Selasa, 24 April 2018

Teori ahli mengenai latar keputusan Trump akui Yerusalem

Sabtu, 09 Desember 2017 10:28

Massa yang tergabung dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di depan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Jawa Timur. Sumber foto: http://bit.ly/2y95rSq Massa yang tergabung dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur menggelar aksi solidaritas untuk Palestina di depan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Jawa Timur. Sumber foto: http://bit.ly/2y95rSq
Ayo berbagi!

Ahli ilmu hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada Nur Rachmat Yuliantoro menilai keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Kota Yerusalem sebagai ibu kota Israel bisa membahayakan keamanan kawasan Timur Tengah, dan memaparkan beberapa teori mengenai alasan Trump mengambil keputusan itu.

"Apapun alasan keputusan itu, Trump berpotensi menciptakan Timur Tengah semakin memanas dan negara-negara di kawasan itu akan kehilangan kepercayaan kepada AS sebagai perantara dalam proses perdamaian," kata Rachmat saat berada di Jakarta, Sabtu (9/12).

Mengutip Antara, Kepala Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada itu memaparkan beberapa teori mengenai alasan Trump membuat keputusan yang melanggar kesepakatan internasional dan dikecam banyak negara tersebut.

Keputusan Trump tersebut, menurut dia, tidak lepas dari janjinya selama masa kampanye pemilihan presiden untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Trump melakukan ini untuk mempertahankan basis politiknya yang mulai rapuh karena sejumlah skandal yang melibatkan dirinya, khususnya soal hubungan dia dengan Rusia," kata Rachmat.

Selain itu, ada yang berpendapat keputusan Trump itu merupakan wujud ucapan "terima kasih" kepada lobi Yahudi di Amerika Serikat, khususnya pada Komite Hubungan Israel di Amerika (The American Israel Public Affairs Committee/AIPAC).

"AIPAC telah menggelontorkan banyak dana selama masa kampanye di Pilpres 2016 yang akhirnya dimenangkan oleh Trump," kata Rachmat menambahkan.

Namun, ia mengatakan, apa pun alasannya, kebijakan Trump tersebut akan berujung pada memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah.

"Meski Trump sendiri mengatakan bahwa pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan usaha untuk mempercepat proses perdamaian di Timur Tengah, tetapi yang akan terjadi adalah sebaliknya," katanya menegaskan.

Pada Rabu (6/12), Donald Trump membalikkan kebijakan yang telah dianut Washington selama berpuluh-puluh tahun dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Yerusalem merupakan kota suci yang menjadi isu sensitif dalam perundingan perdamaian Palestina-Israel serta menjadi topik utama pertentangan selama berpuluh-puluh tahun di antara para perunding Palestina dan Israel.

Pengakuan Trump itu mengundang kecaman dari seluruh dunia dan penentangan dari negara-negara Arab dan berpenduduk mayoritas Muslim serta mengecewakan negara-negara Barat.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-ank

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar