Selasa, 24 April 2018

Beijing Bantah Tuduhan Australia Soal Bantuan di Pasifik

Kamis, 11 Januari 2018 15:23

(Courtesy: AustraliaPlus) Sejumlah peralatan konstruksi yang diberikan China untuk membantu rehabilitasi di kota Marawi, Filipina. (Courtesy: AustraliaPlus) Sejumlah peralatan konstruksi yang diberikan China untuk membantu rehabilitasi di kota Marawi, Filipina.
Ayo berbagi!

Ketegangan hubungan diplomatik Australia dan China kembali terjadi, setelah Beijing mengeluarkan protes secara resmi atas ucapan serangan yang dilakukan salah satu menteri Australia soal program bantuan China di kepulauan Pasifik.

Hari Rabu (10/01), Menteri Pembangunan Internasional, Concetta Fierravanti-Wells mencibir bantuan China di Pasifik yang jumlahnya terus meningkat, dengan menuduhnya mendanai "jalan-jalan yang tak jelas" dan "bangunan yang tidak berguna".

Pejabat Australia sudah memantau langkah China di wilayah Pasifik secara seksama, dan mengatakan China telah memberikan pinjaman lunak dan bantuan untuk meningkatkan pengaruhnya di Pasifik.

Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang menyebut komentar Menteri Australia tersebut "tidak lain hanyalah ucapan tak bertanggung jawab" dan mengatakan bahwa mereka menunjukkan "kurang memperhatikan fakta-fakta".

Seorang perempuan berfoto dengan latar belakang bendera Australia
Senator Concetta Fierravanti-Wells yang juga menteri pembangunan internasional khawatir pengaruh China di Pasifik.

AAP: Lukas Coch

"Bantuan yang diberikan oleh China telah secara signifikan memicu perkembangan ekonomi dan sosial negara-negara ini dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat setempat, yang juga disambut hangat oleh pemerintah dan masyarakatnya," katanya.

"Kami berharap orang-orang tertentu di Australia merefleksikan diri, daripada menyalahkan orang lain dan membuat ucapan tidak bertanggung jawab terhadap negara lain."

Menteri Kang mengatakan China telah "mengirimkan perwakilannya" kepada Pemerintah Australia mengenai masalah ini.

Beberapa analis terkejut Menteri Fierravanti-Wells menggunakan bahasa yang kasar untuk mengkritik China.

Namun komentarnya mencerminkan adanya kegelisahan di Canberra soal negara-negara Pasifik yang semakin dekat ke Beijing.

Pihak Australia mengatakan beberapa negara di kepulauan Pasifik mengambil hutang yang tidak terjangkau. Mereka khawatir Beijing menyebarkan pengaruh dengan mendanai proyek-proyek yang secara langsung menyalurkan uang kepada pemimpin politik.

"Kami hanya tidak ingin membangun jalan yang tak ada tujuannya," ujar Menteri Fierravanti-Wells yang juga Senator di parlemen Australia.

"Kami ingin memastikan infrastruktur yang mereka bangun benar-benar produktif dan benar-benar akan memberikan keuntungan ekonomi atau manfaat kesehatan."

Lembaga riset Lowy Institute memperkirakan China telah menyumbangkan lebih dari $2,3 miliar, senilai lebih dari Rp 23 triliun, kepada Pasifik sejak tahun 2006.

Tahun lalu Pemerintahan Koalisi Australia mengatakan akan menghabiskan lebih dari $100 juta, senilai lebih dari Rp 1 triliun, untuk membantu negara Papua Nugini menjadi tuan rumah pertemuan APEC, karena pemerintah khawatir China akan membantu jika Australia tidak melakukannya.

Juru bicara urusan luar negeri dari pihak oposisi Australia, Senator Penny Wong mengatakan pemotongan bantuan yang dilakukan pemerintah Australia telah merusak reputasi Australia di wilayah Pasifik, dan China masuk untuk mengisi kekurangan tersebut.

Ketegangan antara Canberra dan Beijing telah meningkat di beberapa bidang dalam beberapa bulan terakhir.

Di bulan Desember 2017, China mengecam Australia setelah Pemerintah Federal mengumumkan undang-undang baru yang dirancang untuk menindak campur tangan asing.

Anda bisa menonton video penjelasan upaya China menghidupkan kembali Jalur Sutra, lewat proyek "One Belt, One Road" lewat tautan berikut.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar