Rabu, 18 Juli 2018 | 23:27 WIB

Daftar | Login

Macro Ad

/

Minim, penulisan sejarah teater di Sumut

Sejarawan:

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Sigit Kurniawan    |    Editor : Administrator
Foto: Prasetyo.
Foto: Prasetyo.
<p>Medan memiliki sejarah besar dalam teater. Namun, tak banyak yang diungkap dan ditulis. Penulisan sejarah teater menjadi penting karenanya dan menjadi PR bagi yang peduli terhadap teater. Hal tersebut diungkapkan oleh Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Phil. Ichwan Azhari dalam diskusi teater di Malam Renungan Teater Sumatera Utara 2017 di Taman Budaya Sumatera Utara.</p><p><br></p><p>Kepada <i><strong>Kontributor Elshinta, Prasetiyo,</strong></i>&nbsp;Ichwan menyampaikan bahwa ada yang sesat atau ahistoris dalam membaca teater di Medan. Dia mencontohkan, di tahun 1980-an sudah ada kelompok teater Siklus namun ada&nbsp; kelompok teater yang menggunakan nama yang sama di tahun 1990-an tak mengetahuinya.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Saya bilang, ada pernah tahu nggak kalau teater siklus sudah ada sejak tahun 80-an, tidak. Saya ada di situ. Misalnya Timbul Siregar, main di Jalan Perdana. Tak kenal katanya. Rupanya siklus baru," katanya.</p><p><br></p><p>Dikatakannya, ada pernah yang bertanya kepada dirinya tentang sejarah teater di tahun 80-an. Menurutnya, ada ratusan kelompok teater unggul di Medan dan pemerintah tidak hadir.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Masalahnya, pemerintah tak peduli. Persetan pemerintah itu. Jadi ada ratusan kelompok teater di Medan tapi tak ada pemerintah. Ada pemerintah makin repot kita. Artinya kita jadi pengemis kepada pemerintah," katanya</p><p><br></p><p>Dia menuturkan, sejarah teater di Sumatera Utara harus ditulis untuk menunjukkan bagaimana perkembangan teater sejak dulu hingga sekarang. Misalnya Opera Batak, yang dihidupkan Thomson Hutasoit. Menurutnya, opera batak sudah ada sejak dulu dan sudah sangat modern. Mulai dari penggunaan nama opera menunjukkan kemodernannya.</p><p><br></p><p>Kemudian, di opera batak juga sudah&nbsp; ada naskah, pementasan keliling, mengorganisir karcis. Di&nbsp; Medan, lanjutnya, sudah 100 tahun lalu punya inisiatif karcis. Pementasan di tanah lapang ditutup dengan kain.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Saksi hidupnya, rektor kami, Syawal Gultom, punya paman pelopor teater opera batak dan dia cerita bahwa untuk bisa menonton teater modern di Samosir harus manjat pohon kelapa karena bayar. Bagaimana antusiasmenya nonton teater," katanya.</p><p><br></p><p>Dia menambahkan, teater modern termasuk ketoprak dor yang diciptakan orang-orang Jawa di tanah Sumatera. Ketoprak dor tercipta ketika mereka yang tercerabut dari akar Jawanya merindukan dan menghidupka budayanya.</p><p><br></p><p>"Mau pake bahasa apa, ini orang Magelang yang ini Banyumas. Tak ketemu dalam bahasa, akhirnya menggunakan bahasa Melayu. Alat musik dari Jawa tak dipake diganti dengan gendang Melayu. Ini orang Jawa, kostumnya tambal sulam tapi menghasilkan teater yang penontonnya ada dan tak perlu gedung," ungkapnya.</p><p><br></p><p>Dia merasa beruntung beberapa tahun lalu ada mahasiswa Unimed yang membuat tesis soal ketoprak dor lalu disambungnya dengan membuat disertasi tentang Ketoprak Dor di Universitas Airlangga.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Menurut saya itu teater modern. Opera batak itu teater modern. Saya menolak pembilangan teater tradisional, teater transisi, teater modern. Karena misalnya 100 tahun lalu ketiga jenis teater ini ada di waktu yang bersamaan," jelasnya.</p><p><br></p><p>Teater Mak Yong, kata dia, belakangan diperiksa, juga teater modern. Banyak sekali unsur-unsur modern yang ada di kelompok teater yang selama ini&nbsp; dilabeli teater tradisional.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Ada satu saya temukan sebelum Mak Yong. Katanya masuk dari Thailand, masuk melalui Malaysia dan berkembang di sini. Itu bukan teater bangsawan&nbsp; menggunakan bahasa Melayu. Di Medan sempat eksis 1902 - 1903," katanya dalam diskusi yang menghadirkan teaterawan nasional Rita Matumona, Darma Lubis, staff khusus Kemendikbud RI Alex Sihar dan teaterawan dari Malaysia, Ruslan Madun.</p><p><br></p><p>Dia menyinggung Undang-undang No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan tentang pendanaan riset teater. Pasalnya, banyak penelitian yang tak bisa dilakukan tanpa ada dukungan dana.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Saya sudah suruh mahasiswa saya untuk skripsi menulis teater. Ini salah satu cara merangsang mahasiswa menulis sejarah teater. Kebanyakan literaturnya di Belanda," jelasnya.</p><p><br></p><p>Staf khusus Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Alex Sihar mengatakan, di dalam UU No. 5/2017 tentang penelitian, bukan cuma disuruh tetapi ada pasal khusus yang mewajibkannya dan tak boleh dijalankan pemerintah. Pemerintah tugasnya hanya fasilitasi.&nbsp;</p><p><br></p><p>"Yang meneliti masyarakat. Bisa berdasarkan ilmiah maupun dengan metode tradisional. Karena tak mungkin memasukkan kerasukan dalam kerangka saintifik. Harus diakomodasi," ungkapnya.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pemilihan Presiden 2019 | 18 Juli 2018 - 21:46 WIB

Kemkominfo RI minta masyarakat tak percayai informasi hoax

Aktual Dalam Negeri | 18 Juli 2018 - 21:26 WIB

130 ASN di Kudus cuti Haji

Aktual Dalam Negeri | 18 Juli 2018 - 21:12 WIB

Wapres: Indonesia terbanyak tangani teroris

Aktual Dalam Negeri | 18 Juli 2018 - 20:58 WIB

Pertamina bangun masjid dan sekolah di Tapanuli Tengah

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com