Minggu, 22 April 2018

Naskah Klozfut Los hingga Sumpah Palapa di panggung MRT 2017

Senin, 01 Januari 2018 19:17

Istimewa. Foto: Prasetiyo/Radio Elshinta Istimewa. Foto: Prasetiyo/Radio Elshinta
Ayo berbagi!

Malam Renungan Teater 2017 pada Minggu (31/12) dibuka dengan penampilan memukau unit kegiatan mahasiswa teater di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP) Medan, Tirai dan membawakan naskah Klozfut Los karya dari seniman Agus Susilo.

Dalam penampilannya di panggung terbuka di Taman Budaya Sumatera Utara jam 16.30 WIB menarik perhatian puluhan pengunjung dari berbagai kalangan yang duduk podium menanjak.

Hardi Tri Prasetyo Bukit didampingi sekretaris, Depreni mengatakan, naskah Klosfut Los merupakan garapan kesekian kali Tirai di tahun ini dibantu seniman kenamaan Medan, Agus Susilo.

Naskah ini bercerita tentang persoalan potret keluarga yang dirundung persoalan pelik, di mana seorang ibu rumah tangga yang merupakan tulang rusuk berubah menjadi tulang punggung keluarga.

Di saat dia berperan sebagai ibu rumah tangga, dia juga harus berjuang mengurusi suaminya yang tidak mampu sebagai kepala keluarga.

Berbagai persoalan datang bertubi-tubi dan dan terus mendera dengan seabrek kebutuhan yang harus dipenuhinya.

"Naskah ini diperankan oleh saya, Hardi Prasetio Bukit, Tya Debria, Uzi Nainggolan, Depreni," katanya.

Dijelaskannya, pagelaran teater Klosfut Los merupakan satu dari rangkaian kegiatan yang ada dalam kegiatan di Malam Renungan Teater 2017. Tirai menjadi kelompok teater yang pertama kali membuka acara yang digelar seniman Sumatera Utara.

Lalu, dalam momen yang berbeda panggung sempat berguncang. Sebuah sumpah diucapkan dengan lantang. Semua terdiam, melihat dan meraba apa yang sebenarnya terjadi di panggung yang kadang bercayaha redup itu.

"Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa."

Sumpah tersebut menggema di panggung Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Minggu (31/12/2017). Ya, Sanggar Tetas dari Deli Serdang berhasil membangkitkan peristiwa berabad-abad yang lalu ke 'zaman now'.

Seluruh pemain berpakaian khas Jawa dan diiringi musik gamelan di hampir seluruh adegan. Suasana khas seperti menonton ketoprak yang sering dipentaskan di Jawa pun muncul di Medan.

Keseluruhan pemain tampil dengan prima. Terutama pemeran Gajah Mada yang tak miss sepatah kata pun ketika mengucapkan kaliman-kalimat panjang. Kemunculannya sejak awal memang memukau.

Dengan badan besar menjadikan kostumnya pas di badan. Sosok Mahapatih Gajah Mada ditampilkannya dengan gagah. Apalagi ketika mengucapkan sumpah amukti palapa dengan mencabut pedangnya dari pundaknya.

Namun sayang, di momen-momen penting tersebut, justru lampu dimatikan sedangkan Sang Mahapatih belun selesai mengucapkan sumpahnya.

Dijelaskan Ketua Malam Renungan Teater (MRT) Sumut 2017 Agus Susilo kepada Kontributor Elshinta, Prasetiyo bahwa MRT 2017 bertujuan untuk membangun ruang komunikasi antar kelompok/pelaku teater di Sumatera Utara dan  melahirkan kembali Forum Komunikasi Teater Sumut. Selain itu, kegiatan ini juga untuk menjalin komunikasi kreatif untuk menumbuh kembangkan budaya proses, literasi teater dan pertunjukan serta festival teater di Sumut.

Selain itu, penting juga untuk memunculkan ruang bersama menyusun langkah yang strategis dan sistemik dalam mengembangkan teater Sumut di tengah pusaran arus informasi dan teknologi serta membangun ruang bersama antara teater dengan penonton.

Kegiatan ini juga berupaya untuk memberikan edukasi teater ke generasi muda Sumut yang multietnik dan memberikan pemahaman tentang potensi ekonomi kreatif dalam kerja-kerja produksi teater.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-AnJ

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar