Selasa, 23 Oktober 2018 | 04:56 WIB

Daftar | Login

MacroAd

/

Bali ekspor ikan sebagian besar tujuan Jepang

Senin, 00 0000 - 00:00 WIB    |    Penulis : Andi Juandi    |    Editor : Administrator
Ilustrasi. Sumber Foto:  http://bit.ly/2EEi9w1
Ilustrasi. Sumber Foto: http://bit.ly/2EEi9w1
<p>Pasaran Jepang menyerap paling banyak komoditas ikan dan udang dari Bali yakni mencapai 21,35 persen dari total pengapalan matadangan tersebut sebesar 14,46 juta dolar AS selama bulan November 2017.</p><p> "Hasil tangkapan nelayan dan perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan kapal-kapal besar mangkal di Pelabuhan Benoa itu, produksinya menembus berbagai negara di belahan dunia, setelah Jepang menyusul Amerika Serikat yang menampung 18,91 persen," kata Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Sabtu (13/1).</p><p> Ia mengatakan, ikan dan udang dari Bali itu juga diminati pasaran Australia yang menampung 8,41 persen, Singapura 5,65 persen, Thailand 3,25 persen, China 1,81 persen, Taiwan 1,24 persen, Hong Kong 2,35 persen, Vietnam 6,87 persen dan Jerman 2,54 persen.</p><p> Sisanya sebanyak 27,63 persen menembus berbagai negara lainnya di belahan dunia, karena ikan dan udang dari Bali sangat diminati konsumen mancanegara.</p><p> Adi Nugroho menambahkan, Bali mengekspor ikan dan udang ke pasaran luar negeri senilai 14,46 juta dolar AS selama bulan November 2017, meningkat 1,34 juta dolar AS atau 10,98 persen dibanding bulan sebelumnya (Oktober 2017) yang tercatat 13,118 juta dolar AS.</p><p> "Namun dibanding dengan bulan yang sama tahun sebelumnya juga meningkat sebesar 2,64 juta dolar AS atau 22,43 persen, karena November 2016 pengapalan ikan dan udang itu hanya menghasilkan devisa sebesar 11,81 juta dolar AS," kata Adi Nugroho.</p><p> Ia mengatakan, komoditas ikan dan udang itu mampu memberikan kontribusi sebesar 31,51 persen dari total nilai ekspor Bali yang mencapai 45,90 juta dolar AS selama bulan November 2017, menurun 1,79 juta dolar AS atau 3,76 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 47,60 juta dolar AS.</p><p> Namun dibanding dengan bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat sebesar 1,67 juta dolar AS atau 3,84 persen, karena pengapalan ikan dan udang pada bulan November 2016 menghasilkan devisa sebesar 44,20 juta dolar AS.</p><p> Ikan dan udang merupakan salah satu dari lima komoditas utama ekspor Bali yang memberikan andil terbesar yakni 31,51 persen, menyusul produk perhiasan (permata) 15,94 persen, pakaian jadi bukan rajutan 11,17 persen, produk kayu, barang dari kayu 9,02 persen serta produk perabot, penerangan rumah 5,75 persen.</p><p> Adi Nugroho menjelaskan, meskipun nilai ekspor ikan dan udang dari Bali itu cukup besar, namun perannya terhadap pembentukan nilai tukar petani (NTP) menurun sebesar 0,27 persen dari 104,81 persen pada Oktober 2017 menjadi 104,53 persen pada November 2017.</p><p> Indeks harga dari hasil produksi yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen dan indeks yang dibayar petani (lb) tercatat mengalami kenaikan yang lebih besar yakni 0,75 persen. Kenaikan indeks yang diterima petani disebabkan oleh naiknya harga komoditas perikanan yakni kelompok perikanan tangkap 0,64 persen dan perikanan budidaya 0,15 peran.</p><p> Beberapa komoditas perikanan yang mengalami kenaikan harga antara lain cumi-cumi, ikan cakalang, lemuru, lele dan ikan tongkol, ujar Adi Nugroho. (Ant)</p>
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:22 WIB

Dua Babinsa jajaran Kodim 0201/BS gerebek pesta narkoba

Aktual Dalam Negeri | 22 Oktober 2018 - 22:10 WIB

Kudus darurat TBC

Hukum | 22 Oktober 2018 - 21:59 WIB

SP RSIS desak PN Sukoharjo laksanakan eksekusi putusan MA

Sosbud | 22 Oktober 2018 - 21:48 WIB

Malinau gelar Irau dalam rangka HUT ke-19

Arestasi | 22 Oktober 2018 - 21:25 WIB

Polisi bekuk pembunuh wanita tanpa busana di Binjai

<p>Pasaran Jepang menyerap paling banyak komoditas ikan dan udang dari Bali yakni mencapai 21,35 persen dari total pengapalan matadangan tersebut sebesar 14,46 juta dolar AS selama bulan November 2017.</p><p> "Hasil tangkapan nelayan dan perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan kapal-kapal besar mangkal di Pelabuhan Benoa itu, produksinya menembus berbagai negara di belahan dunia, setelah Jepang menyusul Amerika Serikat yang menampung 18,91 persen," kata Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Sabtu (13/1).</p><p> Ia mengatakan, ikan dan udang dari Bali itu juga diminati pasaran Australia yang menampung 8,41 persen, Singapura 5,65 persen, Thailand 3,25 persen, China 1,81 persen, Taiwan 1,24 persen, Hong Kong 2,35 persen, Vietnam 6,87 persen dan Jerman 2,54 persen.</p><p> Sisanya sebanyak 27,63 persen menembus berbagai negara lainnya di belahan dunia, karena ikan dan udang dari Bali sangat diminati konsumen mancanegara.</p><p> Adi Nugroho menambahkan, Bali mengekspor ikan dan udang ke pasaran luar negeri senilai 14,46 juta dolar AS selama bulan November 2017, meningkat 1,34 juta dolar AS atau 10,98 persen dibanding bulan sebelumnya (Oktober 2017) yang tercatat 13,118 juta dolar AS.</p><p> "Namun dibanding dengan bulan yang sama tahun sebelumnya juga meningkat sebesar 2,64 juta dolar AS atau 22,43 persen, karena November 2016 pengapalan ikan dan udang itu hanya menghasilkan devisa sebesar 11,81 juta dolar AS," kata Adi Nugroho.</p><p> Ia mengatakan, komoditas ikan dan udang itu mampu memberikan kontribusi sebesar 31,51 persen dari total nilai ekspor Bali yang mencapai 45,90 juta dolar AS selama bulan November 2017, menurun 1,79 juta dolar AS atau 3,76 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 47,60 juta dolar AS.</p><p> Namun dibanding dengan bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat sebesar 1,67 juta dolar AS atau 3,84 persen, karena pengapalan ikan dan udang pada bulan November 2016 menghasilkan devisa sebesar 44,20 juta dolar AS.</p><p> Ikan dan udang merupakan salah satu dari lima komoditas utama ekspor Bali yang memberikan andil terbesar yakni 31,51 persen, menyusul produk perhiasan (permata) 15,94 persen, pakaian jadi bukan rajutan 11,17 persen, produk kayu, barang dari kayu 9,02 persen serta produk perabot, penerangan rumah 5,75 persen.</p><p> Adi Nugroho menjelaskan, meskipun nilai ekspor ikan dan udang dari Bali itu cukup besar, namun perannya terhadap pembentukan nilai tukar petani (NTP) menurun sebesar 0,27 persen dari 104,81 persen pada Oktober 2017 menjadi 104,53 persen pada November 2017.</p><p> Indeks harga dari hasil produksi yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen dan indeks yang dibayar petani (lb) tercatat mengalami kenaikan yang lebih besar yakni 0,75 persen. Kenaikan indeks yang diterima petani disebabkan oleh naiknya harga komoditas perikanan yakni kelompok perikanan tangkap 0,64 persen dan perikanan budidaya 0,15 peran.</p><p> Beberapa komoditas perikanan yang mengalami kenaikan harga antara lain cumi-cumi, ikan cakalang, lemuru, lele dan ikan tongkol, ujar Adi Nugroho. (Ant)</p>

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
loading...
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com