Jumat, 15 Desember 2017

Dunia internasional bereaksi atas pernyataan Trump mengenai Yerusalem

Kamis, 07 Desember 2017 11:48

Iklan di Israel terkait pernyataan Trump (sumber foto: http://bit.ly/2BEjf9F) Iklan di Israel terkait pernyataan Trump (sumber foto: http://bit.ly/2BEjf9F)
Ayo berbagi!

“Pernyataan saya hari ini menjadi awal dari pendekatan baru atas konflik antara Israel dan Palestina,” dengan perkataan itu, Presiden Donald Trump menjadi pemimpin AS pertama yang melenceng dari kebijakan luar negeri yang dijalankan oleh para pendahulunya terkait pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel. Baik administrasi dari Partai Demokrat maupun Republik menolak untuk mengakui keberadaan Yerusalem sebagai ibukota Israel, tanpa adanya solusi menyeluruh atas konflik Israel-Palestina.

Berbagai macam reaksi bermunculan menjelang maupun setelah pernyataan yang dilakukan pada hari Rabu (06/12) di Gedung Putih ini. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mendukung penuh tindakan Trump. Dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir Public Radio International, PM Netanyahu menyatakan, “Bangsa Yahudi dan negara Yahudi [merujuk pada Israel] akan selamanya berterima kasih pada Amerika Serikat atas keputusan tersebut."

Sementara itu, menjelang pernyataan oleh Trump, pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus secara tidak langsung mengkritik tindakan tersebut. Dalam sebuah audiensi rutin, Paus menyebut Yerusalem sebagai “kota yang unik,” dan selanjutnya menyatakan bahwa kota tersebut, “merupakan kota suci bagi penganut Yahudi, Kristen dan Islam, dimana tempat-tempat suci dari masing-masing agama tersebut dihormati serta memiliki tujuan khusus untuk perdamaian.” Hal ini merujuk secara langsung pada nama Yerusalem itu sendiri, yang dalam bahasa Ibrani berarti “Kota Perdamaian”.

Presiden Palestina, Mahmud Abbas secara eksplisit mengecam tindakan Donald Trump dan menurutnya aksi tersebut telah menganulir netralitas Amerika Serikat sebagai mediator dalam proses perdamaian antara Israel dan Palestina. “Ini adalah suatu hadiah bagi Israel,” dalam sebuah pernyataan di televisi setempat. Seperti dilansir Al Jazeera, keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel tidak digubris oleh pihak Palestina.

“Keputusan Presiden Trump tidak merubah kenyataan di kota Yerusalem dan tidak memberikan legitimasi bagi Israel atas persoalan ini,” kata Abbas.

Seperti diketahui, dalam tindakan sepihak Israel mencaplok Yerusalem Timur – yang dikehendaki Palestina menjadi ibukotanya – dalam Perang 1967 melawan Mesir, Suriah dan Yordania. Sementara bagian baratnya sendiri diambil alih dalam konlik Arab-Israel pada 1948 yang melahirkan negara Zionis Israel.

Pemerintah Indonesia sendiri prihatin atas hal ini dan mengkhawatirkan stabilitas kawasan Timur Tengah sebagai konsekuensi dari tindakan Presiden Donald Trump. Hal ini bahkan dianggap dapat membahayakan proses perdamaian Israel dan Palestina.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menyatakan, “"Kita sangat concern dengan rencana itu, dan kalau jadi dilakukan kita khawatir akan membahayakan proses perdamaian itu sendiri," di Gedung Indonesia Conference and Exhibition (ICE) Serpong, Banten, Kamis (7/12). Bahkan sebagai bentuk solidaritasnya, Menlu mengenakan keffiyeh (sebuah selendang khas Palestina) di sela-sela Bali Democracy Forum itu.

Media Tiongkok juga turut berkomentar atas diplomasi yang dianggap gegabah ini.

“Mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel tidak mengedepankan kepentingan nasional Amerika Serikat. Hal itu juga tidak akan memajukan usaha mencapai perdamaian di Timur Tengah,” tulisan ini diterbitkan di koran berbahasa Inggris milik Pemerintah Tiongkok, China Daily.

Presiden AS, Donald Trump memenuhi janji kampanyenya dengan pengakuan atas Yerusalem. Pendukung Trump dari kalangan evangelikal memang mendukung upaya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel. Bahkan, pilihan Trump dalam menggandeng Mike Pence, seorang politikus yang populer di kalangan evangelikal sebagai wakil presiden mencerminkan upaya menggaet popularitas dari segmen masyarakat AS ini. Motif politik domestik ketimbang pertimbangan keamanan dan stabilitas internasional ini kentara dalam tindakan diplomasi ini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar