Jumat, 19 Januari 2018

Cari solusi, PT. RUM, warga dan Pemkab Sukoharjo duduk bersama

Selasa, 09 Januari 2018 17:37

Foto: Deni Suryanti. Foto: Deni Suryanti.
Ayo berbagi!

Warga Nguter beserta instansi terkait, pemerintah daerah  dan PT Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo dipertemukan dalam satu forum di Desa Gupit, Selasa (9/1). Pertemuan tersebut untuk menyampaikan hasil uji laboratorium dugaan pencemaran yang dilakukan oleh PT. RUM. Sekaligus mencari solusi bersama terkait permasalahan limbah bau tak sedap yang muncul saat pabrik pengolahan benang rayon itu beroperasi.

Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya mengatakan, dalam forum bersama ini sekaligus meluruskan upaya pemkab dalam menjawab keresahan warga terhadap limbah bau dari PT. RUM. Banyak yang menuding pemkab tidak bertindak dengan adanya laporan warga. Namun pada kenyataanya, pemkab memberikan peringatan keras pada PT. RUM karena limbah yang mengganggu warga. Selain itu, pihaknya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten setempat melibatkan kalangan akademisi bidang lingkungan dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Fungsinya, menganalisa hasil uji laboratorium independen yang ditunjuk dari sejumlah sampel partikel gas.

Pihaknya, lanjut Bupati, menjamin apabila hasil analisa bahan yang mencemari udara wilayah sekitar pabrik berbahaya apalagi beracun, maka akan dikeluarkan surat perintah penutupan. Tetapi apabila hasilnya limbah tidak beracun dan berbahaya, maka masyarakat juga harus rela tidak mengganggu pabrik beroperasi. “Saya akan tutup pabrik kalau memang menimbulkan limbah yang berbahaya bagi warga. Ini bentuk tanggung jawab pemerintah, kami tidak abai,” ujar bupati seperti dilaporkan Kontributor elshinta, Deni Suryanti, Selasa (9/1).

Wardoyo menegaskan, keberadaan investasi di Sukoharjo dilindungi aturan hukum. Bukan berarti pemkab berpihak pada investor dan abai pada rakyatnya. Pemkab telah meminta perusahaan membereskan sumber bau yang muncul saat beroperasi.

Ahli lingkungan UNS, Prabang Setyono menyebutkan, hasil laboratorium uji partikel gas yang diambil dari sejumlah titik terpapar bau menunjukan kandungan berada di bawah baku mutu standar pencemaran. Artinya, bau menyengat yang dikeluhkan warga belum pada taraf berbahaya. Tetapi ada kemungkinan meningkat menjadi berbahaya kalau tidak ditangani. “Yang menimbulkan bau itu partikel gas H2S (hydrogen sulfide),” kata Prabang.

Dengan hasil tersebut, lanjut Prabang, pihaknya merekomendasikan solusi kepada pihak perusahaan agar mencari sumber bau dan memasang penyemprot untuk meminimalkan bau. Limbah cair juga harus ditangani dengan membuat kolam ikan di saluran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Ikan akan menjadi indicator alami air limbah yang dibuang setelah dilakukan pengolahan. Dia juga menyarankan agar pabrik ataupun warga membuat buffer zone berupa hutan atau pohon tertentu sebagai penangkap bau. “Bisa menanam pohon bunga atau yang mengeluarkan aroma sebagai penangkal bau busuk,” imbuhnya.

Salah satu warga Pengkol, Tomo dalam menanggapi pernyataan pemkab maupun ahli lingkungan bersikukuh meminta pabrik tidak beroperasi dulu. Limbah bau hanya satu dari sekian permasalahan yang mengganggu warga sekitar pabrik. Limbah cair yang dibuang juga terindikasi masih tercemar. Dia menyatakan air Sungai Pengkol yang menjadi saluran pembuangan limbah PT. RUM berwarna hijau, berbusa dan lebih deras dari kondisi normal. “Kami juga khawatir air sumur terkontaminasi limbah,” tandasnya.

Warga Pengkol lainnya Mulyono, mengatakan pertemuan yang digelar hari ini tidak memberikan solusi yang diinginkan warga. Artinya, belum ada solusi nyata untuk menjawab keresahan warga seperti halnya menghentikan operasional pabrik. Yang diinginkan warga hanya udara sehat bebas bau busuk.

Menurut Presiden Direktur PT.RUM Pramono, pihaknya terus melakukan perbaikan dalam system produksi. Diakuinya, bau yang menyebar berupa gas H2S saat proses pencucian material produksi. perusahaan mulai mendeteksi sumber bau dan berupaya memperbaiki. Sedangkan limbah cair tentunya dibuang setelah melalui proses pengolahan limbah.

Pihak kepolisian setempat melakukan pengamanan yang ketat sepanjang forum berlangsung. Bahkan back up dari TNI dan instansi samping juga dilakukan. Kapolres Sukoharjo, AKBP Iwan Saktiadi menegaskan pengamanan wilayah menjadi tanggung jawab kepolisian. Segala kegiatan akan difasilitasi oleh polisi agar tidak disusupi provokator. “Warga sudah ditawarkan melihat langsung ke dalam pabrik tapi menolak. Selanjutnya warga harus melakukan aksi secara procedural dan tetap kondusif,” pungkasnya. 

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-SiK

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar