Minggu, 22 April 2018

Kelompok Yahudi ini tegas menolak pernyataan Trump soal Yerusalem

Selasa, 12 Desember 2017 14:49

Penganut Yahudi Ortodoks (sumber: http://bit.ly/2iSp3Vu) Penganut Yahudi Ortodoks (sumber: http://bit.ly/2iSp3Vu)
Ayo berbagi!

Ketika Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengumumkan rencana memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat di Israel ke Yerusalem sebagian besar warga negara Yahudi tersebut mendukungnya. Hal ini secara eksplisit merupakan pengakuan formal Yerusalem sebagai ibukota negara Zionis itu. Hal yang berdampak luas dengan penolakan bukan saja dari Palestina, ataupun negara-negara Arab yang mengelilingi Israel namun masyarakat internasional dunia pada umumnya, khususnya dari negara-negara berpenduduk mayoritas Islam, seperti juga di Indonesia. Namun, ada sebagian kelompok Yahudi, yang sejak pendirian negara Israel pada tahun 1948 telah secara konsisten menolak keberadaan negara itu, ataupun Yerusalem sebagai ibukotanya.

Pimpinan sekte Satmar Hasidic, yang berkedudukan di negara bagian New York dengan keras menolak pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh Amerika Serikat. Seorang rabbi (red: guru agama Yahudi) bernama Aaron Teitelbaum mengutuk pernyataan Donald Trump yang pekan lalu mengumumkan rencana pemindahan kedutaan besar negaranya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Atas nama Yahudi Haredi kami mengumumkan bahwa kota suci Yerusalem bukanlah ibukota negara Zionis, bahkan jika hal itu dinyatakan oleh presiden Amerika Serikat,” kata Teitelbaum dalam sebuah acara yang berlangsung di New York Expo Center, Bronx itu, dilansir harian The Times of Israel.

“Sebagaimana Yahudi Haredi juga menolak pernyataan Presiden Truman di tahun 1948 bahwa Israel merupakan negara Yahudi, kami juga tidak mengakuinya kini,” lanjutnya.

Satmar merupakan sebuah sekte Yahudi Haredi (red.: ortodoks) yang menolak gerakan Zionisme untuk mendirikan negara khusus bagi bangsa Yahudi.

Teitelbaum tengah berbicara dalam acara memperingati kala pendiri gerakan Satmar, Yoel Teitelbaum hijrah ke Amerika Serikat di tahun 1944 guna menghindari kejaran kaum Nazi di Eropa.

“Yerusalem adalah kota suci, sebuah kota kebersahajaan. Zionisme adalah kebalikan dari takut akan Tuhan dan mengikut kitab Taurat dan tidak ada sangkut pautnya dengan kota Yerusalem,” ditegaskan oleh Teitelbaum.

Selain sekte Satmar ini, terkenal juga suatu kelompok yang bernama Neturei Karta yang sangat keras menolak keberadaan negara Zionis Israel itu. Gerakan ini mengambil nama dari Bahasa Aramaik untuk “Penjaga Kota”. Dari situs resminya, Neturei Karta meyakini bahwa sesuai ajaran lisan bangsa Yahudi yang kemudian dibukukan dalam bentuk kitab Talmud, bangsa Yahudi dilarang untuk mendirikan sebuah negara sebelum kedatangan Moshiach yang merupakan keturunan nabi Daud.

Di antara kaum Yahudi Haredi terpecah antara mereka yang meyakini bahwa diperbolehkan untuk mengakui negara Israel dan mereka yang meyakini penafsiran Taurat dan Talmud sebagaimana dilakukan oleh sekte Satmar dan gerakan Neturei Karta ini. Meskipun demikian, karena sifat dari ajaran ortodoks mereka ini, maka berbagai upaya negara Israel untuk mengintegrasikan mereka ke dalam kehidupan sehari-hari warga Israel lainnya sering kali gagal. Wajib militer contohnya, yang merupakan kewajban bagi semua warga negaranya, baik lelaki maupun perempuan yang berusia 18 tahun, kecuali mereka yang keturunan Arab. Ketika mahkamah tinggi Israel memutuskan bahwa pengecualian bagi penganut Yahudi Ortodoks untuk ikut wamil tidak konstitusional di bulan September 2018, sejumlah besar penganut tersebut demo besar-besaran di Yerusalem.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar