Rabu, 24 Oktober 2018 | 08:58 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Tunggakan obat kronis BPJS Kesehatan Kudus capai Rp7,2 milyar

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
RSUD dr. Lukmonohadi Kudus. Foto: Sutini/Radio Elshinta.
RSUD dr. Lukmonohadi Kudus. Foto: Sutini/Radio Elshinta.
<p>Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) Kantor Cabang Kudus Jawa Tengah masih menunggak pembayaran obat kronis (obat untuk sakit kronis) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Lukmonohadi Kudus dari bulan September 2016 sampai bulan November 2017 ini mencapai sebesar Rp7,2 miliar.</p><p><br></p><p>Direktur Utama RSUD dr. Lukmonohadi Kudus, dr. Abdul Aziz Akhyar mengatakan pihaknya masih menanggung beban biaya yang belum dibayar oleh pihak BPJS Kesehatan. Baik itu berupa biaya rawat inap dan rawat jalan, termasuk biaya obat kronis. "Untuk tunggakan BPJS bulan Oktober yang sebesar Rp. 8,9 miliar, pertanggal 5 Desember kemarin, sudah dibayar. Namun, masih ada tagihan Rp. 1,1 miliar yang bulan September belum dibayar. Termasuk tagihan obat kronis", ujarnya kepada <strong style="font-style: italic;">Kontributor elshinta, Sutini, </strong>Kamis (7/12).</p><p><br></p><p>Dikatakan Aziz, obat&nbsp;kronis merupakan obat yang digunakan untuk penyakit kronis seperti obat diabetes, gagal ginjal dan lainnya. Dimana pihak BPJS Kesehatan dari bulan Oktober 2016 sampai bulan November 2017 belum dibayar, dengan rata-rata perbulan mencapai Rp500 juta. Sehingga total tagihan yang belum dibayar sebesar Rp7,2 miliar.&nbsp;</p><p><br></p><p>Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kudus Dodi Pamungkas menjelaskan pihak BPJS telah membayar klaim rawat inap dan rawat jalan tingkat lanjut sudah dibayar pertanggal 5 Desember 2017 kemarin.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Kami sudah bayar tunggakan September rawat inap sebesar Rp4,5 miliar sedangkan Rawat Jalan sebesar Rp2,6 miliar. Untuk bulan Oktober sebesar Rp8,9 miliar", kata Dodi.</p><p><br></p><p>Terkait obat kronis, menurut Dodi sudah dibayar meski masih ada yang proses verifikasi sehingga tunggakan tidak sebanyak itu. "Tagihan untuk obat kronis bukannya belum kami bayar, tapi proses verifikasi itu membutuhkan waktu lama dengan pihak RSUD dr. Lukmonohadi. Kendala itulah yang membuat pembayaran klaim cukup lama", tambahnya. </p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 24 Oktober 2018 - 08:58 WIB

Direktur CIA ke Turki terkait kasus Khashoggi

Bencana Alam | 24 Oktober 2018 - 08:47 WIB

Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 08:26 WIB

Real Madrid pungkasi paceklik kemenangan, atasi Plzen 2-1

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 08:07 WIB

Moeldoko: 8,7 juta pengangguran terserap, kemiskinan tinggal 9,8 persen

<p>Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) Kantor Cabang Kudus Jawa Tengah masih menunggak pembayaran obat kronis (obat untuk sakit kronis) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Lukmonohadi Kudus dari bulan September 2016 sampai bulan November 2017 ini mencapai sebesar Rp7,2 miliar.</p><p><br></p><p>Direktur Utama RSUD dr. Lukmonohadi Kudus, dr. Abdul Aziz Akhyar mengatakan pihaknya masih menanggung beban biaya yang belum dibayar oleh pihak BPJS Kesehatan. Baik itu berupa biaya rawat inap dan rawat jalan, termasuk biaya obat kronis. "Untuk tunggakan BPJS bulan Oktober yang sebesar Rp. 8,9 miliar, pertanggal 5 Desember kemarin, sudah dibayar. Namun, masih ada tagihan Rp. 1,1 miliar yang bulan September belum dibayar. Termasuk tagihan obat kronis", ujarnya kepada <strong style="font-style: italic;">Kontributor elshinta, Sutini, </strong>Kamis (7/12).</p><p><br></p><p>Dikatakan Aziz, obat&nbsp;kronis merupakan obat yang digunakan untuk penyakit kronis seperti obat diabetes, gagal ginjal dan lainnya. Dimana pihak BPJS Kesehatan dari bulan Oktober 2016 sampai bulan November 2017 belum dibayar, dengan rata-rata perbulan mencapai Rp500 juta. Sehingga total tagihan yang belum dibayar sebesar Rp7,2 miliar.&nbsp;</p><p><br></p><p>Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kudus Dodi Pamungkas menjelaskan pihak BPJS telah membayar klaim rawat inap dan rawat jalan tingkat lanjut sudah dibayar pertanggal 5 Desember 2017 kemarin.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Kami sudah bayar tunggakan September rawat inap sebesar Rp4,5 miliar sedangkan Rawat Jalan sebesar Rp2,6 miliar. Untuk bulan Oktober sebesar Rp8,9 miliar", kata Dodi.</p><p><br></p><p>Terkait obat kronis, menurut Dodi sudah dibayar meski masih ada yang proses verifikasi sehingga tunggakan tidak sebanyak itu. "Tagihan untuk obat kronis bukannya belum kami bayar, tapi proses verifikasi itu membutuhkan waktu lama dengan pihak RSUD dr. Lukmonohadi. Kendala itulah yang membuat pembayaran klaim cukup lama", tambahnya. </p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com