Sabtu, 15 Desember 2018 | 10:31 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

KPA: Ibu hamil perlu tes HIV

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Administrator
Sumber foto: http://bit.ly/2zUmQjt
Sumber foto: http://bit.ly/2zUmQjt
<p>Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Mataram dr Margaretha Chepas menyarankan semua ibu hamil tes HIV untuk menghindari bayi lahir dengan HIV.</p><p>"Apabila dari hasil tes tersebut menyatakan ibu positif HIV, maka ibu hamil harus rutin minum obat ARV atau anti retroviral agar bayi bisa lahir sehat, normal dan tanpa HIV," katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (7/12).</p><p>Dari pengalaman yang sudah dilakukan, katanya, dengan rutin meminum ARV sesuai ketentuan, beberapa kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA), bisa melahirkan bayi tanpa HIV bahkan hingga dua kali melahirkan.</p><p>"Oleh karena itu, kami berharap agar setiap ibu hamil bisa dilakukan tes HIV untuk mengantisipasi sekaligus menghindari anak lahir dengan HIV," katanya.</p><p>Apalagi, katanya, kasus HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga terus mengalami peningkatan yang saat ini terdapat 57 kasus HIV/AIDS terjadi pada ibu rumah tangga.</p><p>Sebanyak 57 kasus itu terbagi menjadi dua yakni 29 orang ibu rumah tangga dengan HIV dan 28 orang positif AIDS.</p><p>Menurutnya, jumlah ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS ini lebih tinggi dibangingkan dengan penjaja seks dengan jumlah kasus hanya 18 orang.</p><p>"Dari 18 orang positif HIV/AIDS itu, 5 orang HIV dan 13 orang AIDS. Jadi bisa dibayangkan bagaimana posisi ibu rumah tangga yang rentan terhadap HIV/AIDS," katanya.</p><p>Oleh karena itu, lanjutnya, peringatan Hari AIDS Sedunia 2017 tingkat Kota Mataram yang dilaksanakan pada 9 Desember 2017, dijadikan sebagai gerakan masyarakat untuk bersama-sama peduli dengan HIV, dikutip dari laman Antara.</p><p>Salah satunya dengan memahami pentingnya melakukan tes HIV sehingga status HIV dapat segera diketahui dan apabila positif bisa segera mendapatkan obat ARV.</p><p>Dengan demikian paradigma HIV/AIDS yang menakutkan dan mematikan berubah menjadi penyakit kronis yang dapat dikelola dan sudah ada obatnya.</p><p>"Selain itu, dengan mengetahui status kesehatan sejak dini maka kita telah melakukan perlindungan terhadap keluarga dan orang yang kita sayangi," katanya.</p><p>Berdasarkan data KPA Mataram, secara kolektif jumlah kasus HIV/AIDS sejak tahun 2001 sampai Oktober 2017 telah ditemukan 217 kasus HIV, 207 orang penderita AIDS dan 117 orang penderita meninggal.</p><p>Penyebab tertinggi kasus HIV/AIDS itu adalah heteroseks yang mencapai 57 persen, kemudian IDUs 20 persen, homoseks 15 persen, dan perinatal 4 persen, sisanya tidak diketahui dan karena transfusi.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 10:26 WIB

Dishub kerahkan 300 personel kawal pawai Persija

Hukum | 15 Desember 2018 - 10:15 WIB

Puspa Sumut tuntut RUU PKS segera disahkan

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:49 WIB

Pemkab Langkat raih penghargaan `Gerakan Menuju 100 Smart City`

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:37 WIB

Dansatgas TNI Konga tutup pelatihan CTC di Kongo

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:25 WIB

Masalah kesejahteraan diduga jadi motif penembakan 31 pekerja di Papua

Pembangunan | 15 Desember 2018 - 09:13 WIB

Gubernur Jabar targetkan seluruh daerah terhubung jalan tol

<p>Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Mataram dr Margaretha Chepas menyarankan semua ibu hamil tes HIV untuk menghindari bayi lahir dengan HIV.</p><p>"Apabila dari hasil tes tersebut menyatakan ibu positif HIV, maka ibu hamil harus rutin minum obat ARV atau anti retroviral agar bayi bisa lahir sehat, normal dan tanpa HIV," katanya kepada sejumlah wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (7/12).</p><p>Dari pengalaman yang sudah dilakukan, katanya, dengan rutin meminum ARV sesuai ketentuan, beberapa kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA), bisa melahirkan bayi tanpa HIV bahkan hingga dua kali melahirkan.</p><p>"Oleh karena itu, kami berharap agar setiap ibu hamil bisa dilakukan tes HIV untuk mengantisipasi sekaligus menghindari anak lahir dengan HIV," katanya.</p><p>Apalagi, katanya, kasus HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga terus mengalami peningkatan yang saat ini terdapat 57 kasus HIV/AIDS terjadi pada ibu rumah tangga.</p><p>Sebanyak 57 kasus itu terbagi menjadi dua yakni 29 orang ibu rumah tangga dengan HIV dan 28 orang positif AIDS.</p><p>Menurutnya, jumlah ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS ini lebih tinggi dibangingkan dengan penjaja seks dengan jumlah kasus hanya 18 orang.</p><p>"Dari 18 orang positif HIV/AIDS itu, 5 orang HIV dan 13 orang AIDS. Jadi bisa dibayangkan bagaimana posisi ibu rumah tangga yang rentan terhadap HIV/AIDS," katanya.</p><p>Oleh karena itu, lanjutnya, peringatan Hari AIDS Sedunia 2017 tingkat Kota Mataram yang dilaksanakan pada 9 Desember 2017, dijadikan sebagai gerakan masyarakat untuk bersama-sama peduli dengan HIV, dikutip dari laman Antara.</p><p>Salah satunya dengan memahami pentingnya melakukan tes HIV sehingga status HIV dapat segera diketahui dan apabila positif bisa segera mendapatkan obat ARV.</p><p>Dengan demikian paradigma HIV/AIDS yang menakutkan dan mematikan berubah menjadi penyakit kronis yang dapat dikelola dan sudah ada obatnya.</p><p>"Selain itu, dengan mengetahui status kesehatan sejak dini maka kita telah melakukan perlindungan terhadap keluarga dan orang yang kita sayangi," katanya.</p><p>Berdasarkan data KPA Mataram, secara kolektif jumlah kasus HIV/AIDS sejak tahun 2001 sampai Oktober 2017 telah ditemukan 217 kasus HIV, 207 orang penderita AIDS dan 117 orang penderita meninggal.</p><p>Penyebab tertinggi kasus HIV/AIDS itu adalah heteroseks yang mencapai 57 persen, kemudian IDUs 20 persen, homoseks 15 persen, dan perinatal 4 persen, sisanya tidak diketahui dan karena transfusi.</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com