Jumat, 19 Oktober 2018 | 12:56 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Difteri picu gagal jantung dan berhenti bernafas

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis :    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2nIXseI
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2nIXseI
<p>Jika penderita difteri batuk, walaupun di sekitarnya tidak ada yang terinfeksi, namun udara di situ akhirnya sudah terinteksi wabah difteri.</p><p>Hal tersebut disampaikan Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, saat dihubungi Elshinta, Jumat (8/12), terkait <a href="https://elshinta.com/news/129642" rel="nofollow">wabah difteri yang sudah mewabah di 95 kabupaten kota di Indonesia.</a></p><p>Menurutnya, penyebaran mudah terjadi di tempat padat orang atau jika <a href="https://elshinta.com/news/129655" rel="nofollow">seseorang kerap bertemu orang lain di suatu lingkungan.</a></p><p>"Setelah <a href="https://elshinta.com/news/129645" rel="nofollow">dia terinfeksi</a>, barulah dia bisa menyebar-nyebarkan," kata dia.&nbsp;</p><p>Menurutnya, langkah pencegahan hanya ada satu cara, yaitu imunisasi. "Jadi ciri-ciri kuman ini, selaput yang dia keluarkan itu, itu tebal, bisa menutupi jalan nafas sehingga tidak bisa bernafas," ungkapnya.</p><p>Bagi petugas medis di Indonesia, lanjut Elizabeth, hal tersebut masih bisa ditangani dengan cara dilubangi untuk dimasukkan selang oksigen.</p><p>"Yang tidak bisa, yang sulit adalah, karena kuman ini bisa memproduksi racun atau toksin. Racunnya itu akan melumpuhkan otot jantung atau melumpuhkan saraf. Jadi orang itu bisa meninggal karena gagal jantung atau berhenti nafas," jelasnya.&nbsp;</p><p>Hal tersebut, tandas dia, <a href="https://elshinta.com/news/129650" rel="nofollow">hanya bisa diantisipasi dengan anti difteri serum dan harus dengan segera diberikan dalam waktu lima hari. "Lewat dari itu lewat, umumnya gagal,"</a> pungkasnya.&nbsp;</p><p><br></p><p><br></p><p>Penulis: Yuno.</p><p>Editor: Dewi Rusiana.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 12:42 WIB

Kepala BKN resmikan kantor UPT Lampung

Megapolitan | 19 Oktober 2018 - 12:26 WIB

DPRD DKI Jakarta setujui usulan anggaran ERP

Aktual Dalam Negeri | 19 Oktober 2018 - 12:09 WIB

BNPB sambut baik penelitian terkait bencana

<p>Jika penderita difteri batuk, walaupun di sekitarnya tidak ada yang terinfeksi, namun udara di situ akhirnya sudah terinteksi wabah difteri.</p><p>Hal tersebut disampaikan Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, saat dihubungi Elshinta, Jumat (8/12), terkait <a href="https://elshinta.com/news/129642" rel="nofollow">wabah difteri yang sudah mewabah di 95 kabupaten kota di Indonesia.</a></p><p>Menurutnya, penyebaran mudah terjadi di tempat padat orang atau jika <a href="https://elshinta.com/news/129655" rel="nofollow">seseorang kerap bertemu orang lain di suatu lingkungan.</a></p><p>"Setelah <a href="https://elshinta.com/news/129645" rel="nofollow">dia terinfeksi</a>, barulah dia bisa menyebar-nyebarkan," kata dia.&nbsp;</p><p>Menurutnya, langkah pencegahan hanya ada satu cara, yaitu imunisasi. "Jadi ciri-ciri kuman ini, selaput yang dia keluarkan itu, itu tebal, bisa menutupi jalan nafas sehingga tidak bisa bernafas," ungkapnya.</p><p>Bagi petugas medis di Indonesia, lanjut Elizabeth, hal tersebut masih bisa ditangani dengan cara dilubangi untuk dimasukkan selang oksigen.</p><p>"Yang tidak bisa, yang sulit adalah, karena kuman ini bisa memproduksi racun atau toksin. Racunnya itu akan melumpuhkan otot jantung atau melumpuhkan saraf. Jadi orang itu bisa meninggal karena gagal jantung atau berhenti nafas," jelasnya.&nbsp;</p><p>Hal tersebut, tandas dia, <a href="https://elshinta.com/news/129650" rel="nofollow">hanya bisa diantisipasi dengan anti difteri serum dan harus dengan segera diberikan dalam waktu lima hari. "Lewat dari itu lewat, umumnya gagal,"</a> pungkasnya.&nbsp;</p><p><br></p><p><br></p><p>Penulis: Yuno.</p><p>Editor: Dewi Rusiana.</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com