Selasa, 23 Oktober 2018 | 02:45 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Gerakan tanam cabai tekan harga dan kelangkaan

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2CXdUzh
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2CXdUzh
<p>Kenaikan harga cabai yang rutin terjadi tiap tahun di Indonesia dicermati masyarakat dengan melakukan penanaman cabai di setiap rumah memakai polibag, seperti yang dilakukan masyarakat Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember, Jawa Timur.</p><p>Dikatakan Ir. H. Nur Yasin, MT. MBA sebagai motivator ekonomi masyarakat, hal itu merupakan gerakan yang dilakukan agar masyarakat tidak berpengaruh saat terjadi kenaikan harga cabai, di mana terkadang kondisi itu menjadi kepanikan masyarakat. <br></p><p>Seperti dilaporkan <i> Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono</i>, Rabu (10/1), alumni ITB asal Jember itu menjelaskan, bantuan polibag dan bibit cabai kepada masyarakat beberapa desa di Lumajang dan Jember itu hanya stimulan dalam menggugah kesadaran agar masyarakat tidak panik saat harga cabai naik.</p><p>Gebrakan yang dilakukan Ir. H. Nur Yasin mendapatkan tanggapan positif dalam antisipasi kenaikan harga cabai yang terjadi setiap tahun menjelang hari raya dan tahun baru di Indonesia. Disikapi sebagian masyarakat khususnya ibu rumah tangga di Jawa Timur, seperti yang dilakukan sebagian warga di kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember dengan aksi penanaman cabai.</p><p>Kegiatan yang dianggap kurang menarik ini sebenarnya mempunyai dampak positif terhadap pengurangan impor komoditi pangan, guna mengatasi atau menanggulangi kenaikan harga cabai yang sering menjadi bagian masalah kerawanan hingga menjadi kepanikan pemerintah dan masyarakat secara nasional, setiap menjelang hari raya dan tahun baru.</p><p>Oleh karena itu, niat baik masyarakat Jawa Timur di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember tersebut disambut baik Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia (APT2PHI), Rahman Sabon Nama. Iameminta agar pemerintah provinsi perlu mendukung langkah yang dilakukan masyarakat itu menjadi gerakan ibu menanam cabai di halaman rumah, dalam rangka menjaga kelangkaan cabai dan stabilitas harga cabai.</p><p>Rahman yang juga menjabat Dewan Pakar HKTI pusat itu berharap agar setiap halaman rumah dapat dimanfaatkan untuk tanaman cabai. Menurutnya, bila mana hal itu terwujud menjadi suatu gerakan nasional maka diyakininya kelangkaan dan mahalnya harga cabai yang dikeluhkan ibu rumah tangga tidak harus terjadi.</p><p>"Lonjakan harga cabai kadang di luar nalar yang membingungkan karena kita negara agraris tetapi pemerintah terus mengeruk devisa hanya untuk mengimpor cabai dari China ,Taiwan dan Thailand yang segarusnya tidak perlu dilakukan," ujar Rahman Sabon Nama.</p><p><br></p><p><br></p><p> Penulis: Andi Juandi </p><p>Editor: Dewi Rusiana</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Dua Babinsa jajaran Kodim 0201/BS gerebek pesta narkoba

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:10 WIB

Kudus darurat TBC

Hukum | 22 Oktober 2018 - 21:59 WIB

SP RSIS desak PN Sukoharjo laksanakan eksekusi putusan MA

Sosbud | 22 Oktober 2018 - 21:48 WIB

Malinau gelar Irau dalam rangka HUT ke-19

Arestasi | 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

<p>Kenaikan harga cabai yang rutin terjadi tiap tahun di Indonesia dicermati masyarakat dengan melakukan penanaman cabai di setiap rumah memakai polibag, seperti yang dilakukan masyarakat Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember, Jawa Timur.</p><p>Dikatakan Ir. H. Nur Yasin, MT. MBA sebagai motivator ekonomi masyarakat, hal itu merupakan gerakan yang dilakukan agar masyarakat tidak berpengaruh saat terjadi kenaikan harga cabai, di mana terkadang kondisi itu menjadi kepanikan masyarakat. <br></p><p>Seperti dilaporkan <i> Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono</i>, Rabu (10/1), alumni ITB asal Jember itu menjelaskan, bantuan polibag dan bibit cabai kepada masyarakat beberapa desa di Lumajang dan Jember itu hanya stimulan dalam menggugah kesadaran agar masyarakat tidak panik saat harga cabai naik.</p><p>Gebrakan yang dilakukan Ir. H. Nur Yasin mendapatkan tanggapan positif dalam antisipasi kenaikan harga cabai yang terjadi setiap tahun menjelang hari raya dan tahun baru di Indonesia. Disikapi sebagian masyarakat khususnya ibu rumah tangga di Jawa Timur, seperti yang dilakukan sebagian warga di kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember dengan aksi penanaman cabai.</p><p>Kegiatan yang dianggap kurang menarik ini sebenarnya mempunyai dampak positif terhadap pengurangan impor komoditi pangan, guna mengatasi atau menanggulangi kenaikan harga cabai yang sering menjadi bagian masalah kerawanan hingga menjadi kepanikan pemerintah dan masyarakat secara nasional, setiap menjelang hari raya dan tahun baru.</p><p>Oleh karena itu, niat baik masyarakat Jawa Timur di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember tersebut disambut baik Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia (APT2PHI), Rahman Sabon Nama. Iameminta agar pemerintah provinsi perlu mendukung langkah yang dilakukan masyarakat itu menjadi gerakan ibu menanam cabai di halaman rumah, dalam rangka menjaga kelangkaan cabai dan stabilitas harga cabai.</p><p>Rahman yang juga menjabat Dewan Pakar HKTI pusat itu berharap agar setiap halaman rumah dapat dimanfaatkan untuk tanaman cabai. Menurutnya, bila mana hal itu terwujud menjadi suatu gerakan nasional maka diyakininya kelangkaan dan mahalnya harga cabai yang dikeluhkan ibu rumah tangga tidak harus terjadi.</p><p>"Lonjakan harga cabai kadang di luar nalar yang membingungkan karena kita negara agraris tetapi pemerintah terus mengeruk devisa hanya untuk mengimpor cabai dari China ,Taiwan dan Thailand yang segarusnya tidak perlu dilakukan," ujar Rahman Sabon Nama.</p><p><br></p><p><br></p><p> Penulis: Andi Juandi </p><p>Editor: Dewi Rusiana</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com