Rabu, 24 Oktober 2018 | 08:55 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Tes HIV untuk ibu hamil berisiko tinggi

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Devi Novitasari    |    Editor : Administrator
Sumber foto: http://bit.ly/2zUmQjt
Sumber foto: http://bit.ly/2zUmQjt
<p>Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan tes HIV untuk ibu hamil dilakukan pada ibu dengan potensi risiko tinggi.</p><p>"Potensi risiko tinggi yang dimaksudkan adalah apabila ibu hamil memiliki riwayat yang bisa menjadi penyebab penularan HIV/AIDS baik dari suami maupun istri," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Jumat (8/12).</p><p>Semestinya, kata dia, semua ibu hamil perlu mendapatkan pelayanan tes HIV untuk menghindari bayi lahir dengan HIV, namun hal itu belum dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran.</p><p>Usman menyebutkan, anggaran yang digunakan untuk tes HIV ibu hamil pada 11 puskesmas di Mataram, merupakan dana bantuan dari pemerintah provinsi sehingga pelayanan ini diberikan secara gratis.</p><p>Sementara anggaran dari APBD Kota Mataram belum ada, sehingga jika pemerintah kota berkomitmen melakukan penanganan kasus HIV/AIDS sejak dini, dukungan anggaran dari pemerintah kota juga perlu dialokasikan.</p><p>"Karenanya, tahun depan kita akan coba mengusulkan anggaran untuk mendukung pelaksanaan tes HIV untuk ibu hamil, agar tes HIV bisa dilaksanakan pada setiap ibu hamil dengan proyeksi sekitar 9.000 hingga 10 ribu ibu hamil," katanya.</p><p>Usman menambahkan, untuk memberikan kemudahan akses layanan HIV komprehensif berkesinambungan di Kota Mataram telah tersedia 11 puskesmas yang siap melayani masyarakat di enam kecamatan.</p><p>Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Mataram dr Margaretha Chepas sebelumnya menyarankan agar semua ibu hamil perlu dites HIV untuk menghindari bayi lahir dengan HIV.</p><p>"Apabila dari hasil tes tersebut menyatakan ibu positif HIV, maka ibu hamil harus rutin minum obat ARV atau anti retroviral agar bayi bisa lahir sehat, normal dan tanpa HIV," katanya.</p><p>Dari pengalaman yang sudah dilakukan, katanya, dengan rutin meminum ARV sesuai ketentuan, beberapa kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA), bisa melahirkan bayi tanpa HIV bahkan hingga dua kali melahirkan.</p><p>"Oleh karena itu, kami berharap agar setiap ibu hamil bisa dilakukan tes HIV untuk mengantisipasi sekaligus menghindari anak lahir dengan HIV," katanya.</p><p>Apalagi, katanya, kasus HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga terus mengalami peningkatan dimana saat ini terdapat 57 kasus HIV/AIDS terjadi pada ibu rumah tangga.</p><p>Sebanyak 57 kasus itu terbagi menjadi dua yakni 29 orang ibu rumah tangga dengan HIV dan 28 orang positif AIDS.</p><p>Jumlah ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS ini lebih tinggi dibangingkan dengan penjaja seks dengan jumlah kasus hanya 18 orang.</p><p>"Dari 18 orang positif HIV/AIDS itu, 5 orang HIV dan 13 orang AIDS. Jadi bisa dibayangkan bagaimana posisi ibu rumah tangga yang rentan terhadap HIV/AIDS," katanya. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Bencana Alam | 24 Oktober 2018 - 08:47 WIB

Gunung Anak Krakatau alami 336 kegempaan letusan

Liga Champions | 24 Oktober 2018 - 08:26 WIB

Real Madrid pungkasi paceklik kemenangan, atasi Plzen 2-1

Aktual Dalam Negeri | 24 Oktober 2018 - 08:07 WIB

Moeldoko: 8,7 juta pengangguran terserap, kemiskinan tinggal 9,8 persen

Ekonomi | 24 Oktober 2018 - 07:58 WIB

Pengamat: Polemik data beras baiknya diselesaikan akarnya

<p>Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan tes HIV untuk ibu hamil dilakukan pada ibu dengan potensi risiko tinggi.</p><p>"Potensi risiko tinggi yang dimaksudkan adalah apabila ibu hamil memiliki riwayat yang bisa menjadi penyebab penularan HIV/AIDS baik dari suami maupun istri," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Jumat (8/12).</p><p>Semestinya, kata dia, semua ibu hamil perlu mendapatkan pelayanan tes HIV untuk menghindari bayi lahir dengan HIV, namun hal itu belum dapat dilakukan karena keterbatasan anggaran.</p><p>Usman menyebutkan, anggaran yang digunakan untuk tes HIV ibu hamil pada 11 puskesmas di Mataram, merupakan dana bantuan dari pemerintah provinsi sehingga pelayanan ini diberikan secara gratis.</p><p>Sementara anggaran dari APBD Kota Mataram belum ada, sehingga jika pemerintah kota berkomitmen melakukan penanganan kasus HIV/AIDS sejak dini, dukungan anggaran dari pemerintah kota juga perlu dialokasikan.</p><p>"Karenanya, tahun depan kita akan coba mengusulkan anggaran untuk mendukung pelaksanaan tes HIV untuk ibu hamil, agar tes HIV bisa dilaksanakan pada setiap ibu hamil dengan proyeksi sekitar 9.000 hingga 10 ribu ibu hamil," katanya.</p><p>Usman menambahkan, untuk memberikan kemudahan akses layanan HIV komprehensif berkesinambungan di Kota Mataram telah tersedia 11 puskesmas yang siap melayani masyarakat di enam kecamatan.</p><p>Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Mataram dr Margaretha Chepas sebelumnya menyarankan agar semua ibu hamil perlu dites HIV untuk menghindari bayi lahir dengan HIV.</p><p>"Apabila dari hasil tes tersebut menyatakan ibu positif HIV, maka ibu hamil harus rutin minum obat ARV atau anti retroviral agar bayi bisa lahir sehat, normal dan tanpa HIV," katanya.</p><p>Dari pengalaman yang sudah dilakukan, katanya, dengan rutin meminum ARV sesuai ketentuan, beberapa kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA), bisa melahirkan bayi tanpa HIV bahkan hingga dua kali melahirkan.</p><p>"Oleh karena itu, kami berharap agar setiap ibu hamil bisa dilakukan tes HIV untuk mengantisipasi sekaligus menghindari anak lahir dengan HIV," katanya.</p><p>Apalagi, katanya, kasus HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga terus mengalami peningkatan dimana saat ini terdapat 57 kasus HIV/AIDS terjadi pada ibu rumah tangga.</p><p>Sebanyak 57 kasus itu terbagi menjadi dua yakni 29 orang ibu rumah tangga dengan HIV dan 28 orang positif AIDS.</p><p>Jumlah ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS ini lebih tinggi dibangingkan dengan penjaja seks dengan jumlah kasus hanya 18 orang.</p><p>"Dari 18 orang positif HIV/AIDS itu, 5 orang HIV dan 13 orang AIDS. Jadi bisa dibayangkan bagaimana posisi ibu rumah tangga yang rentan terhadap HIV/AIDS," katanya. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com