Jumat, 15 Desember 2017

Difteri picu gagal jantung dan berhenti bernafas

Jumat, 08 Desember 2017 13:32

Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2nIXseI Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2nIXseI
Ayo berbagi!

Jika penderita difteri batuk, walaupun di sekitarnya tidak ada yang terinfeksi, namun udara di situ akhirnya sudah terinteksi wabah difteri.

Hal tersebut disampaikan Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, saat dihubungi Elshinta, Jumat (8/12), terkait wabah difteri yang sudah mewabah di 95 kabupaten kota di Indonesia.

Menurutnya, penyebaran mudah terjadi di tempat padat orang atau jika seseorang kerap bertemu orang lain di suatu lingkungan.

"Setelah dia terinfeksi, barulah dia bisa menyebar-nyebarkan," kata dia. 

Menurutnya, langkah pencegahan hanya ada satu cara, yaitu imunisasi. "Jadi ciri-ciri kuman ini, selaput yang dia keluarkan itu, itu tebal, bisa menutupi jalan nafas sehingga tidak bisa bernafas," ungkapnya.

Bagi petugas medis di Indonesia, lanjut Elizabeth, hal tersebut masih bisa ditangani dengan cara dilubangi untuk dimasukkan selang oksigen.

"Yang tidak bisa, yang sulit adalah, karena kuman ini bisa memproduksi racun atau toksin. Racunnya itu akan melumpuhkan otot jantung atau melumpuhkan saraf. Jadi orang itu bisa meninggal karena gagal jantung atau berhenti nafas," jelasnya. 

Hal tersebut, tandas dia, hanya bisa diantisipasi dengan anti difteri serum dan harus dengan segera diberikan dalam waktu lima hari. "Lewat dari itu lewat, umumnya gagal," pungkasnya. 

Penulis: Yuno.

Editor: Dewi Rusiana.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-FrY

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar