Kamis, 19 Juli 2018 | 09:15 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

/

CBA: Waspadai Pilkada Serentak 2018 ajang pesta duit parpol

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Sumber foto: Effendi Murdiono/Radio Elshinta
Sumber foto: Effendi Murdiono/Radio Elshinta
<p>Pilkada serentak 2018 sebagai pesta demokrasi terakbar pertama sepanjang sejarah bangsa ini berdiri. 171 daerah akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara bersamaan, dilangsungkannya pilkada serentak ini sebagai upaya pemerintah untuk memangkas biaya pemilu dari segi waktu agar lebih efektif dan dari segi anggaran lebih efisien.</p><p>Koordinator Investigasi Center For Badjet Anlysis (CBA), Jajang Nurjaman Duriat kepada&nbsp;Kontributor Elshinta, Effendi Murdiono,&nbsp;Kamis (11/1) mengatakan, Pilkada Serentak 2018 ada catatan penting yang harus menjadi perhatian bersama, yakni masih besarnya potensi politik uang.</p><p>Berdasarkan dari pengalaman pilkada sebelumnya, pesta demokrasi juga lebih dimaknai seperti ajang pesta-pora partai politik "Pesta duit".</p><p>"Hal ini dapat dilihat dari mulai proses bakal calon melakukan sosialisasi kepada masyarakat, sampai mendapatkan rekomendasi dari parpol, dan terakhir maju sebagai calon kepala daerah. Alur proses tersebut membutuhkan biaya uang yang fantastis," Katanya.</p><p>Perhelatan lima tahunan itu sudah menjadi rahasia umum, saat masing-masing bakal calon berlomba-lomba mendapatkan rekomendasi dari parpol saat itulah diduga transaksi uang mulai dan banyak bermain. Besaran biaya yang harus dikeluarkan paslon di tingkat kabupaten dan kota saja rata-rata bisa menghabiskan biaya 20-40 miliar rupiah.</p><p>Uang puluhan miliar tersebut untuk mebiayai dana operasional terkait sosialisasi kepada kemasyarakat saat mulai dari bakal calon sampai mendapatkan rekomendasi, dan terakhir maju sebagai pasangan calon. Contohnya untuk biaya survei, biaya makan dan minum, transportasi, cindera mata, pengumpulan KTP, sampai bantuan kepada warga seperti pembangunan rumah ibadah dan lain sebagainya, terakhir tentunya biaya mahar kepada masing-masing parpol pengusung.</p><p>"Untuk tingkat provinsi modal dananya jauh lebih besar lagi, paling sedikit Rp100 miliar yang bisa dihabiskan pasangan calon gubernur, sedangkan untuk wilayah dengan jumlah pemilih besar seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah jumlahnya bisa berkali-kali lipat," tuturnya.</p><p>Jajang membeberkan persoalan ini jika melihat alurnya, seharusnya pihak berwenang khususnya satgas anti politik uang sudah bergerak jauh-jauh hari, akan sangat terlambat jika satgas anti politik uang baru bergerak dan serius menjelang 2018, karena dugaan politik uang yang dilakukan parpol dan paslon serta pihak yang berkepentingan lainnya bisa jadi sudah selesai sejak lama, tanpa terendus pihak berwenang.</p><p>"Setidaknya pihak berwenang seperti Polri dan KPK khususnya satgas anti politik uang bisa mengawasi pos-pos APBD yang rawan disalahgunakan, seperti dana hibah dan bansos, karena besar kemungkinan salah satu sumber biaya politik yang digunakan berasal dari uang rakyat yakni APBD," keluhnya.</p><p><br></p><p><br></p><p>Penulis: Angga Kusuma.</p><p>Editor: Sigit Kurniawan.&nbsp;</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Asia Pasific | 19 Juli 2018 - 08:57 WIB

Iran akan percanggih sekitar 800 tank

Hankam | 19 Juli 2018 - 08:46 WIB

BNPT: Sekarang teroris bisa sasar apa dan siapa saja

Aktual Dalam Negeri | 19 Juli 2018 - 08:35 WIB

Jamaah calon haji Pekanbaru kedapatan membawa benda tajam

Pemilihan Presiden 2019 | 19 Juli 2018 - 08:27 WIB

Pengamat: Prabowo harus berhati-hati tentukan cawapres

Aktual Dalam Negeri | 19 Juli 2018 - 08:14 WIB

Boediono dan Todung dihadirkan dalam sidang Syafruddin Temenggung

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com