Senin, 18 Desember 2017

Presiden Jokowi diharapkan hadiri perayaan Martha Christina Tiahahu

Kamis, 07 Desember 2017 13:57

Presiden Joko Widodo. Sumber foto: http://bit.ly/2iwtZ2n Presiden Joko Widodo. Sumber foto: http://bit.ly/2iwtZ2n
Ayo berbagi!

Presiden Joko Widodo diharapkan menghadiri perayaan dua abad pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu di Negeri Abobu, pulau Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah pada 2 Januari 2018.

Ketua panitia lokal perayaan dua abad Martha Christina Tiahahu, Lusy Peilouw, di Ambon, Kamis (7/12), mengatakan kehadiran Kepala Negara diharapkan sebagai penghormatan terhadap perjuangan pahlawan nasional perempuan melawan kolonialisme Belanda saat perang Pattimura pada 1817 "Kami mendukung Gubernur Maluku Said Assagaff telah mengundang Presiden Jokowi yang menyampaikan surat melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise saat berkunjung ke Ambon pada 25 Mei 2017," ujarnya.

Karena itu, para ahli waris, pemerintah maupun masyarakat Negeri Abubu bersama enam negeri tetangga sepulau Nusalaut telah mempersiapkan perayaan dua abad pahlawan nasional perempuan dengan dukungan Pemprov Maluku, Kodam XVI/Pattimura, Polda Maluku, Lantamal IX/ Ambon, Latupati Maluku dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) jajaran Pemprov Maluku.

"Kebanggaan bagi masyarakat Abubu maupun pulau Nusalaut, terutama perempuan Maluku sekiranya Presiden Jokowi memenuhi undangan Gubernur Said untuk menghadiri perayaan dua abad pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu," kata Lusy.

Ketua Latupati pulau Nusalaut, Decky Tanasale, memastikan perayaan dua abad pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu menjadi kebanggaan masyarakat setempat karena baru pertama kalinya dirayakan di negeri asalnya.

"Jadi perayaan ini merupakan kebanggaan masyarakat pulau Nusalaut sehingga Latupati bersama masyarakat tujuh negeri siap menyukseskan acara dengan puncaknya makan patita bersama dan diprakirakan melibatkan 3.000 orang," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Said menginginkan Presiden Jokowi menghadiri perayaan dua abad pahlawan nasional Martha yang merupakan anak dari Kapitan Paulus asal Negeri Abubu sebagai rekan seperjuangan pahlawan nasional Thomas Matulessy bergelar Kapitan Pattimura.

"Undangan disampaikan karena sebenarnya Presiden Jokowi berminat menghadiri perayaan dua abad pahlawan Pattimura di Saparua, kabupaten Maluku Tengah pada 15 Mei 2017 sehingga dipandang perlu mengundangnya di peringatan Martha," katanya.

Karena itu, Gubernur telah mengarahkan membentuk panitia bersama melibatkan SKPD dan melibatkan TNI/Polri serta masyarakat tujuh Negeri di pulau Nusalaut dalam rangka menyukseskan perayaan dua abad pahlawan Martha.

"Saya menyetujui permohonan ahli waris pahlawan nasional perempuan yang patut dihargai perjuangan maupun pengorbanannya bagi Bunda Pertiwi untuk merayakannya di Negeri Abubu," ujarnya.

Karena itu, perayaan dua abad pahlawan Martha haruslah dikemas seoptimal mungkin sehingga memotivasi semangat generasi muda, terutama kaum perempuan di Tanah Air agar mengikuti jejaknya untuk mengisi kemerdekaan dengan terobosan-terobosan strategis dalam menjawab mekanisme pemerintahan serta mengoptimalisasi pembangunan dan pelayanan sosial.

"Minimal dua abad perayaan pahlawan Martha menjadi momentum awal yang dikemas nantinya menjadi destinasi pariwisata rutin setiap tahun karena memiliki nilai historis didukung pesona wisata bahari menarik," kata Gubernur.

Dia juga mengarahkan pembangunan monumen Martha berupa patung baru di Negeri Abubu dengan arsitektur sejarah mendukung pengembangan pariwisata di pulau Nusalaut.

"Saya mendambakan patung pahlawan Martha diresmikan bertepatan dengan perayaan dua abadnya di Abubu yang rangkaian acaranya diprogramkan dihadiri warga asal Negeri ini sedunia," tandas Gubernur.

Sebelumnya, lima ahli waris pahlawanan nasional tersebut yakni Leonard, Frans, Alexander, Petrus maupun Martha Christina Tijahahu pada 18 Mei 2017 menyurati Gubernur Maluku, Said Assagaff untuk membangun monumen baru di Negeri Abubu karena yang lama dinilai tidak layak.

Martha dalam suatu operasi pembersihan kolonial Belanda pada Desember beserta 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa dengan kapal Eversten ke Pulau Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi.

Selama di atas kapal, kondisi kesehatan Martha semakin memburuk karena menolak makan dan pengobatan.

Akhirnya pada 2 Januari 1818, selepas Tanjung Alang, pulau Ambon, Martha menghembuskan nafas yang terakhir. Jenazah Martha disemayamkan dengan penghormatan militer.

Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, tertanggal 20 Mei 1969, Martha Christina Tijahahu yang lahir pada 4 Januari 1980 secara resmi diakui sebagai Pahlawan Nasional. (Ant)

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-DeN

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar