Sabtu, 21 Juli 2018 | 01:37 WIB

Daftar | Login

banner kuping banner kuping
Macro Ad

/

Ditemukan terowongan diduga peninggalan Kerajaan Pajang

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Angga Kusuma    |    Editor : Administrator
Sumber foto: Deni Suryanti/Radio Elshinta
Sumber foto: Deni Suryanti/Radio Elshinta
<p>Terowongan diduga peninggalan zaman Kerajaan Pajang terbengkalai di Desa Siwal, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Namun demikian, terowongan ini masih bisa difungsikan, hanya saja bagian akses keluar masuk tertutup lumpur sawah. Panjang terowongan ini diperkirakan antara 5-10 kilometer, tembus ke komplek bekas Keraton Pajang.</p><p>Sekretaris Desa Siwal, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Yusuf Efendi menyebutkan, terowongan yang biasa disebut warga sebagai Terowongan Robos ini sudah ada sejak lama. Berada dibawah lahan pertanian di Dusun Siwal, Desa Siwal, Baki, Sukoharjo. Akses keluar masuk tepat di tepi sungai desa, beberapa warga pernah mencoba menelusui terowongan tetapi belum pernah berhasil selesai sampai akses seberang, sehingga belum pernah ada yang membuktikan ujung ke ujung dari terowongan tersebut.&nbsp;</p><p>"Kalau dilihat dari luar kan struktur akses masuknya nampak berupa tanah keras atau padas," terangnya, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Deni Suryanti, Kamis (11/1).</p><p>Menurut dia, keberadaan terowongan ini tidak lepas dari lokasi bekas Keraton Pajang di Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, sehingga ada kemungkinan menjadi salah satu situs bersejarah terkait dengan Kerajaan Pajang. Pihaknya berharap pihak terkait turun meneliti kemungkinan terdapat unsur historis dari terowongan tersebut, karena selain terowongon petilasan berupa sumber air dan juga arca sapi berukuran cukup besar ditemukan di Desa Siwal.&nbsp;</p><p>"Dengan potensi wisata sejarah yang dimiliki, Siwal bisa berkembang menjadi desa wisata sejarah," imbuhnya.</p><p>Salah satu warga, Sri Lestari menambahkan, Terowongan Robos tidak mengalami perubahan sejak dulu, tetapi karena berada di lahan persawahan dan tepi sungai, akses tertutup lumpur, hanya menyisakan rongga kecil yang cukup dimasuki orang dengan merayap atau posisi duduk. Selama ini belum ada upaya membuka dan membuktikan kondisi dalam terowongan, selain mitos angker, warga setempat yang ingin masuk terowongan juga khawatir adanya binatang berbahaya seperti ular bersarang di dalam terowongan.&nbsp;</p><p>"Yang paling sering muncul disekitar lokasi terowongan ya ular dengan ukuran besar," tandasnya.</p><p><br></p><p><br></p><p>Penulis: Angga Kusuma.</p><p>Editor: Sigit Kurniawan.&nbsp;</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pileg 2019 | 20 Juli 2018 - 21:30 WIB

PKB: Menteri jadi caleg tidak ganggu kinerja kementerian

Sosbud | 20 Juli 2018 - 21:19 WIB

KPPPA: Anak cermin keberhasilan-kegagalan orang tua

Aktual Dalam Negeri | 20 Juli 2018 - 21:07 WIB

Kemenhub targetkan aturan angkutan online berlaku September

Pembangunan | 20 Juli 2018 - 20:44 WIB

Angkasa Pura tegaskan Terminal 4 Soetta bukan untuk LCC

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com