Selasa, 23 Oktober 2018 | 02:44 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Puluhan siswa belajar di kelas layaknya kandang

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2FnNG6E
Ilustrasi. Sumber foto: http://bit.ly/2FnNG6E
<p>Puluhan siswa sekolah dasar kelas jauh di Kecamatan Naringgul, Cianjur, Jawa Barat, terpaksa belajar di bangunan kelas layaknya kandang ayam karena sekolah induk yang jauh dari perkampungan.&nbsp;</p><p>Kondisi tersebut dialami sejak beberapa tahun yang lalu karena pihak sekolah tidak memiliki biaya untuk membangun gedung sekolah permanen. Sebagian besar siswa merupakan warga Kampung Taritih, Desa Melati itu, harus menjalani proses belajar mengajar di ruangan berlantai tanah merah, berdinding bambu.</p><p>Kepala Desa Melati, Ceceng Rusmawan saat dihubungi Rabu (10/1), mengatakan, bangunan kelas jauh tersebut hasil swadaya dari 200 kepala keluarga di wilayah tersebut, namun partisipasi warga baru mampu membuat tempat belajar untuk 21 siswa kelas 1.&nbsp;</p><p>"Kami ingin membantu membangun sarana yang layak untuk kelas jauh, tetapi terbentur dengan aturan yang ada kalau mengunakan dana desa. Harapan kami dinas terkait di Pemkab Cianjur, dapat membangun kelas permanen untuk keberlangsungan sekolah," katanya.</p><p>Selama ini, tambah dia, puluhan siswa sekolah harus berjalan kaki hingga 8 kilometer untuk sampai ke sekolah yang belum layak disebut sebagai ruang kelas itu. Meskipun banyak kendala, minat bersekolah siswa dan orang tua di wilayah tersebut cukup tinggi.</p><p>"Orang tua mendukung anak mereka untuk tetap bersekolah, meskipun lokasinya jauh dengan gedung tidak layak disebut kelas. Setiap tahun jumlah siswa kelas jauh SDN Datar Muncang, terus bertambah dan sudah layak mendapat kelas yang layak seperti di wilayah lain," katanya.</p><p>Sementara Anita (9) seorang siswi SDN Datar Muncang, mengatakan, untuk sampai ke sekolah induk, dia dan puluhan teman sekampungnya harus berjalan kaki hingga belasan kilometer dengan kondisi jalan yang rusak belum tersentuh pembangunan.</p><p>Dia berharap kelas jauh segera dibangun menjadi sekolah tetap, agar mereka tidak perlu lagi berjalan kaki kiloan meter untuk sampai ke sekolah induk setiap harinya. "Kami berharap punya sekolah sendiri, biar kami tidak jauh ke sekolah karena kelas jauh hanya untuk kelas satu," katanya.</p><p>Hal senada terucap dari orang tua siswa Empong (40) yang setiap hari harus mengantarkan anaknya ke sekolah mengunakan sepeda motor dengan kondisi jalan layaknya kubangan ketika hujan dan berdebu ketima musim kemarau.</p><p>"Harapan kami sekolah permanen dibangun untuk kelas 1 sampai kelas 6, agar anak-anak kami tidak perlu lagi ke sekolah induk yang jaraknya sangat jauh. Setiap tahun ada puluhan anak kelas satu yang masuk dan kelas lanjutan ke sekolah induk," katanya.(Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Dua Babinsa jajaran Kodim 0201/BS gerebek pesta narkoba

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:10 WIB

Kudus darurat TBC

Hukum | 22 Oktober 2018 - 21:59 WIB

SP RSIS desak PN Sukoharjo laksanakan eksekusi putusan MA

Sosbud | 22 Oktober 2018 - 21:48 WIB

Malinau gelar Irau dalam rangka HUT ke-19

Arestasi | 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

<p>Puluhan siswa sekolah dasar kelas jauh di Kecamatan Naringgul, Cianjur, Jawa Barat, terpaksa belajar di bangunan kelas layaknya kandang ayam karena sekolah induk yang jauh dari perkampungan.&nbsp;</p><p>Kondisi tersebut dialami sejak beberapa tahun yang lalu karena pihak sekolah tidak memiliki biaya untuk membangun gedung sekolah permanen. Sebagian besar siswa merupakan warga Kampung Taritih, Desa Melati itu, harus menjalani proses belajar mengajar di ruangan berlantai tanah merah, berdinding bambu.</p><p>Kepala Desa Melati, Ceceng Rusmawan saat dihubungi Rabu (10/1), mengatakan, bangunan kelas jauh tersebut hasil swadaya dari 200 kepala keluarga di wilayah tersebut, namun partisipasi warga baru mampu membuat tempat belajar untuk 21 siswa kelas 1.&nbsp;</p><p>"Kami ingin membantu membangun sarana yang layak untuk kelas jauh, tetapi terbentur dengan aturan yang ada kalau mengunakan dana desa. Harapan kami dinas terkait di Pemkab Cianjur, dapat membangun kelas permanen untuk keberlangsungan sekolah," katanya.</p><p>Selama ini, tambah dia, puluhan siswa sekolah harus berjalan kaki hingga 8 kilometer untuk sampai ke sekolah yang belum layak disebut sebagai ruang kelas itu. Meskipun banyak kendala, minat bersekolah siswa dan orang tua di wilayah tersebut cukup tinggi.</p><p>"Orang tua mendukung anak mereka untuk tetap bersekolah, meskipun lokasinya jauh dengan gedung tidak layak disebut kelas. Setiap tahun jumlah siswa kelas jauh SDN Datar Muncang, terus bertambah dan sudah layak mendapat kelas yang layak seperti di wilayah lain," katanya.</p><p>Sementara Anita (9) seorang siswi SDN Datar Muncang, mengatakan, untuk sampai ke sekolah induk, dia dan puluhan teman sekampungnya harus berjalan kaki hingga belasan kilometer dengan kondisi jalan yang rusak belum tersentuh pembangunan.</p><p>Dia berharap kelas jauh segera dibangun menjadi sekolah tetap, agar mereka tidak perlu lagi berjalan kaki kiloan meter untuk sampai ke sekolah induk setiap harinya. "Kami berharap punya sekolah sendiri, biar kami tidak jauh ke sekolah karena kelas jauh hanya untuk kelas satu," katanya.</p><p>Hal senada terucap dari orang tua siswa Empong (40) yang setiap hari harus mengantarkan anaknya ke sekolah mengunakan sepeda motor dengan kondisi jalan layaknya kubangan ketika hujan dan berdebu ketima musim kemarau.</p><p>"Harapan kami sekolah permanen dibangun untuk kelas 1 sampai kelas 6, agar anak-anak kami tidak perlu lagi ke sekolah induk yang jaraknya sangat jauh. Setiap tahun ada puluhan anak kelas satu yang masuk dan kelas lanjutan ke sekolah induk," katanya.(Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com