Rabu, 17 Januari 2018

Memo dari Kedoya

2018 saatnya menjadi kaya

Rabu, 03 Januari 2018 21:09

foto: reza/elshinta.com foto: reza/elshinta.com
Ayo berbagi!

Salah satu ucapan tahun baru 2018 cukup menyita perhatian saya. “Kita harus kaya”, demikian bunyi pesannya. Dikirim melalui WhatsApp dari seseorang yang memang memiliki banyak kekayaan.

Semangat saya langsung tersulut, kondisi tahun 2017 yang kurang kondusif bakal berubah di tahun anjing 2018. Berbagai masalah yang berhubungan dengan kesusahan akan beres karena orang-orang pasti memilih menjadi kaya.

Orang kaya hidupnya lebih bahagia. Mereka mudah memperoleh apa saja yang dibutuhkan dan mendapatkan apa pun yang diinginkan. Semuanya bisa terpenuhi. Bukan sebaliknya. 

Saya masih ingat salah satu retail di pinggiran Ibu Kota mendadak lebih ramai dari biasanya. Keyboard seharga seratus ribu rupiah, dijual setengahnya. Lampu LED, hanya dua belas ribu rupiah. Di etalase lain, obeng, buku, pensil, handuk, kompor, gelas dan keset, semuanya ditempeli tulisan discount. Orang-orang ramai merubung, sebagian besar ibu-ibu.

Para pedagang mengeluh, banyak di antaranya menyerah. Mereka tidak sanggup meneruskan usaha. Jangankan membeli kebutuhan sekunder, untuk membeli kebutuhan pokok pun ibu-ibu harus memutar otak dan cermat mengatur keuangan rumah tangga. Menjaga kelangsungan dapur agar tetap mengepul, tidak bisa main-main.

Aksi melemparkan tabung gas berwarna menyerupai melon ke jalan raya oleh ibu-ibu di Gorotalo beberapa waktu lalu sebagai bentuk protes, tidak serta merta menyelesaikan masalah. Bahkan, satu demi satu toko-toko yang biasa disesaki pengunjung --saat hari libur-- mulai meredup kemudian tutup, menyisakan masalah penganguran.

Sebagian pekerja yang kehilangan rutinitasnya tidak tahu bagaimana nasib mereka kemudian. Tahun 2018 yang digadang-gadang lebih baik dari tahun 2017 masih samar-samar. Kenaikan rata-rata UMR sebesar 8,71 persen seperti tidak ada artinya. Indonesia masih berjuang.

Pada peringatan Hari Kebahagiaan Internasional Maret 2017, Indonesia tercecer di urutan ke-81. Norwegia dinobatkan sebagai negara yang paling bahagia penduduknya dari 155 negara versi Sustainable Development Solutions Network (SDSN). Ia menyalip Denmark yang pada tahun 2016 menempati urutan pertama disusul Islandia dan Swiss dengan skor beda tipis.

World Happiness Report 2017 yang dikeluarkan oleh PBB yang kelima kalinya itu, menggunakan enam faktor sebagai tolok ukur penilaian, yaitu pendapatan perkapita, dukungan sosial, hidup yang sehat, kebebasan sosial, kedermawanan, dan level korupsi. Indonesia merosot tiga tingkat dibanding tahun 2016, sementara Afrika Tengah di posisi terbawah.

Australia menempati urutan ke-9. Warga Sydney masuk kategori yang paling menderita, namun tingkat kebahagiaan warga yang tinggal di pemukiman paling miskin malah lebih tinggi. Pepatah uang tidak bisa membeli kebahagiaan terbukti benar. Liz Eckerman dari Universitas Deakin menyebut pengaruh uang pada kebahagiaan nyatanya hanya terasa pada golongan yang luar biasa kaya.

Meski di Negeri Kanguru tidak terdapat kesenjangan kemakmuran yang mencolok, survei yang dilakukan Eckerman menunjukkan kehidupan paling bahagia ada di lapisan bawah. Di antara 150 daerah survei, Wide Bay, merupakan salah satu termiskin di Australia, namun penduduknya paling bahagia. Mereka didominasi kaum perempuan, menikah dan berusia 55 tahun lebih.

Survei yang bertujuan mengungkap kepuasan seseorang terkait pencapaian hidup, kesehatan dan keamanan, memberikan kesimpulan hidup yang paling bahagia di Australia adalah penduduk miskin. Mereka paling merasa puas dengan standar hidup, puas dengan kesehatan, puas dengan yang mereka capai dan puas dengan keamanan lingkungan. Mereka miskin harta tetapi kaya dalam kepuasan hidup.

Indonesia bukan Australia, namun anak-anak muda di Indonesia termasuk yang paling bahagia di dunia. Survei yang dilakukan organisasi Inggris Varkey Foundation mencatat skor hingga 90 persen. Parameter kebahagiaan antara lain kepuasan hidup. Indonesia unggul dari 19 negara yang disurvei dengan posisi kedua diraih Nigeria, dan selanjutnya Israel, India, Argentina dan Amerika Serikat di urutan ke-6.

Pesan yang saya terima melalui WhatsApp ternyata masih berlanjut. A rich life means: You and your loved ones are healthy, Quality time with family, friends, People who love and trust you, Work that fills you with joy, pride, Opportunity to learn and grow, Freedom to express the true you, Courage to dare, dream and do, Wanting less.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-WiS

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar