Selasa, 20 Februari 2018

Kejaksaan Tinggi New York menuntut Harvey Weinstein dan perusahaannya

Senin, 12 Februari 2018 15:08

Harvey Weinstein. Sumber foto: http://bit.ly/2o1bZiP Harvey Weinstein. Sumber foto: http://bit.ly/2o1bZiP
Ayo berbagi!

Dengan tuduhan bahwa rumah produksi terkenal itu telah melanggar hak sipil dan hak asasi manusia serta sejumlah aturan perdagangan setempat, kejaksaan tinggi negara bagian New York telah menuntut produser film Harvey Weinstein serta saudaranya Bob dan perusahaannya.

Tuntutan yang berkasnya dikirim pada hari Minggu (11/02) ke pengadilan tinggi New York menuduh Weinstein telah “bertahun-tahun menciptakan iklim kerja yang tidak bersahabat berdasarkan perbedaan gender, suatu pola timbal-balik bersifat pelecehan seksual dan penyalahgunaan sumber daya bisnis untuk tujuan melawan hukum dari sekitar tahun 2005 hingga setidaknya bulan Oktober 2017,” demikian dilansir The Guardian.

Tuntutan ini terjadi setelah berjalannya penyelidikan selama empat bulan dan menjelang rencana penjualan perusahaan itu senilai USD 500 juta (sekitar Rp. 6.8 trilyun).

Weinstein tengah menghadapi empat tuntutan terpisah terkait pelecehan seksual yang dituduhkan padanya dalam beberapa waktu ini, yang semuanya ditolak mentah-mentah olehnya.

Secara garis besar, berkas tuntutan menjelaskan dua modus yang dijalankan produsen film terkenal itu: pertama sebagai Direktur Utama dari rumah produksi Weinsten Company, dia “secara berulang-ulang melecehkan secara seksual sejumlah karyawati perempuan dengan menciptakan lingkungan kerja tidak bersahabat dan dengan menuntut para perempuan untuk mengikuti permintaannya atas tindakan seksual dengan iming-iming dapat tetap bekerja atau mendapat peningkatan karier,” demikian sebagian isi dari berkas itu.

Kedua, Weinstein berulang-ulang menyalahgunakan jabatannya, memanfaatkan karyawati dan sumber daya lainnya untuk melayani hasratnya dalam mencari mangsa untuk berhubungan seks dengan perempuan yang hendak mencari pekerjaan di perusahaan yang dikelolanya.

Kepala kejaksaan tinggi New York, Erik Schneiderman menyatakan, “The Weinstein Company berulang-ulang melanggar hukum New York dengan lalai melindungi karyawannya dari pelecehan seksual, intimidasi dan diskriminasi.”

Menurut Schneiderman, penjualan perusahaan tersebut wajib memastikan adanya kompensasi yang memadai bagi korban, dan perlindungan yang cukup bagi karyawan ke depannya. Dalam tuntutannya, pihak kejaksaan New York juga menuduh bahwa perusahaan itu, atas arahan Weinstein mempekerjakan sejumlah karyawati dengan tugas khusus menemani Weinstein dalam acara-acara bisnis dan memfasilitasi atasannya mendapatkan layanan seks dari perempuan-perempuan yang dijumpai dalam acara-acara tersebut.

Satu kelompok perempuan ini khusus diterbangkan dari London atau New York untuk mengajar asisten-asisten yang bekerja supaya dapat lebih menarik di mata Weinstein. Sementara kelompok lainnya diberdayakan untuk “mengambil langkah-langkah dalam memastikan adanya aktivitas seks rutin bagi Weinstein, termasuk menghubungi sejumlah teman-temannya, dan pihak lain, serta mengosongkan jadwal kalendernya” demikian isi tuntutan itu.

Kelompok ketiga mengaku dipaksa oleh Weinstein untuk memfasilitasi para korban Weinstein dan menindaklanjuti janji-janjinya untuk pekerjaan bagi korbannya yang berkenan di mata Weinstein itu. Paksaan ini, menurut tuntutan, “merendahkan dan memalukan mereka, dan berkontribusi pada lingkungan kerja yang tidak bersahabat,” demikian bunyinya.

Tuntutan ini menduga Weinstein, “Kerap kali membidik model-odel yang sedang naik daun, sejumlah artis, dan penghibur lain menjadi mangsanya, dengan menggunakan jaringan yang dimiliki perusahaan dan kesempatan lainnya dalam industri hiburan yang disediakan oleh karyawati Weinstein, di bawah arahannya, sebagai cara memperalat para korban dengan imbalan hubungan seks.”

Sementara pengacara Weinstein, Benjamin Brafman menolak tuntutan kejaksaan tinggi New York ini.

“Kami yakin bahwa sebuah penyelidikan berimbang oleh Schneiderman akan membuktikan bahwa sejumlah tuduhan kepada Harvey Weinstein tidak berdasar,” katanya.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-Ma

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar