Senin, 18 Desember 2017

Yerusalem 'ibu kota Israel': Hamas serukan intifada baru, sebut Trump 'buka gerbang neraka'

Kamis, 07 Desember 2017 18:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Pemimpin Hamas, kelompok Islam Palestina yang sangat berpengaruh, Ismail Haniyeh, telah menyerukan intifada baru atau gerakan perlawanan rakyat, setelah Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Kita harus menyerukan dan melakukan intifada dalam menghadapi musuh Zionis," kata Haniyeh dalam pidato di Gaza, hari Kamis (07/11).

"Mari kita jadikan tanggal 8 Desember sebagai hari dimulainya intifada terhadap kekuatan pendudukan," katanya.

"Kita sudah memberi instruksi kepada semua anggota Hamas dan semua sayap organisasi untuk siap menerima perintah baru untuk mengatasi ancaman terhadap Yerusalem dan Palestina."

Intifada pertama untuk menentang pendudukan Israel berlangsung mulai 1987 hingga 1993 dan yang kedua dimulai pada 2000.

Warga Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat hari Kamis ini menggelar aksi protes dan pemogokan.

Sebelumnya, pejabat Hamas, Ismail Ridwan, mengatakan keputusan Presiden Trump akan 'membuka gerbang neraka' bagi semua kepentingan AS di kawasan.

Ridwan juga mendesak negara-negara Arab dan Islam memutus hubungan politik dan ekonomi dengan kedutaan besar Amerika Serikat dan mengusir duta besarnnya untuk melumpuhkan keputusan itu.

Presiden Donald Trump mengumumkan secara resmi pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke kota itu, Rabu (06/12).

"Hari ini Yerusalem adalah kursi bagi pemerintah modern Israel, rumah bagi parlemen Israel, Knesset, rumah bagi Mahkamah Agung," tuturnya dalam pernyataan pers di Gedung Putih.

Tak lama setelah pengumuman itu, PBB langsung mengecamnya, yang disampaikan langsung oleh Sekjen Antonio Guterres di New York.

"Dalam momen yang amat mencemaskan ini, saya ingin membuat jelas. Tidak ada alternatif bagi penyelesaian dua negara. Tidak ada rencana B."

"Saya akan menggunakan semua hal dalam wewenang saya untuk mendukung para pemimpin Israel dan Palestina kembali ke perundingan yang berarti," tegas Guterres kepada para wartawan.

Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera mengeluarkan pernyataan yang memuji.

"Ini merupakan hari bersejarah. Kota itu sudah menjadi ibu kota Israel selama hampir 70 tahun. Yerusalem menjadi fokus dari harapan kami, mimpi kami, doa kami untuk tiga milenia. Yerusalem sudah menjadi ibu kora umat Yahudi selama 3.000 tahun."

Sebelum pengumuman Presiden Trump ini sejumlah pemimpin dunia sudah lebih dulu memperingatkan agar pemindahan ibu kota itu tidak sampai ditempuh.

Paus Fransiskus mengatakan tidak bisa mendiamkan keprihatinan mendalam atas situasi yang muncul dalam beberapa hari belakangan.

"Pada saat yang sama, saya memohon dengan sangat agar semua menghormati status quo (keadaan sementara) kota itu, sejalan dengan resolusi-resolusi PBB yang relevan."

Sementara Cina dan Rusia mengungkapkan kekhawatiran bahwa langkah tersebut akan mengarah pada ketegangan di kawasan.

___________________________________________________________________

Sumber frustrasi

Analisis Yolande Knell, wartawan BBC News di Yerusalem

Para pemimpin Israel akan melihat pengumuman Presiden Trump sebagai koreksi atas sejarah ketidakadilan.

Masalah ini sudah lama menjadi sumber rasa frustasi Israel bahwa Amerika Serikat -sekutu erat mereka- tidak memiliki kedutaan besar di Yerusalem atau secara resmi mengakui kedaulatan Israel atas kota itu, tempat duduknya pemerintahan Israel dan memiliki sejarah Yahudi selama 3.000 tahun.

Namun Presiden Otorita Palestina, Mahmoud Abbas -seperti para pemimpin dunia Arab lainnya- sejak awal memperingatkan bahwa keputusan memindahkan kedutaan besar akan merusak upaya perundingan damai yang ditengahi Washington untuk mencapai yang disebut sebagai 'kesepakatan akhir'.

Palestina ingin Yerusalem Timur yang diduduki itu menjadi ibu kota bagi negara masa depan mereka dan di masa lalu bahkan perubahan kecil sekalipun, khususnya di kompleks Masjid al-Aqsa yang dikenal sebagai Temple Mount, memicu kekerasan.

Dan kelompok Islam radikal, Hamas, sudah memperingatkan bahwa Amerika Serikat bisa memicu perlawanan baru Palestina dengan pemindahan kedutaan besarnya.

___________________________________________________________________

Kenapa status Yerusalem amat peka?

Masalah tentang status Yerusalem ini akan membawa ke akar konflik antara Israel dan Palestina, yang mendapat dukungan dari negara Arab dan umat Islam dunia.

Kota ini merupakan tempat situs-situs suci yang penting bagi pemeluk Yudaisme, Islam, dan Kristen, khususnya Yerusalem Timur.

Israel menganggap seluruh kota sebagai ibu kota yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Berdasarkan kesepakatan damai Israel-Palestina tahun 1993, status akhir atas Yerusalem akan dibahas dalam tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari.

Namun sejak tahun 1967, Israel sudah membangun belasan kawasan permukiman -untuk menampung 200.000 warga Yahudi- di Yerusalem Timur. Langkah itu dianggap melanggar hukum internasional walau posisi ini selalu diabaikan oleh Israel.

Dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, maka Amerika Serikat akan memperkuat posisi Israel bahwa permukiman di kawasan timur kota itu merupakan komunitas Israel yang sah.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar