Sabtu, 15 Desember 2018 | 10:33 WIB

Daftar | Login

MacroAd

0 /

Waspadai hoax dan isu SARA di tahun politik, ini yang bisa dilakukan

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Dewi Rusiana    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2C1tUiq
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2C1tUiq
<p>Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai hoax atau berita palsu dan narasi kekerasan berbau SARA yang berseliweran pada tahun politik 2018 dan 2019.</p><p>Hal itu dikatakan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Dr Hendri Satrio di Jakarta, Selasa (9/1).</p><p>"Kuncinya adalah selektif dalam menilai setiap pesan yang beredar dan dewasa dalam menyikapi pesan yang beredar," kata Hendri. </p><p>Menurutnya, hoax dan narasi kekerasan itu sulit dihindari di tengah "booming" sosial media (sosmed) dan teknologi informasi. </p><p>Karena itu, lanjut Hendri, semua pihak harus benar-benar memiliki pengetahuan sebagai benteng untuk memberantas hoax dan narasi kekerasan tersebut.</p><p>"Memberantas hox itu sebetulnya mudah, cukup kita melakukan cek dan cek ulang terhadap setiap informasi yang janggal atau memiliki citra negatif. Bila hal ini terbiasa kita lakukan, hoax otomatis bisa kita diatasi," ujar Hendri.</p><p>Begitu juga dengan narasi kekerasan, kata Hendri, untuk meredamnya masyarakat harus mampu menahan diri dari pengaruh buruk media massa dan medsos. Setiap individu pemilik akun media sosial dituntut dewasa dalam mengelola pesan yang diterima maupun yang hendak disebarkan.</p><p>"Budaya instan tidak boleh digunakan pada era keterbukaan informasi. Semua informasi harus disaring dan ditelaah sebelum disimpulkan. Selain itu, kebiasaan menyebarkan atau meneruskan berita negatif atas dasar eksistensi atau biar eksis juga harus dihilangkan," katanya.</p><p>Menurut dia, ketegangan berbau SARA yang terjadi pada Pilkada DKI lalu harus benar-benar menjadi pelajaran dan hendaknya tidak terulang pada Pilkada serentak di 171 daerah tahun ini dan pada Pemilu Presiden tahun depan.</p><p>"Demokrasi memang masuk ke ranah baru, era medsos. Perdebatan di medsos dipersilakan selama menggunakan informasi yang benar dan tidak menggunakan isu SARA," kata pria yang juga aktif di Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) ini, dikutip <i>Antara</i>.</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 10:26 WIB

Dishub kerahkan 300 personel kawal pawai Persija

Hukum | 15 Desember 2018 - 10:15 WIB

Puspa Sumut tuntut RUU PKS segera disahkan

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:49 WIB

Pemkab Langkat raih penghargaan `Gerakan Menuju 100 Smart City`

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:37 WIB

Dansatgas TNI Konga tutup pelatihan CTC di Kongo

Aktual Dalam Negeri | 15 Desember 2018 - 09:25 WIB

Masalah kesejahteraan diduga jadi motif penembakan 31 pekerja di Papua

Pembangunan | 15 Desember 2018 - 09:13 WIB

Gubernur Jabar targetkan seluruh daerah terhubung jalan tol

<p>Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai hoax atau berita palsu dan narasi kekerasan berbau SARA yang berseliweran pada tahun politik 2018 dan 2019.</p><p>Hal itu dikatakan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Dr Hendri Satrio di Jakarta, Selasa (9/1).</p><p>"Kuncinya adalah selektif dalam menilai setiap pesan yang beredar dan dewasa dalam menyikapi pesan yang beredar," kata Hendri. </p><p>Menurutnya, hoax dan narasi kekerasan itu sulit dihindari di tengah "booming" sosial media (sosmed) dan teknologi informasi. </p><p>Karena itu, lanjut Hendri, semua pihak harus benar-benar memiliki pengetahuan sebagai benteng untuk memberantas hoax dan narasi kekerasan tersebut.</p><p>"Memberantas hox itu sebetulnya mudah, cukup kita melakukan cek dan cek ulang terhadap setiap informasi yang janggal atau memiliki citra negatif. Bila hal ini terbiasa kita lakukan, hoax otomatis bisa kita diatasi," ujar Hendri.</p><p>Begitu juga dengan narasi kekerasan, kata Hendri, untuk meredamnya masyarakat harus mampu menahan diri dari pengaruh buruk media massa dan medsos. Setiap individu pemilik akun media sosial dituntut dewasa dalam mengelola pesan yang diterima maupun yang hendak disebarkan.</p><p>"Budaya instan tidak boleh digunakan pada era keterbukaan informasi. Semua informasi harus disaring dan ditelaah sebelum disimpulkan. Selain itu, kebiasaan menyebarkan atau meneruskan berita negatif atas dasar eksistensi atau biar eksis juga harus dihilangkan," katanya.</p><p>Menurut dia, ketegangan berbau SARA yang terjadi pada Pilkada DKI lalu harus benar-benar menjadi pelajaran dan hendaknya tidak terulang pada Pilkada serentak di 171 daerah tahun ini dan pada Pemilu Presiden tahun depan.</p><p>"Demokrasi memang masuk ke ranah baru, era medsos. Perdebatan di medsos dipersilakan selama menggunakan informasi yang benar dan tidak menggunakan isu SARA," kata pria yang juga aktif di Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) ini, dikutip <i>Antara</i>.</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Jumat, 14 Desember 2018 - 17:56 WIB

Capres Jokowi dialog dengan pelaku usaha muda UKM

Kamis, 13 Desember 2018 - 10:51 WIB

KPK panggil Bupati Jepara terkait kasus suap

Rabu, 12 Desember 2018 - 06:25 WIB

Mantan diplomat Kanada dikabarkan ditahan di China

elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com