Minggu, 22 April 2018

Imam Gay Satu-Satunya di Australia Berupaya Dirikan Masjid Ramah LGBTI

Rabu, 10 Januari 2018 08:40

(Courtesy: AustraliaPlus) Nur Warsame mengatakan, ia menerima panggilan minta tolong tiap harinya dari kaum LGBTI Muslim muda. (Courtesy: AustraliaPlus) Nur Warsame mengatakan, ia menerima panggilan minta tolong tiap harinya dari kaum LGBTI Muslim muda.
Ayo berbagi!

Imam Australia satu-satunya yang secara terbuka mengaku gay mengupayakan berdirinya masjid pertama yang menerima kaum LGBTI (lesbian gay biseksual transeksual interseksual) di negara itu. Rumah ibadah tersebut juga akan berfungsi sebagai rumah aman (safe house) dan pusat konseling.

Nur Warsame mengatakan bahwa ia berurusan dengan "gelombang kesengsaraan" di kalangan LGBTI Muslim yang tidak memiliki layanan pendukung atau tempat yang aman.

Imam Nur Warsame adalah seorang Muslim yang taat yang pernah memimpin salah satu masjid terbesar di Melbourne. Ketika ia mengaku sebagai gay pada tahun 2010, kepengurusan masjid memutuskan hubungan dengannya, meskipun ia memiliki kemampuan yang langka sebagai seorang hafiz - seseorang yang telah menghafal Alquran.

Sejak saat itu ia menjadi advokat yang semakin vokal menyuarakan hak-hak LGBTI Muslim, meski mendapat ancaman pembunuhan yang terus berlanjut.

Ia mengatakan bahwa dirinya mendapat bantuan harian dari kaum muda Muslim yang berjuang keras dan terkadang mendapat perlawanan keras dari keluarga mereka dan masyarakat sekitar.

"Salah satu hal terpenting yang dibutuhkan kaum muda kami adalah perumahan yang aman dan terjangkau. Agar anak muda dapat bertransisi dengan aman, mereka tak bisa berada di lingkungan yang menyebabkan mereka trauma," sebutnya.

"Saya menampung tujuh orang di apartemen satu kamar tidur saya ... karena ini adalah masalah hidup atau mati bagi mereka. Mereka harus meninggalkan rumah mereka pada hari itu dan saat itu juga," ujarnya.

Imam Nur Warsame saat ini sedang dalam pembicaraan dengan para dermawan dalam upaya untuk mendapatkan sebuah bangunan di dalam kota Melbourne. Ia telah bekerja sama dengan Kepolisian Victoria untuk memastikan masjid dan rumah aman berada di lokasi yang aman.

Ia mengatakan bahwa bangunan yang ingin dipindahkannya memiliki atap berbentuk "seperti kubah masjid".

"Di dalam, lingkaran itu terlihat seperti mihrab, tempat dimana Imam berdiri untuk sholat," tuturnya.

"Itu terpusat, itu sangat dekat dengan banyak layanan yang saya rekomendasikan ke orang: Klinik Pasar Prahran, yang merupakan pusat medis bagi orang-orang LGBT, rumah sakit begitu dekat, kantor polisi juga berada di ujung jalan.”

Nur Warsame di depan bangunan yang ingin ia rubah jadi masjid ramah gay.
Nur Warsame di depan bangunan yang ingin ia rubah jadi masjid ramah gay.

ABC News: Antoinette Lattouf

Berusaha mengeluarkan seseorang dari identitas gay

Sam Hawli, 27 tahun, mengaku ke ayahnya saat ia mengalami kecemasan.

"Ia berkata, 'Apakah kamu menggunakan narkoba? Aku bisa membantumu, mengapa kamu gemetar?' Saya berusaha menaruh kepercayaan kepadanya dan saya berkata kepadanya, 'Saya gay',” cerita Sam.

"Itulah awal dari sesuatu yang saya pikir tak akan pernah terjadi dalam hidup saya. Ia berhenti berbicara kepada saya hari itu dan saat itulah hidup saya berubah dengan cara yang sangat dramatis dan negatif."

Hawli mengatakan bahwa ia mengalami kekerasan berulang dan dikucilkan oleh anggota komunitas Muslim Sydney barat.

"Itu benar-benar periode hidup yang paling menyedihkan, saat Anda terluka secara fisik oleh keluarga Anda dan saat mereka mencoba mengeluarkan anda dari identitas gay."

Nurul Huda, presiden Muslim Sydney Queer, mengatakan sebagian besar anggota kelompok tersebut menjalani kehidupan ganda.

"Seorang anggota tertentu sangat ketakutan bahwa orang tuanya akan melacaknya dari cerita ini dan akan membunuhnya ... karena sebelumnya mereka pernah mencobanya," sebut Huda.

"Saya pernah melihat bekas luka di tubuhnya akibat aksi pemukulan. Apakah Anda mengatakan bahwa ia yang akan pergi ke neraka?."

Huda mengatakan, terlepas dari konflik dan perlawanan ini, banyak LGBTI Muslim yang masih setia terhadap iman mereka.

"Kami punya anggota yang sholat lima kali sehari, pergi sholat Jum'at dan bersiap untuk pergi ke haji, dan semua ini dilakukan dengan kegelisahan bahwa seseorang bisa menyergap mereka, mereka akan dipermalukan atau disalahkan di depan umum," katanya.

Sam Hawli mengatakan, ia dipukuli secara fisik setelah mengaku gay.
Sam Hawli mengatakan, ia dipukuli secara fisik setelah mengaku gay.

Instagram: @badddboyhussy

Desakan adanya pelatihan LGBTI untuk Imam

Tokoh masyarakat Kuranda Seyit yakin bahwa Imam konservatif memerlukan pelatihan tentang bagaimana menangani konflik dan kekerasan keluarga LGBTI.

"Pertama, sama sekali tak ada yang salah dengan berpegang teguh pada prinsip Anda. Sebagai seorang Muslim, agama saya mengajarkan kepada saya bahwa homoseksualitas tidak diperbolehkan dan kami mematuhinya," ujarnya.

"Jika seseorang mengancam untuk membunuh orang itu atau untuk mengalahkan mereka, itu sama buruknya.”

"Saya pikir Anda tidak bisa membenarkan dosa dengan dosa, kita hanya perlu bersikap lebih pragmatis dan berpikiran terbuka dalam cara kita menghadapi hal ini."

Seyit adalah mantan sekretaris Dewan Islam Victoria dan sekarang menjalankan saluran konseling Islam untuk Muslim ‘Islamicare’.

"Saya pikir komunitas Muslim harus mengambil semacam tanggung jawab, atau kepemimpinan, dan harus bertanggung jawab atas semua aspek masyarakat kami dan tidak mengabaikannya atau mengesampingkannya," kata Seyit.

"Ada sejumlah Imam yang kekurangan sumber daya atau kurang terampil untuk menangani masalah seperti ini, dan di sanalah kami bisa mendukung mereka dengan kursus konseling."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar