Minggu, 21 Januari 2018

Kelompok milisi Rohingya bersumpah akan terus serang militer Myanmar

Senin, 08 Januari 2018 13:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Kelompok milisi di Myanmar yang beranggotakan minoritas muslim Rohingya menyatakan akan terus bertempur melawan pemerintah.

Serangan pada tahun lalu yang dilancarkan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) memicu balasan dari militer Myanmar. Pembalasan itu memaksa sekitar 650 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

ARSA menyebut mereka merupakan pihak yang menyergap truk tentara di negara bagian Rakhine, Jumat pekan lalu, yang melukai tiga orang.

Kelompok militan yang dianggap teroris oleh pemerintah Myanmar itu menyatakan, mereka bertempur untuk hak politik warga Rohingya.

Siapa ARSA?

Pusat aktivitas ARSA berada di Rakhine, negara bagian yang berada di wilayah utara Myanmar dan merupakan lokasi masyarakat etnik Rohingya menghadapi persekusi.

Pemerintah Myanmar menolak memberikan status kewarganegaraan kepada mereka dan menyebut kelompok masyarakat itu sebagai imigran gelap dari Bangladesh.

ARSA selama ini hanya melancarkan serangan sporadis, namun pada 25 Agustus 2017, mereka menyerang 30 polisi dan markas tentara. Serangan itu memicu balasan yang masif dari militer Myanmar.

Pada waktu yang hampir bersamaan, otoritas lokal menuduh milisi ARSA membunuh 28 warga pemeluk Hindu, yang jenazahnya diduga ditemukan dalam sebuah kuburan massal.

Jonathan Head, koresponden BBC di Asia Tenggara, menyebut tidak seluruh warga Rohingya mendukung ARSA. Jonathan berkata, ARSA tidak menyusun strategi secara matang.

Apa yang terjadi pada warga Rohingya?

Setidaknya 6.700 warga etnis Rohingya tewas sebulan setelah serangan ARSA pada otoritas sipil Myanmar, Agustus 2017. Data itu dihimpun Doctors Beyond Borders, organisasi kemanusiaan yang bekerja di daerah perang.

Usai melakukan investigasi internal, November lalu, angkatan bersenjata Myanmar mengklaim lembaga mereka tidak bersalah dalam krisis Rohingya. Mereka menyebut jumlah korban tewas dalam krisis itu berjumlah 400 orang.

Militer Myanmar mengklaim tidak membunuh satu pun warga Rohingya. Mereka juga menyebut tidak pernah memperkosa wanita dan anak perempuan kelompok minoritas itu.

Angkatan bersenjata Myanmar juga mengklaim tidak pernah membakar desa tempat tinggal etnik Rohingya atau menjarah harta benda di dalamnya.

Pernyataan otoritas Myanmar tersebut berbeda dengan fakta lapangan yang disaksikan koresponden BBC.

Sementara itu, pimpinan organisasi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut rentetan kejadian di Rakhine mirip operasi dasar pembasmian etnik.

Bangladesh dan Myanmar telah bekerja sama untuk memulangkan sebagian dari 650 ribu pengungsi Rohingya ke Rakhine.

Akan tetapi, hingga kini belum ada kejelasan tentang syarat pemulangan itu, termasuk apakah warga Rohingya dapat kembali ke desa mereka atau tinggal di kamp pengungsian.

Apa yang terjadi Jumat lalu?

Pemerintah Myanmar mengatakan, kendaraan militer yang tengah melarikan seseorang ke instalasi gawat darurat rumah sakit diserang sekitar 20 'teroris Bengali' dengan granat dan senjata rakitan.

Ahad (07/01) lalu, ARSA mengunggah pernyataan pimpinan mereka, Ata Ullah, di Twitter. Kelompok milisi itu mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam serangan tersebut.

ARSA menyatakan, "tidak ada pilihan lain kecuali melawan pemerintah Myanmar yang meneror etnik Rohingya, demi mempertahankan, menyelamatkan, dan melindungi komunitas Rohingya itu sendiri."

Kelompok milisi itu juga meminta warga etnis Rohingya mengkonsultasikan "kebutuhan hidup dasar dan masa depan politik mereka".

Apa yang mungkin terjadi setelah ini?

Jonathan Head, Koresponden BBC News di Bangkok

Otoritas militer Myanmar menganggap ARSA sebagai kelompok teroris Islam untuk menjustifikasi seluruh respons mereka pasca-serangan Agustus 2017.

ARSA mengumumkan gencatan senjata setelah serangan itu dan diperkirakan telah kehilangan kekuatan usai gelombang pengungsian warga Rohingya ke Bangladesh.

Bagaimanapun, pengeboman Jumat pekan lalu memperlihatkan sejumlah milisi Rohingya masih bertahan dari berbagai gempuran militer Myanmar.

ARSA menyebut akan terus melanjutkan serangan sebagai perjuangan yang sah ke otoritas Myanmar. Artinya, beragam serangan akan muncul setelah pengeboman Jumat pekan lalu.

Rencana ARSA ini sepertinya akan memperkuat tekad otoritas militer Myanmar melarang bantuan kemanusiaan internasional dan media massa masuk ke Rakhine.

Di sisi lain, situasi ini juga berpotensi membuat rencana pengembalian pengungsi Rohingya ke Rakhine semakin sulit terwujud.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar