengatakan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah menghancurkan masa depan perdamaian di Timur Tengah.</p><p>"Agaknya Trump ingin mengubah kebijakan AS terhadap Palestina yang dulunya masih mengakomodasi kepentingan Palestina menjadi kebijakan yang secara penuh mendukung segala kepentingan dan kebijakan Israel," kata Yon yang juga Ketua Program Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI, di Jakarta, Kamis (7/12).</p><p>Padahal, katanya, Jerusalem sendiri diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai status quo dan Palestina sendiri tetap menjadikannya sebagai ibu kota Palestina merdeka.</p><p>Menurut Yon, Trump ingin menunjukkan secara terang-terangan sikap AS yang mendukung pelanggaran hak asasi terberat di dunia.</p><p>Di sisi lain, lobi Israel di AS dinilai telah berhasil meyakinkan Trump bahwa AS tidak bisa lagi setengah-setengah dalam mendukung Israel.</p><p>"Trump tidak peduli dengan perdamaian kawasan di Timur Tengah secara umum dan lebih memilih untuk memuaskan Israel sebagai mitra setianya di Timur Tengah," ujar dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI itu.</p><p>Oleh karena itu, tegas Yon, dunia internasional harus menolak kebijakan Trump yang tidak bertanggung jawab ini.</p><p>Di sinilah, lanjut Yon, dunia diuji ketulusannya dalam menciptakan perdamaian dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.</p><p>Dia menambahkan, membela Palestina tidak ada nilai ekonomisnya tetapi lebih pada tanggung jawab kemanusiaan.</p><p>Tapi, katanya, kalau dunia internasional termasuk Indonesia tidak peduli maka hancurlah tatanan dunia karena dikalahkan oleh kepentingan ekonomi.</p><p>"Solidaritas dunia perlu digalang guna mengisolasi AS dan Israel yang telah menunjukkan rendahnya komitmen terhadap perdamaian dunia," demikian Yon Machmudi. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 24 Oktober 2018 - 08:47 WIB

Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 08:26 WIB

Real Madrid pungkasi paceklik kemenangan, atasi Plzen 2-1

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 08:07 WIB

Moeldoko: 8,7 juta pengangguran terserap, kemiskinan tinggal 9,8 persen

Ekonomi | 24 Oktober 2018 - 07:58 WIB

Pengamat: Polemik data beras baiknya diselesaikan akarnya

<p>Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi PhD mengatakan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah menghancurkan masa depan perdamaian di Timur Tengah.</p><p>"Agaknya Trump ingin mengubah kebijakan AS terhadap Palestina yang dulunya masih mengakomodasi kepentingan Palestina menjadi kebijakan yang secara penuh mendukung segala kepentingan dan kebijakan Israel," kata Yon yang juga Ketua Program Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam UI, di Jakarta, Kamis (7/12).</p><p>Padahal, katanya, Jerusalem sendiri diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai status quo dan Palestina sendiri tetap menjadikannya sebagai ibu kota Palestina merdeka.</p><p>Menurut Yon, Trump ingin menunjukkan secara terang-terangan sikap AS yang mendukung pelanggaran hak asasi terberat di dunia.</p><p>Di sisi lain, lobi Israel di AS dinilai telah berhasil meyakinkan Trump bahwa AS tidak bisa lagi setengah-setengah dalam mendukung Israel.</p><p>"Trump tidak peduli dengan perdamaian kawasan di Timur Tengah secara umum dan lebih memilih untuk memuaskan Israel sebagai mitra setianya di Timur Tengah," ujar dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI itu.</p><p>Oleh karena itu, tegas Yon, dunia internasional harus menolak kebijakan Trump yang tidak bertanggung jawab ini.</p><p>Di sinilah, lanjut Yon, dunia diuji ketulusannya dalam menciptakan perdamaian dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.</p><p>Dia menambahkan, membela Palestina tidak ada nilai ekonomisnya tetapi lebih pada tanggung jawab kemanusiaan.</p><p>Tapi, katanya, kalau dunia internasional termasuk Indonesia tidak peduli maka hancurlah tatanan dunia karena dikalahkan oleh kepentingan ekonomi.</p><p>"Solidaritas dunia perlu digalang guna mengisolasi AS dan Israel yang telah menunjukkan rendahnya komitmen terhadap perdamaian dunia," demikian Yon Machmudi. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com