Kamis, 22 Februari 2018

Trump peringatkan Israel: Permukiman Yahudi memperumit perdamaian dengan Palestina

Senin, 12 Februari 2018 18:00

BBC Indonesia BBC Indonesia
Ayo berbagi!

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai permukiman Yahudi yang dibangun Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur berpotensi mempersulit proses perdamaian negara itu dengan Palestina.

Trump mendesak Israel untuk bersikap 'seksama' soal pemukiman.

Kepada surat kabar konservatif Israel, Yisrael Hayom, ia mengaku tidak yakin, baik Palestina maupun Israel siap memulai perdamaian.

Pernyataan Trump itu dimuat dalam Yisrael Hayom edisi Ahad kemarin, setelah Desember lalu ia memicu kemarahan Palestina karena kebijakan AS menyebut Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Presiden ke-45 AS itu mengancam membekukan bantuan kemanusiaan jika Palestina menolak perundingan damai dengan Israel.

Ketika Pemimpin Redaksi Yisrael Hayom, Boaz Bismouth, menanyakan rencana AS mengeluarkan skema perdamaian AS-Palestina, Trump berkata, "Kami terus memantau perkembangan yang terjadi."

"Saat ini masyarakat Palestina belum ingin berdamai, mereka belum menuju ke arah itu," ujar Trump.

"Sementara Israel, saya pun tidak yakin mereka tertarik menggelar perdamaian. Jadi AS akan menunggu sembari melihat yang akan terjadi," tambahnya.

Ketika ditanya apakah AS menyertakan pemukiman Israel dalam rencana perdamaian itu, Trump berkata, "Kami akan terus membicarakannya."

"Pemukiman penduduk itu sangat dan akan terus memperkusut proses perdamaian. Jadi saya menilai Israel harus sangat berhati-hati dengan program pemukiman," ucapnya.

Selama ini preside Trump justru dianggap mendukung program permukiman Israel. Beberapa saat setelah terpilih, namun belum dilantik, ia mengecam pemerintah Obama yang bersikap abstain dalam resolusi PBB yang mengecam pembangunan pemukiman Israel.

Lebih dari 600.000 orang tinggal di sekitar 140 permukiman yang dibangun sejak pendudukan Israel atas Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada tahun 1967.

Merujuk hukum internasional, program pembangunan desa dan rumah-rumah itu ilegal, walaupun Israel menyangkalnya.

Dalam wawancara itu, Trump menyebut pengakuan AS terhadap Yerusalem Timur sebagai ibu kota Israel merupakan hal paling menonjol selama satu tahun pertama pemerintahannya.

"Saya kira Yerusalem adalah hal besar dan penting," ujarnya.

"Memiliki ibu kota sekaliber Yerusalem merupakan ihwal yang sangat esensial bagi banyak orang. Pengakuan itu adalah ikrar sangat strategis yang saya buat dan saya telah memenuhinya," tutur Trump.

Israel mengklaim seluruh Yerusalem sebagai ibu kota mereka. Padahal Palestina berencana menjadikan Yerusalem Timur, wilayah kota yang diduduki Israel dalam Perang Timur Tengah tahun 1967 itu sebagai ibu kota negara mereka.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyatakan tidak akan lagi menerima AS sebagai mediator perdamaian negaranya dengan Israel, karena pengakuan mereka terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Januari lalu, PBB menyinggung kebijakan AS menunda pencairan lebih dari setengah bantuan kemanusiaan untuk UNRWA, lembaga di bawah PBB yang menangani pengungsi Palestina.

Pemerintah AS menyebut akan menyerahkan dana sebesar US$60 juta atau Rp817 miliar yang sudah mereka anggarkan untuk UNRWA.

Meski demikian, AS menyatakan masih menahan dana senilai US$65 juta Rp884 miliar yang baru akan mereka cairkan jika UNRWA melakukan 'reformasi'.

Ikuti Twitter @ElshintaDotCom untuk mendapatkan seluruh Informasi terbaru dari Elshinta.
REDAKSI-MiE

Mari Berbagi berita ini!

Info dari Anda

Komentar